Saat Masyarakat Agraris di Wonogiri Bangkit Atasi Kekeringan

Selasa, 13 Okt 2026, 15:37 WIB

WONOGIRI -- Saat musim kemarau tiba, tanah perbukitan yang subur menjadi tandus, bahkan rinai hujan tidak bisa membuat permukaannya sekadar basah karena bumi yang semakin panas.

Demikian lah kondisi yang dihadapi warga Desa Doho, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Ket. Foto: Petani di Desa Doho, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. — Sumber: ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo

Itu terjadi karena sebagian besar bentang alam pertanian di Desa Doho merupakan lahan tadah hujan yang sepenuhnya mengandalkan curah hujan - DAS Keduang. Begitu musim hujan berakhir dan aliran sungai mengering menjadi hamparan batu kali yang panas, saluran irigasi mendadak mati suri.

Puluhan hektare petak persawahan dan perkebunan terpaksa dibiarkan tidur tanpa tanaman atau mengalami masa bero—istilah petani di Jawa untuk lahan yang telantar karena ketiadaan pasokan air. Ketiadaan air membuat para petani kehilangan sumber pendapatan. Mayoritas dari mereka hanya bisa pasrah menunggu datangnya musim tanam berikutnya dalam ketidakpastian.

Hingga kemudian intervensi teknologi menjadi sebuah keniscayaan demi keberlangsungan hidup masyarakat agraris saat kekeringan melanda.

Kondisi serbasulit yang berlangsung turun-temurun itu mulai berbalik arah saat Embung Doho dibangun pada 2017 atas kolaborasi mulitipihak, melibatkan pemerintah, lembaga swadaya petani, serta dukungan pendanaan dari lembaga filantropi Coca-Cola Foundation.

Embung Doho berdiri di atas lahan perbukitan dengan luas 1,5 hektare. Embung tadah hujan berkedalaman empat meter dengan daya tampung 15.872 meter kubik ini dirancang mampu menangkap limpahan air hujan saat musim hujan untuk disimpan sebagai tabungan strategis menghadapi musim kering.

Struktur dasarnya dilapisi geomembran khusus berkekuatan 30 tahun yang memungkinkan lumut tetap tumbuh subur untuk menjaga kualitas air tetap sehat bagi ekosistem pertanian di sekitarnya.

Wajah pertanian di hamparan sawah seluas 21 hektare pun berubah. Lahan yang dahulunya mati suri saat kemarau, kini tetap berdenyut hijau berkat peralihan pola tanam menuju komoditas palawija dan padi gogo yang hemat air.

Lebih dari 300 petani yang terhimpun dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Ngudi Rukun di Desa Doho kini memiliki kepastian pasokan air untuk menyelamatkan tanaman mereka dari ancaman gagal panen. Petak-petak ladang yang dahulu dibiarkan gersang, kini mampu menghasilkan panen yang berkesinambungan sepanjang tahun.

Kepala Desa Doho Agus Suwatono yang ditemui di desanya itu, Jumat (7/10), menerangkan bahwa keberadaan embung menjadi penyelamat pada masa-masa kritis peralihan musim, khususnya sekitar Maret - April. Pada rentang waktu tersebut, air embung digelontorkan penuh ke jaringan irigasi desa untuk menyuplai tanaman padi yang sedang bunting (meteng) menjelang pembentukan bulir gabah.

Dengan terjaganya pasokan air, maka produktivitas panen petani terdongkrak hingga 30 persen, di tengah ketidakpastian iklim saat ini hasil panen yang biasanya berkisar 15 karung meningkat menjadi 20 - 30 karung atau mencapai 1,8 ton (per karung 60 kilogram) gabah kering panen.

Selain kenaikan produktivitas, ketersediaan air juga memungkinkan penambahan siklus tanam dari yang biasanya hanya dua kali setahun kini bisa mencapai tiga kali setahun.

Dari tujuh kelompok tani yang tersebar di tujuh dusun, sekitar 60 kepala keluarga petani yang menikmati manfaat langsung dari keberadaan embung. Bahkan, masyarakat setempat bisa memenuhi kebutuhan dapur dari pasokan air yang ada.

Pasokan air berkala ini menjadi sangat vital mengingat karakteristik lahan pertanian di lereng perbukitan Doho berkontur miring (siring), sehingga air siraman cepat meresap dan hilang jika tidak dialirkan secara cermat, termasuk ke tanaman palawija, seperti jagung, kacang tanah, dan ubi-ubian yang juga dibudidayaan warga.

Manajemen air berkeadilan

Kunci keberhasilan distribusi air dari Embung Doho bertumpu pada keteguhan kearifan lokal yang dijalankan oleh Legiman, seorang subak atau penata aliran air yang dipercaya oleh warga desa.

Selama musim kemarau melanda, seluruh aktivitas Legiman dihabiskan di hamparan sawah. Dari total 21 hektare lahan produktif tersebut, ia membaginya secara tertib menjadi 38 petak, dengan masing-masing petak berukuran sekitar 5.000 meter persegi.Setiap petak mendapatkan jatah pengairan selama tiga jam, satu kali dalam sepekan.

Tugas utama Legiman adalah membuka dan menutup tulakan, yakni lubang kecil pada pematang sawah yang menjadi pintu masuk air dari saluran irigasi ke dalam petak tanaman itu.

Ketika air mulai langka di musim kemarau, hanya subak yang berwenang mengatur buka-tutup tulakan tersebut dengan cangkulnya, memastikan tidak ada petani yang berebut atau memindahkan aliran air secara sepihak demi menjaga kerukunan antarwarga.

Kendati saluran air telah mengalir ke parit-parit sawah, para petani di masa-masa awal sempat terbebani oleh tingginya ongkos operasional pompa penyedot air.

Air dari embung awalnya harus ditarik menggunakan mesin pompa berbahan bakar solar sebelum dialirkan melintasi petak-petak irigasi.

Dari sini petani harus patungan membeli solar sekitar Rp50.000 untuk satu kali periode pengairan per pekan. Beban pengeluaran rutin tersebut dirasakan cukup berat bagi petani kecil dan kerap menjadi keluhan utama dalam agenda musyawarah rembug paguyuban Gapoktan Ngudi Rukun yang digelar setiap bulannya.

Tenaga surya

Beban biaya bahan bakar tersebut kini terhapus seiring diterapkannya inovasi energi bersih di kawasan embung. Melalui instalasi delapan unit panel surya, empat di antaranya adalah generasi baru berkapasitas puncak 585 Watt peak per unit atau total 2.340 Watt peak hasil rekayasa tim Gepo Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), mesin submersible atau pompa celup penarik air embung kini digerakkan sepenuhnya oleh tenaga matahari.

Meski baru bisa berproduksi optimal pada pukul 10.00 hingga 14.00 WIB, teknologi surya ini mampu mengalirkan air menuju parit irigasi tanpa membebani biaya bahan bakar minyak sepeser pun.

Oleh sebab itu, kehadiran instalasi panel surya disambut dengan harapan besar untuk meringankan beban petani. Dengan pompa bertenaga surya yang bekerja otomatis di siang hari tanpa biaya token listrik atau solar, pengaturan jadwal giliran air pun menjadi jauh lebih leluasa.

Manfaat keberadaan Embung Doho bahkan meluas melampaui batas-batas petak persawahan. Tanggul jalan semen di sekeliling bibir embung yang mulanya dibangun untuk mempermudah jalur perawatan kini bertransformasi menjadi sarana olahraga warga, arena latihan fisik anak-anak muda desa, hingga lokasi perkemahan pada akhir pekan.

Agus mengaku bahwa kemarau tahun ini menjadi yang terberat. Selain hari tanpa hujan berlangsung panjang bahkan sampai dengan Oktober ini minim sekali tutupan awan membuat cuaca semakin panas hingga cadangan air menyusut drastis.

Untuk itu, musyawarah desa melahirkan solusi melalui pembuatan sumur bor pendukung agar pasokan air di embung tetap terjaga dan bisa tetap menjadi daya tarik para pelancong.

Kehadiran pelancong membuat geliat ekonomi desa kian bergairah. Di buktikan dengan berdirinya warung-warung di tepian embung, yang menjajakan aneka jajanan khas, termasuk olahan bakso Wonogiri yang melegenda.

Sebagian pasokan listrik kawasan warung makan ini pun ditopang langsung oleh instalasi panel surya, sementara para pelaku usaha menerapkan prinsip ramah lingkungan yang memanfaatkan kembali air bekas (water reuse) untuk kebutuhan non-konsumsi dan sanitasi.

Perjalanan delapan tahun Embung Doho membuktikan bahwa ketahanan daerah menghadapi krisis iklim sangat ditentukan oleh keselarasan fungsi konservasi dan kemandirian masyarakat.

Dari liang tulakan yang dibuka-tutup dengan adil, hingga pompa bertenaga surya yang membasahi tanah padas, Doho mengirimkan pesan tegas bagi arah kebijakan ketahanan iklim Indonesia bahwa kedaulatan pangan tidak melulu bertumpu pada proyek mercusuar pemerintah, melainkan berakar dari kreativitas dalam memanajemen krisis yang disertai pula kesempatan kolaborasi langsung antara warga-sektor swasta.

  • Embung Doho

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Antara, Sujar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.