Dompu Bidik Peluang Baru Lewat Hilirisasi Ayam, Petani Jagung Bisa Ketiban Berkah

Rabu, 14 Okt 2026, 00:17 WIB

DOMPU - Proyek hilirisasi ayam terintegrasi senilai Rp1,7 triliun di Nusa Tenggara Barat (NTB) berpotensi menyerap jagung petani melalui rencana pembangunan pabrik pakan ternak di Kabupaten Dompu.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Dompu Ilham mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan lahan di Desa Nusa Jaya untuk mendukung pembangunan pabrik pakan yang direncanakan dikelola PT Berdikari, badan usaha milik negara (BUMN).

Ket. Foto: Bupati Dompu Bambang Firdaus di hadapan perwakilan Kementan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, PT Berdikari, serta tim konsultan Boston Consulting Group yang meninjau lokasi rencana pembangunan pabrik pakan ternak di Kabupaten Dompu, NTB, Kamis (30/4). — Sumber: Antara foto

"Karena pabrik pakan dikelola BUMN, kemungkinan lahannya menggunakan pola HGB atau pinjam pakai," kata Ilham kepada ANTARA di Dompu, Selasa.

Menurut dia, potensi produksi jagung menjadi salah satu pertimbangan penempatan industri pakan di Dompu. Ketersediaan bahan baku lokal diharapkan membuka peluang penyerapan hasil panen sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah.

Meski demikian, besaran kebutuhan jagung dan kapasitas produksi pabrik belum dipastikan. Dampak investasi terhadap pasar jagung lokal akan bergantung pada kebutuhan bahan baku dan operasional industri setelah fasilitas tersebut dibangun.

Ilham menjelaskan pengembangan industri perunggasan terintegrasi itu mencakup empat kabupaten, yakni Sumbawa, Bima, Dompu, dan Lombok Tengah, dengan total rencana investasi sekitar Rp1,7 triliun.

Ilham mengatakan program tersebut diarahkan untuk memperkuat industri perunggasan nasional melalui penyediaan bibit ayam, pakan, dan sarana produksi lainnya. Ia menyebut Nilai Tukar Peternak (NTPT) saat ini berada pada angka 131, dengan target peningkatan hingga kisaran 140-150.

Selain itu, pemerintah daerah mengusulkan fasilitas pengolahan daging dan telur di Lombok Tengah dengan memanfaatkan lahan milik daerah.

Usulan tersebut masih dalam tahap awal dan belum dibahas secara intensif.

Dalam pembagian lokasi, Sumbawa dan Bima disiapkan sebagai pusat pembibitan ayam indukan atau parent stock (PS) yang dilengkapi fasilitas penetasan telur atau hatchery. Dompu menjadi lokasi pabrik pakan, sedangkan Lombok Tengah direncanakan menampung fasilitas pengolahan daging dan telur.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB Muhamad Riady mengatakan pembangunan proyek tersebut dilakukan bertahap dengan memprioritaskan fasilitas pembibitan ayam di Sumbawa dan Bima sebelum berlanjut ke pabrik pakan di Dompu.

"Setelah jalan PS dan hatchery yang di Bima dan Sumbawa, baru pabrik pakannya menyusul," kata Riady.

Saat ini, pemerintah masih menyelesaikan proses administrasi lahan melalui Hak Pengelolaan Lahan (HPL) serta menindaklanjuti tahapan pembangunan fasilitas pembibitan di kedua kabupaten tersebut.

Setelah proses pertanahan selesai, tahapan berikutnya meliputi pemenuhan kewajiban dan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) antara pemerintah daerah dan PT Berdikari. Pembangunan fisik pabrik pakan dapat dilaksanakan setelah tahapan tersebut dituntaskan.

Riady mengatakan kebutuhan pakan akan mengikuti perkembangan produksi anak ayam umur sehari atau day old chick (DOC) dari fasilitas pembibitan serta permintaan peternak.

"Setelah ini parent stock berproduksi, memproduksi DOC, kemudian peternak memelihara. Setelah itu baru akan dibutuhkan pakan," ujarnya.

Menurut dia, keberadaan pabrik di Dompu juga berpotensi mengurangi biaya distribusi karena pasokan pakan dari luar daerah, termasuk Jawa Timur, membutuhkan ongkos transportasi tambahan. Lokasi yang lebih dekat dengan sentra peternakan di Pulau Sumbawa diharapkan meningkatkan efisiensi rantai pasok.

Namun, realisasi pembangunan masih bergantung pada kebutuhan pasar dan kelayakan investasi. PT Berdikari perlu memastikan proyek tersebut didukung studi kelayakan yang memadai sebelum memutuskan pelaksanaannya.

"BUMN pasti hasil studi kelayakannya harus visible, baru dia berani bergerak. Kalau tidak visible, harus ada kompensasi yang didapatkan," kata Riady.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.