Pemimpin Dunia Didesak Koreksi Arah Konvensi Keanekaragaman Hayati

Selasa, 13 Okt 2026, 02:30 WIB

PARIS – Berbagai negara bersiap menghadapi laporan yang mengecewakan pada KTT keanekaragaman hayati PBB bulan Oktober mendatang, karena pemerintah gagal memenuhi komitmen mereka untuk melindungi tumbuhan, hewan, dan ekosistem yang menopang kehidupan di Bumi.

Konferensi tingkat tinggi COP17 di Yerevan, Armenia, akan menjadi ajang pertanggungjawaban bagi hampir 200 negara yang bergabung dalam "Perjanjian Paris untuk Alam" yang bersejarah pada tahun 2022, tetapi lambat dalam bertindak untuk mencapai tujuannya.

Ket. Foto: Astrid Schomaker — Sumber: cbd.int

Resolusi tersebut menetapkan 23 target untuk menghentikan dan membalikkan kerusakan alam pada tahun 2030, termasuk mengurangi polusi, melindungi spesies yang terancam punah, dan melestarikan 30% daratan dan lautan dunia.

Namun, menurut draf tinjauan oleh Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Keanekaragaman Hayati (CBD), yang mengawasi negosiasi internasional dua tahunan tentang perlindungan alam, saat ini dunia berada di luar jalur untuk mencapai tujuan-tujuan ini.

“COP17 hadir pada saat yang kritis,” kata An Lambrechts dari Greenpeace International. “Oleh karena itu, hasil terpenting dari Yerevan haruslah berupa koreksi arah yang jelas. Pemerintah perlu melangkah lebih jauh daripada sekadar mengulang janji dan menyepakati tindakan konkret,” imbuh dia.

Direktur Eksekutif Konvensi Keanekaragaman Hayati PBB, Astrid Schomaker, mengatakan bahwa kemajuan sedang dicapai dan tujuan tahun 2030 masih dapat dicapai, tetapi hanya dengan perubahan signifikan yang dilakukan.

Ini termasuk mengurangi insentif untuk industri yang sensitif secara politik seperti pertanian dan produksi bahan bakar fosil, bidang-bidang di mana pemerintah hingga saat ini hanya membuat sedikit kemajuan.

“Apakah menurut saya kita bergerak ke arah yang benar? Ya, tetapi terlalu lambat,” kata Schomaker.

KTT tentang alam ini diadakan beberapa pekan sebelum negosiasi iklim internasional tahunan (COP31) di negara tetangga Turki, dan merupakan kali pertama negara-negara mengevaluasi kemajuan sejak pakta keanekaragaman hayati diadopsi.

Dengan mengacu pada laporan nasional dan masukan lainnya, sebuah tinjauan global mengenai perbaikan dan kendala kolektif saat ini sedang diselesaikan.

Draf laporan penilaian yang diterbitkan pada Juli lalu telah memberikan gambaran kemajuan yang beragam. Beberapa negara telah mengambil langkah maju menuju tujuan konservasi “30x30” (melindungi 30% daratan dan perairan Bumi pada tahun 2030), kata Campaign for Nature dalam analisis pada September lalu.

Namun, jika digabungkan, janji pemerintah hanya akan mencakup 27% lahan dan perairan pedalaman pada akhir dekade ini jika diberlakukan sepenuhnya, sedangkan untuk lautan, angkanya hanya 12%.

Uang merupakan hambatan utama bagi keberhasilan tujuan keanekaragaman hayati dan diperkirakan akan menjadi sumber ketegangan di COP17. Negara-negara tertinggal dari janji untuk mengumpulkan USD200 miliar per tahun untuk keanekaragaman hayati pada tahun 2030 dari sumber publik dan swasta, termasuk USD30 miliar per tahun dalam pembiayaan internasional untuk negara-negara berkembang.

Negara-negara kaya berada di bawah tekanan untuk mengisi kesenjangan tersebut karena mereka menghadapi tantangan anggaran sendiri, sehingga isu ini menjadi sangat sensitif secara politik. Perhatian dalam KTT Yerevan diperkirakan akan terfokus pada bagaimana sektor swasta dapat menutupi kekurangan tersebut.

Menurut data PBB, untuk setiap dollar yang diinvestasikan dalam melindungi atau memulihkan alam, sekitar USD30 masih dialokasikan untuk kegiatan yang merusaknya. AFP/I-1

  • armenia
  • keanekaragaman hayati
  • yerevan

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.