• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Bukan Cuma Suara Bising, T...

Bukan Cuma Suara Bising, Ternyata Ini yang Bisa Merusak Pendengaran

Kamis, 08 Okt 2026, 00:30 WIB

Jakarta - Neurolog di The Ohio State University Wexner Medical Center, Nick Andresen, mengungkap sejumlah faktor yang dapat mengganggu pendengaran selain faktor usia dan paparan suara keras.

“Gangguan pendengaran tidak selalu disebabkan oleh penuaan atau paparan suara bising yang jelas. Paparan kebisingan memang salah satu penyebab yang paling dikenal, tetapi itu hanya sebagian dari gambaran keseluruhan,” kata Andresen, dikutip dari laporan New York Post yang disiarkan pada Minggu (4/10) waktu setempat.

Ket. Foto: Ilustrasi pemeriksaan telinga. — Sumber: Antara

Menurut dia, faktor gaya hidup seperti merokok juga dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran. Semakin tinggi paparan terhadap rokok, risiko gangguan pendengaran yang lebih parah juga dapat meningkat.

“Mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami, tetapi kemungkinan melibatkan berkurangnya pasokan oksigen ke telinga bagian dalam serta kerusakan akibat bahan kimia beracun dalam asap rokok,” tutur Andresen.

Ia mengatakan berhenti merokok dapat mengurangi risiko tersebut dan berpotensi membalikkan sebagian dampaknya.

Selain gaya hidup, penggunaan obat tertentu juga perlu diperhatikan. Andresen menyebut obat antiinflamasi nonsteroid atau NSAID (nonsteroidal anti-inflammatory drugs), seperti aspirin dan ibuprofen, dapat berkontribusi terhadap gangguan pendengaran jika digunakan secara rutin selama bertahun-tahun atau dalam dosis lebih tinggi dari yang dianjurkan.

“Meskipun mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami, dosis yang lebih tinggi kemungkinan dapat merusak neuron pendengaran yang bertugas mengirimkan sinyal suara dari telinga ke otak,” ujarnya.

Overdosis aspirin juga dapat menyebabkan gangguan pendengaran sementara dan tinnitus, yakni kondisi yang membuat seseorang mendengar suara berdenging atau berdengung di telinga. Namun, Andresen menegaskan penggunaan NSAID sesuai dosis yang dianjurkan tetap tergolong aman.

“Namun, efek tersebut biasanya hanya berlangsung singkat dan akan menghilang setelah obat dikeluarkan dari tubuh,” kata Andresen.

Faktor lain yang dapat memengaruhi pendengaran adalah tekanan darah tinggi. Kondisi tersebut dapat merusak pembuluh darah kecil dan sel rambut di telinga bagian dalam yang berfungsi mengubah getaran suara menjadi sinyal saraf.

Berkurangnya aliran darah juga dapat mengurangi pasokan darah ke koklea, yakni organ pendengaran di telinga bagian dalam. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan gangguan pendengaran yang berkembang secara bertahap maupun terjadi secara tiba-tiba.

Secara umum, kondisi kesehatan seseorang juga dapat memengaruhi kemampuan pendengaran. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain penggunaan obat tertentu, diabetes, kesehatan kardiovaskular, infeksi, serta cedera kepala yang dapat memengaruhi pembuluh darah dan sel saraf sensitif di telinga.

Andresen juga mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan dampak kumulatif dari suara yang didengar sehari-hari. Penggunaan headphone, perkakas listrik, hingga mesin pemotong rumput, misalnya, dapat menambah paparan suara yang berisiko bagi pendengaran.

“Sebisa mungkin, batasi paparan terhadap suara keras. Jika tidak dapat dihindari, gunakan pelindung pendengaran ketika berada di lingkungan yang bising, seperti saat menghadiri acara olahraga, konser, atau berada di sekitar mesin yang mengeluarkan suara keras,” ujar Andresen.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.