- Home
-
- Luar Negeri
-
- Terpidana Mati Christa Pik...
Terpidana Mati Christa Pike Akhirnya Sadar Setelah Eksekusi Suntik Mati yang Gagal Akhiri Hidupnya
Rabu, 07 Okt 2026, 04:58 WIBTENNESSEE - Christa Pike, terpidana mati di Tennessee, Amerika Serikat, dilaporkan telah sadar dan mampu berbicara setelah upaya eksekusi suntik mati terhadap dirinya gagal pekan lalu.
Dari The Guardian, pengacara Pike mengatakan, perempuan berusia 50 tahun itu kini masih menjalani perawatan di rumah sakit. Kondisinya disebut menunjukkan perkembangan, meski ia mengalami kerusakan parah pada salah satu lengannya dan masih menghadapi proses pemulihan yang panjang.
âChrista Pike sadar, berbicara, dan terus menerima perawatan medis penting,â kata tim pengacaranya dalam sebuah pernyataan.
Mereka menyebut kondisi Pike sebagai pemulihan yang belum pernah terjadi sebelumnya secara medis. Namun, dokter masih belum dapat memastikan prognosis jangka panjangnya.
Pike sebelumnya menjadi pusat perhatian setelah upaya eksekusi pada Rabu pekan lalu tidak berhasil. Otoritas Tennessee memberikan dua dosis pentobarbital, tetapi obat tersebut tidak mengakhiri hidupnya.
Pentobarbital adalah obat yang menekan aktivitas sistem saraf pusat. Dalam konteks suntikan mati di beberapa negara bagian AS, obat ini digunakan untuk menyebabkan hilangnya kesadaran yang sangat dalam, kemudian menekan fungsi tubuh hingga pernapasan dan fungsi vital berhenti.
Menurut kesaksian orang-orang yang menyaksikan jalannya eksekusi tersebut, Pike sempat mengalami kesulitan bernapas, tersedak dan meronta-ronta selama sekitar satu jam setelah suntikan pertama. Setelah dosis kedua juga gagal, ia akhirnya dibawa dari penjara Nashville ke rumah sakit dalam kondisi kritis.
Di rumah sakit, Pike sempat menggunakan alat bantu pernapasan. Kondisinya kini membaik hingga mampu sadar dan berkomunikasi.
Meski telah berada dalam perawatan medis, pengacara mengatakan Pike masih diborgol dan dirantai ke tempat tidur.
âKami sangat berterima kasih kepada para petugas pertolongan pertama dan tim medis rumah sakit yang memperlakukan Christa sebagai manusia dan memberikan perawatan luar biasa kepadanya,â ujar pengacaranya.
Kasus tersebut juga memicu kembali perdebatan mengenai hukuman mati di Amerika Serikat. Kepala penjara Tennessee, Frank Strada, bahkan mengundurkan diri setelah kegagalan tersebut. Pike merupakan kasus eksekusi gagal kelima yang terjadi di bawah kepemimpinannya di dua negara bagian sejak 2022.
Pike dijatuhi hukuman mati atas pembunuhan Colleen Slemmer, mahasiswi berusia 19 tahun di Knoxville Job Corps, pada 1995. Saat melakukan kejahatan tersebut, Pike baru berusia 18 tahun.
Pacarnya ketika itu, Tadaryl Shipp, yang berusia 17 tahun, juga dinyatakan terlibat. Namun, karena masih di bawah umur, Shipp tidak memenuhi syarat untuk dijatuhi hukuman mati dan akhirnya mendapat hukuman penjara seumur hidup.
Kegagalan eksekusi Pike juga mendapat sorotan dari Helen Prejean, biarawati Katolik yang dikenal sebagai salah satu tokoh utama gerakan penghapusan hukuman mati di Amerika Serikat.
Menurut Prejean, kasus tersebut menggambarkan aspek psikologis yang sangat berat dari hukuman mati. Terpidana tidak hanya mengetahui tanggal kematiannya, tetapi juga harus menghadapi pengalaman ketika negara benar-benar berusaha mengakhiri hidupnya.
Kasus Pike kini memasuki situasi yang tidak biasa. Setelah upaya eksekusi gagal dan terpidana tetap hidup, perhatian berikutnya akan tertuju pada kondisi medisnya serta langkah hukum dan kebijakan yang akan diambil otoritas Tennessee.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.