Kemenpar Kawal Rehabilitasi Desa Adat Sade di Lombok Pascakebakaran.

Senin, 12 Okt 2026, 11:57 WIB

Kementerian Pariwisata memastikan proses rehabilitasi maupun pemulihan Desa Adat Sade di Lombok, Nusa Tenggara Barat, pascakebakaran berjalan dengan aman dan berkelanjutan.

"Ukuran keberhasilan kita bukan hanya seberapa banyak bangunan yang kembali berdiri, melainkan saat masyarakat kembali berdaya, budaya tetap hidup, ekonomi bergerak, dan wisatawan dapat berkunjung dengan aman," kata Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Senin.

Ket. Foto: Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana berdialog dengan salah satu pengrajin tenun saat meninjau kembali proses rehabilitasi Desa Adat Sade, Lombok, Minggu (11/10). — Sumber: Antara Foto

Dalam kunjungan ke lokasi, Minggu (11/10), Widiyanti menegaskan bahwa proses rekonstruksi Desa Adat Sade telah dimulai sejak 3 September 2026, ditandai dengan pelaksanaan ritual adat Nyemulak (Tanjak Teken) sebagai simbol peletakan batu pertama pembangunan kembali kawasan tersebut bersama para mitra.

Tahap awal pembangunan diprioritaskan kepada pemulihan fasilitas yang memiliki fungsi penting bagi kehidupan sosial dan budaya masyarakat, dimulai dari pembangunan masjid, sekenam sebagai ruang berkumpul, museum semipermanen, serta fasilitas kamar mandi dan toilet yang layak.

Proses rekonstruksi akan dilaksanakan secara menyeluruh dengan tetap mempertahankan karakteristik arsitektur rumah adat, tata ruang tradisional, serta pola kehidupan masyarakat Sasak yang menjadi kekhasan Desa Adat Sade.

Selama prosesnya, Menpar ingin pelestarian budaya berjalan beriringan dengan peningkatan keselamatan masyarakat dan wisatawan. Oleh karena itu, pembangunan kembali Desa Adat Sade perlu mengintegrasikan sistem perlindungan terhadap risiko kebakaran dan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat tanpa menghilangkan keaslian kawasan.

Aspek keselamatan tersebut mencakup penyediaan sistem proteksi kebakaran, jalur evakuasi yang jelas, ketersediaan pasokan air dan alat pemadam kebakaran, perbaikan sanitasi, serta pembangunan infrastruktur pendukung penanganan keadaan darurat.

Upaya tersebut penting untuk memastikan Desa Adat Sade tidak hanya kembali menjadi destinasi wisata budaya yang menarik, tetapi, juga menjadi lingkungan yang lebih aman, tangguh, dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan.

Di samping pemulihan infrastruktur, Kementerian Pariwisata telah menyalurkan bantuan modal usaha dan peralatan kerja dengan nilai keseluruhan mencapai Rp817,5 juta. Bantuan tersebut meliputi 15 unit alat tenun gedogan, modal kerja bagi 69 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), 70 paket bahan baku tenun, serta 43 paket peralatan kerajinan non-tenun.

Sebagai bagian dari pemulihan jangka panjang, Kementerian Pariwisata juga menyiapkan berbagai program pelatihan untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan masyarakat lokal dalam mengelola aktivitas pariwisata dan usaha kreatif berbasis budaya.

Program tersebut mencakup peningkatan kompetensi pemandu wisata lokal, penerapan standar keselamatan dan pelayanan wisata, pembaruan katalog produk kerajinan, penguatan identitas dan citra produk (branding), serta pemanfaatan pemasaran digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Peluncuran kembali Desa Adat Sade sebagai destinasi wisata budaya juga tengah dipersiapkan, dengan memastikan kesiapan masyarakat, fasilitas pendukung, dan standar keselamatan agar wisatawan dapat kembali berkunjung dengan aman dan nyaman.

Dukungan itu diharapkan memungkinkan masyarakat adat Sade, khususnya para pengrajin dan pengusaha UMKM, untuk kembali berproduksi, memasarkan hasil kerajinan, dan memperoleh penghasilan harian tanpa harus menunggu seluruh proses pembangunan fisik selesai.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan keterampilan tradisional masyarakat Sasak, termasuk kerajinan tenun yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi, juga merepresentasikan identitas budaya dan pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Menpar Widiyanti juga menegaskan bahwa masyarakat adat Sade harus menjadi pelaku utama dalam setiap tahapan pemulihan. Keterlibatan masyarakat diperlukan agar proses penataan kembali kawasan tetap menghormati nilai-nilai adat, mempertahankan kearifan lokal, dan menjawab kebutuhan nyata warga.

Rehabilitasi Desa Adat Sade diharapkan tidak hanya mengembalikan fungsi kawasan sebagai destinasi wisata, tetapi, juga menghadirkan pengalaman berwisata yang lebih berkualitas, autentik, aman, dan memberikan manfaat ekonomi secara langsung bagi masyarakat setempat.

  • Desa Sade Lombok

Redaktur: Yebdi Trismar

Penulis: Yebdi Trismar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.