Jelang MotoGP 2026, Museum Sade Disiapkan Sambut Wisatawan

Kamis, 08 Okt 2026, 18:22 WIB

Mataram, 08/10 (ANTARA) - Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) menyiapkan Museum Sade di Desa Rembitan, Kabupaten Lombok Tengah sebagai destinasi wisata budaya yang melengkapi kejuaraan dunia balap motor kelas tertinggi MotoGP Mandalika.

Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam di Mataram, Kamis (8/10), mengatakan pihaknya saat ini sedang mengatur tata pamer Museum Sade.

Ket. Foto: Fasad museum sementara yang terbuat dari tenda dengan dinding kain hitam di Kampung Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Rabu (7/10). — Sumber: ANTARA/HO-Museum NTB

"Penataan museum tersebut disiapkan untuk disajikan bersamaan dengan ajang MotoGP Mandalika yang berlangsung pada 9 hingga 11 Oktober 2026," ujar dia.

Nuralam menuturkan kehadiran museum sementara di Kampung Adat Sade menjadi bagian dari upaya memperlihatkan bahwa Mandalika tidak hanya memiliki daya tarik sebagai wisata olahraga dan pariwisata, tetapi juga wisata budaya.

Ia berharap Museum Sade menjadi ruang yang mempertemukan sejarah, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat setempat dengan publik yang lebih luas, termasuk wisatawan yang datang ke Pulau Lombok untuk menyaksikan ajang balapan MotoGP Mandalika.

"Kami berharap masyarakat yang datang ke pergelaran MotoGP juga bisa menyaksikan sejarah Sade melalui museum sekaligus bernostalgia," kata Nuralam.

Sementara itu, berdasarkan pemberitaan sebelumnya, Kampung Adat Sade mengalami kebakaran sekitar pukul 22.00 WITA pada 22 Agustus 2026. Jumlah rumah terdampak sebanyak 75 rumah adat, 8 berugak atau gazebo, 6 sekenam dan satu masjid, dua toilet, dan 69 artshop.

Kampung Adat Sade yang berjarak sembilan kilometer dari Sirkuit Mandalika merupakan salah satu kampung adat tertua di Pulau Lombok yang telah ada sejak abad ke-16 dan telah diwariskan selama 15 generasi.

Museum Sade mengusung tema besar Jejak Kehidupan dan Identitas Sade yang terbagi dalam lima subtema, yaitu Jejak Sade, Ruang Hidup dan Budaya Sade, Sade Mendunia, Ketika Api Mengubah Sade, serta Sade Bangkit dan Menyongsong Kejayaan.

Kelima subtema tersebut dirancang untuk membawa pengunjung memahami Sade secara utuh, mulai dari jejak leluhur, kehidupan masyarakat, perjalanan Sade dikenal hingga mancanegara, peristiwa kebakaran, hingga semangat masyarakat untuk bangkit.

Kurator Tata Pamer Museum Sade Bunyamin mengatakan konsep itu tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan sejarah Sade, tetapi juga menjelaskan identitas masyarakat yang tetap hidup setelah sebagian warisan fisik hilang akibat kebakaran.

“Kami ingin memberikan informasi kepada masyarakat, khususnya di luar Sade, tentang bagaimana kehidupan dan jejak identitasnya. Kami ketahui bersama bahwa Sade beberapa bulan lalu terbakar. Walaupun warisan benda budayanya hilang, identitasnya tetap hidup di masyarakat,” ucap Bunyamin.

Identitas Sade tidak hanya melekat pada benda budaya atau bangunan adat. Nilai budaya, semangat gotong royong, serta keterampilan masyarakat seperti menenun merupakan bagian dari identitas yang tetap hidup meskipun sebagian ruang dan benda fisik mengalami kerusakan akibat kebakaran.

"Ini tentu menjadi kenangan bagi mereka dan juga menjadi semacam obat, karena mereka punya kenangan pada masa lalu sampai sebelum terbakar," pungkas dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan mengapresiasi penataan Museum Sade yang bisa diselesaikan sebelum gelaran MotoGP Mandalika 2026.

Ia menilai kehadiran museum tersebut merupakan momentum untuk mengembangkan pariwisata yang berbasis kekayaan sejarah dan budaya Nusa Tenggara Barat. Ant

  • klasemen motogp 2026

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.