Partikel Subatomik Antar Fisikawan Belgia, Francis Halzen Meraih Nobel

Rabu, 07 Okt 2026, 03:05 WIB

STOCKHOLM - Fisikawan Belgia, Francis Halzen pada hari Selasa (6/10), memenangkan Hadiah Nobel Fisika atas karyanya tentang partikel subatomik di Kutub Selatan.

“Penghargaan tahun ini berkaitan dengan utusan gaib dari luar angkasa,” kata Ellen Moons, sekretaris jenderal Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia, dalam konferensi pers.

Ket. Foto: Peraih Nobel Fisika asal Belgia, Francis Halzen. — Sumber: Bryce RICHTER/Universita s Wisconsin/AFP

Halzen dianugerahi penghargaan atas kontribusi pentingnya terhadap IceCube Neutrino Observatory dan penemuan neutrino berenergi tinggi yang berasal dari astrofisika,” kata para juri.

Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia mencatat bahwa visi dan kepemimpinan ilmiah Halzen sangat penting bagi observatorium tersebut, yang digambarkan sebagai satu kilometer kubik es yang dilengkapi dengan sensor cahaya.

Dengan menggunakan observatorium ini, para peneliti dapat menangkap neutrino, partikel subatomik langka dari proses yang sangat kaya energi di alam semesta yang jauh.

“Hadiah Nobel ini berkaitan dengan bongkahan es raksasa yang ditempatkan di Kutub Selatan bumi kita. Bongkahan es tersebut memungkinkan deteksi neutrino,” kata Profesor Eva Olsson, anggota Komite Nobel untuk Fisika, kepada wartawan.

Halzen, 82 tahun, lahir di Tienen, Belgia dan merupakan seorang profesor di Universitas Wisconsin, Madison di Amerika Serikat.

“Ini sungguh kejutan besar, dan saya jelas tidak mengharapkannya,” katanya dalam konferensi pers melalui telepon tak lama setelah pengumuman penghargaan tersebut.

“Namun, saya sangat senang mendengar tentang penghargaan ini,” kata Halzen.

Tokoh Perdamaian

Penghargaan tersebut merupakan Hadiah Nobel kedua musim ini, setelah Hadiah Kedokteran diberikan pada hari Senin kepada psikiater dan ahli saraf AS Karl Deisseroth dan ilmuwan Jerman Peter Hegemann dan Georg Nagel.

Para peneliti tersebut mendapat penghargaan atas karya perintis mereka di bidang optogenetika, yang melibatkan pengendalian sinyal saraf dengan cahaya.

Tahun lalu, Hadiah Nobel Fisika diberikan kepada John Clarke dari Inggris, Michel Devoret dari Prancis, dan John Martinis dari Amerika Serikat karena telah menerapkan mekanika kuantum dan memungkinkan pengembangan berbagai macam teknologi digital, mulai dari telepon seluler hingga komputer generasi baru.

Setelah penghargaan fisika, penghargaan kimia akan diumumkan pada hari Rabu.

Pemenang penghargaan sastra akan diumumkan pada hari Kamis, dengan beberapa pengamat memperkirakan bahwa Akademi Swedia dapat memberikan penghargaan kepada penulis wanita, kemungkinan dari Amerika Latin, sebagai tindak lanjut dari penghargaan tahun lalu yang diberikan kepada Laszlo Krasznahorkai dari Hungaria.

Penghargaan yang mungkin paling ditunggu-tunggu, hadiah perdamaian yang akan diumumkan pada hari Jumat.

  • Nobel Fisika

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.