IES 2027 Bahas Cara Mengubah Pertumbuhan Ekonomi Menjadi Kesejahteraan Masyarakat

Selasa, 13 Okt 2026, 20:05 WIB

JAKARTA — Indonesia Economic Summit (IES) 2027 akan menyoroti upaya mengubah pertumbuhan ekonomi menjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Forum yang diselenggarakan Indonesian Business Council (IBC) itu akan membahas bagaimana investasi dan ekspansi dunia usaha dapat menghasilkan dampak nyata, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga peningkatan pendapatan dan produktivitas.

Mengusung tema “From Growth to Prosperity: Social Impact Beyond Numbers”, IES 2027 dijadwalkan berlangsung pada April 2027. Peluncuran agenda tersebut pada 13 Oktober 2026 menjadi awal rangkaian kegiatan yang akan melibatkan pemerintah, pemimpin bisnis, pembuat kebijakan, organisasi internasional, masyarakat sipil, dan pemangku kepentingan lainnya.

Ket. Foto: Sesi panel diskusi pada peluncuran Indonesia Economic Summit 2027 di Jakarta pada Selasa (13/10/2026). Digelar pada April 2027, IES 2027 akan membahas cara mengubah pertumbuhan ekonomi menjadi kesejahteraan melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas, dan perluasan peluang usaha. — Sumber: Indonesian Business Council

IBC menilai keberhasilan pembangunan ekonomi tidak cukup diukur melalui angka pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Dampak pertumbuhan terhadap kesempatan kerja, pendapatan rumah tangga, produktivitas, perkembangan usaha, dan pemerataan peluang ekonomi juga perlu menjadi perhatian.

Pembahasan itu berlangsung di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menunjukkan ketahanan di tengah perlambatan ekonomi global. Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada September 2026 menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini menjadi 5,2 persen, dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,7 persen pada Juni.

Sementara itu, pemerintah memiliki aspirasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi menuju 6 persen pada semester kedua 2026. Sejumlah indikator yang turut menjadi perhatian antara lain inflasi sebesar 3,28 persen dan pertumbuhan kredit sekitar 13,65 persen, sebagaimana tercantum dalam keterangan IBC.

Di tengah target tersebut, kualitas pertumbuhan menjadi isu penting. Peningkatan aktivitas ekonomi perlu diikuti oleh bertambahnya kesempatan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, dan terbukanya peluang bagi pelaku usaha untuk berkembang.

Ketua Dewan Pengawas IBC, Arsjad Rasjid, mengatakan pertumbuhan ekonomi dan investasi semestinya memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, tidak hanya meningkatkan skala bisnis perusahaan.

“Pertumbuhan dan investasi harus memperkuat dunia usaha, meningkatkan produktivitas, serta menciptakan pekerjaan dengan pendapatan yang lebih baik. Melalui IES 2027, kami ingin mendorong langkah bersama agar manfaat pertumbuhan dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” kata Arsjad melalui siaran pers pada hari Selasa (13/10/2026).

Menurut dia, dunia usaha memiliki peran penting dalam memperluas dampak pertumbuhan ekonomi. Perkembangan perusahaan tidak hanya menciptakan pekerjaan bagi karyawan secara langsung, tetapi juga menggerakkan kegiatan ekonomi di sepanjang rantai pasok.

Dampak tersebut dapat dirasakan pemasok, distributor, kontraktor, penyedia jasa, hingga usaha kecil yang menjadi bagian dari rantai nilai perusahaan. Karena itu, pertumbuhan perusahaan berpotensi membuka peluang ekonomi bagi kelompok usaha dan pekerja yang lebih luas.

CEO IBC, Sofyan A. Djalil, mengatakan pengukuran kemajuan ekonomi perlu mencakup indikator yang lebih luas daripada pertumbuhan PDB. Menurut dia, angka pertumbuhan tetap diperlukan untuk membaca arah perekonomian, tetapi tidak sepenuhnya menggambarkan perubahan taraf hidup masyarakat.

“GDP tetap penting untuk membaca arah perekonomian, tetapi kesejahteraan tidak dapat dilihat dari satu angka saja. Kita juga perlu melihat pekerjaan yang tercipta, produktivitas, pendapatan masyarakat, kesempatan berusaha, dan kemampuan masyarakat untuk meningkatkan taraf hidupnya. Itu yang ingin kita bawa lebih kuat dalam IES 2027,” ujar Sofyan.

Dalam peluncuran IES 2027, diskusi turut membahas indikator yang dapat digunakan untuk menilai apakah kemajuan ekonomi benar-benar memperbaiki kehidupan masyarakat. Isu lainnya mencakup peran pertumbuhan dalam menciptakan lapangan kerja, mengurangi ketimpangan, memperluas kesempatan, dan meningkatkan taraf hidup.

Arsjad menegaskan, perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat bukan berarti mengesampingkan pertumbuhan ekonomi. Indonesia tetap membutuhkan pertumbuhan yang kuat agar perusahaan memiliki ruang untuk berinvestasi, memperbesar kapasitas produksi, dan membuka lebih banyak peluang ekonomi.

“Pertumbuhan dan kesejahteraan bukan dua agenda yang berbeda. Yang harus kita bangun adalah hubungan yang lebih kuat di antara keduanya. Ketika bisnis tumbuh, pekerja berkembang, usaha lokal mendapat kesempatan, dan keluarga memiliki pendapatan yang lebih baik, di situlah pertumbuhan mulai menjadi prosperity,” ujarnya.

Melalui IES 2027, IBC berharap pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat mempertemukan perspektif serta memperkuat kolaborasi dalam pembangunan ekonomi. Menjelang penyelenggaraan summit pada April 2027, organisasi tersebut akan melanjutkan rangkaian keterlibatan dengan komunitas bisnis, mitra strategis, organisasi internasional, masyarakat sipil, dan berbagai pemangku kepentingan.

Forum ini diharapkan menjadi ruang pembahasan mengenai cara memastikan pertumbuhan ekonomi tidak berhenti pada pencapaian angka makroekonomi, tetapi juga membuka kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk meningkatkan pendapatan, mengembangkan usaha, dan memperbaiki kualitas hidup.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.