- Home
-
- Megapolitan
-
- Wagub Rano Karno Dorong Bu...
Wagub Rano Karno Dorong Budaya dan Industri Film Jakarta Tembus Pasar Global
Rabu, 14 Okt 2026, 17:50 WIBJAKARTA - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat identitas budaya dan ekosistem ekonomi kreatif untuk mendorong Jakarta menjadi kota global. Upaya tersebut tidak hanya diarahkan pada peningkatan daya saing internasional, tetapi juga pelestarian warisan budaya serta pengembangan karya lokal agar mampu bersaing di tingkat dunia.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Indonesia Knowledge Forum XVâ2026 bertema "The Next Playbook: Create Clarity, Think Precisely, Act Decisively" di The Kasablanka Hall, Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Rabu (14/10). Dalam forum tersebut, ia menekankan pentingnya kepemimpinan yang mampu menerjemahkan visi pembangunan menjadi tindakan nyata dan berdampak bagi masa depan kota.
"Bagi saya, visi Jakarta yang mendunia bukan hanya Jakarta yang dikenal oleh dunia, tetapi Jakarta yang mampu membawa identitas kebudayaan dan kontribusi yang membuatnya diperhitungkan di panggung dunia," ujar Rano.
Menurut Rano, pemimpin kota perlu memiliki kemampuan membaca perubahan, mengenali potensi, dan menentukan arah pembangunan yang berorientasi jangka panjang. Pendekatan tersebut dinilai penting agar Jakarta tidak hanya merespons kebutuhan saat ini, tetapi juga mampu memanfaatkan peluang di tengah persaingan global.
Berdasarkan Global Cities Index 2026 yang dirilis Oxford Economics, Jakarta menempati peringkat ke-140 dari 1.000 kota di dunia. Posisi tersebut menjadi modal sekaligus tantangan bagi Pemprov DKI Jakarta untuk terus memperkuat daya saing dan meningkatkan kontribusi kota di tingkat internasional.
Menjelang usia 500 tahun pada 2027, Pemprov DKI Jakarta berupaya menjaga keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian karakter sejarah kota. Sejumlah langkah dilakukan melalui revitalisasi kawasan Kota Tua dan Pasar Baru, serta pengembangan Blok M dan Setu Babakan sebagai kawasan yang memiliki karakter dan pengalaman berbeda bagi masyarakat.
"Kita ingin budaya tidak hanya hadir dalam perayaan, tetapi tumbuh melalui ruang kesenian, karya para seniman, dan kreativitas generasi muda. Kita ingin warisan masa lalu tidak sekadar dikenang, tetapi menjadi kekuatan untuk masa depan," tutur Rano.
Ia menegaskan, penguatan identitas budaya perlu berjalan beriringan dengan pengembangan ekosistem kesenian dan ekonomi kreatif. Jakarta dinilai memiliki modal melalui keberadaan Taman Ismail Marzuki, Institut Kesenian Jakarta, serta para seniman, budayawan, dan komunitas kreatif yang terus menghasilkan karya.
Karena itu, pemerintah daerah perlu membuka ruang yang lebih luas bagi pelaku kreatif untuk mengembangkan potensi dan memperkenalkan karyanya kepada masyarakat. Dukungan terhadap proses berkarya, pengembangan kapasitas, dan perluasan akses pasar juga diperlukan agar produk kreatif Jakarta dapat menjangkau audiens internasional.
Salah satu sektor yang dinilai memiliki peluang besar untuk memperkenalkan identitas Jakarta ke dunia adalah industri perfilman. Pemprov DKI Jakarta mendorong pengembangan Jakarta sebagai kota sinema melalui Jakarta Film Commission dan program Filming in Jakarta.
Kedua inisiatif tersebut diharapkan dapat mempermudah proses fasilitasi produksi film, memperkuat koordinasi, serta membuka kesempatan kolaborasi bagi pelaku industri. Pengembangan ekosistem perfilman juga berpotensi memperluas ruang kerja bagi talenta lokal sekaligus meningkatkan daya tarik Jakarta sebagai lokasi produksi.
Rano menilai perubahan pola konsumsi konten turut menghadirkan peluang baru bagi industri film. Menurutnya, perkembangan tersebut perlu direspons melalui strategi yang adaptif, baik dengan memperkuat produksi film layar lebar maupun mengembangkan format konten digital yang semakin diminati penonton.
"Pada tahun 2025, penonton film di Indonesia berjumlah 122 juta penonton. Sementara kalau dihitung jumlah gedung di Indonesia tidak lebih dari 3.000 gedung. Di dunia sekarang terjadi anomali, konten OTT tidak berhenti, bahkan sekarang yang namanya drama vertikal itu menjadi tontonan yang menarik," ungkapnya.
Untuk memperluas peluang industri kreatif, Pemprov DKI Jakarta juga mendorong pertukaran pengetahuan dan penguatan jejaring internasional. Dalam kunjungan ke Korea Selatan belum lama ini, Rano mengunjungi Busan International Film Festival dan bertemu dengan Busan Film Commission, AFCC Network, serta sejumlah mitra internasional lainnya.
Pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk mempelajari praktik pengembangan industri film sekaligus memperluas hubungan dengan ekosistem perfilman Asia. Jejaring internasional itu diharapkan membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan talenta lokal, pertukaran pengetahuan, dan perluasan akses pelaku perfilman Jakarta ke pasar global.
Melalui penguatan budaya, pengembangan ekonomi kreatif, dan kerja sama lintas negara, Pemprov DKI Jakarta berupaya membangun kota yang memiliki daya saing sekaligus karakter yang kuat. Dengan demikian, Jakarta diharapkan tidak hanya dikenal sebagai pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai kota yang mampu menghasilkan karya budaya dan kreatif yang diperhitungkan dunia.
- Pemprov DKI Jakarta
- Wagub DKI Rano Karno
- Budaya Jakarta
- Ekonomi Kreatif
- Global Cities Index
- industri film Indonesia
- Jakarta Film Commission
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
SIAL Food & Drinks Indonesia 2026 Buka Peluang Bisnis Makanan dan Minuman Indonesia ke Pasar Global
-
Jakarta Punya 37 Bus Sekolah Ramah Disabilitas, Siap Antar Jemput Anak-anak Berkebutuhan Khusus
-
KPBB: Car Free Day Jadi Upaya Transformasi Sistem Transportasi Perkotaan
-
Indonesia Berpotensi Tambah Emas di Asian Games dari Bulu Tangkis
-
Transjakarta Bakal Kelola Transportasi Udara, Pemprov DKI Siapkan Fasilitas
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.