3.408 Siswa di Jateng Ikuti Simulasi Sekolah Tanggap Bencana Bersama Dompet Dhuafa

Rabu, 07 Okt 2026, 16:05 WIB

JAKARTA - Sebanyak 3.408 siswa dari 12 sekolah di Jawa Tengah mengikuti program Sekolah Tanggap Bencana yang digelar Dompet Dhuafa Jawa Tengah bersama Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa. Program yang berlangsung pada 28 September hingga 3 Oktober 2026 tersebut bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan siswa dalam menghadapi potensi bencana di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal.

Kegiatan dilaksanakan melalui skema roadshow ke sejumlah daerah di Jawa Tengah dengan menghadirkan edukasi dan simulasi kebencanaan secara langsung. Program tersebut menjangkau sekolah-sekolah di Kota Tegal, Kabupaten Banyumas, Brebes, Jepara, Kendal, Klaten, Grobogan, Kebumen, serta Kota Semarang.

Ket. Foto: Sebanyak 3.408 siswa dari 12 sekolah di Jawa Tengah mengikuti program Sekolah Tanggap Bencana yang digelar Dompet Dhuafa Jawa Tengah bersama Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa. — Sumber: Dompet Dhuafa

Dalam kegiatan tersebut, para siswa mendapatkan pembekalan mengenai berbagai bentuk mitigasi dan penyelamatan diri saat bencana. Materi yang diberikan mencakup mitigasi gempa bumi, pemadaman api ringan, simulasi penyelamatan diri saat gempa, serta kesiapsiagaan menghadapi banjir dan tanah longsor.

Penyampaian materi tidak hanya dilakukan melalui sesi edukasi di dalam kelas, tetapi juga dilengkapi praktik dan simulasi lapangan. Metode tersebut ditujukan agar siswa tidak hanya mengetahui risiko bencana, tetapi juga memahami tindakan yang perlu dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat.

Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Tengah Zaini Tafrikan mengatakan, peningkatan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko akibat bencana. Menurutnya, kesiapan yang dibangun sejak dini dapat membantu meningkatkan peluang keselamatan ketika bencana terjadi.

"Kami berharap melalui program ini para peserta memiliki kesiapan dalam menghadapi bencana yang terjadi. Tingkat kesiapsiagaan yang semakin tinggi akan memberikan peluang keselamatan masyarakat menjadi semakin tinggi," ujar Zaini.

Fasilitator DMC Dompet Dhuafa Syaiban mengatakan, materi dalam program Sekolah Tanggap Bencana disesuaikan dengan karakteristik lingkungan sekolah dan usia peserta. Penyesuaian tersebut dilakukan agar siswa dapat mengenali potensi ancaman di sekitarnya sekaligus memahami prosedur penyelamatan diri yang sesuai.

"Seluruh materi yang kami sampaikan pada pelaksanaan program ini menyesuaikan dengan kondisi lapangan dan bencana yang berpotensi dihadapi oleh para siswa. Hal ini guna memberikan pemahaman dan sikap yang tepat untuk dilakukan ketika bencana alam tiba-tiba menimpa mereka," kata Syaiban.

Program Sekolah Tanggap Bencana juga dilaksanakan secara gratis bagi sekolah yang menjadi penerima manfaat. Sebelum mengikuti program, sekolah terlebih dahulu melalui proses asesmen untuk memastikan kesesuaian penerima manfaat, termasuk dengan mempertimbangkan tingkat kerawanan bencana di lingkungan sekolah.

Pelaksanaan roadshow tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas edukasi kebencanaan kepada warga sekolah di berbagai wilayah Jawa Tengah. Dengan melibatkan ribuan siswa secara langsung, materi mitigasi diharapkan dapat dipahami sekaligus dipraktikkan dalam situasi yang menyerupai kondisi darurat.

Dompet Dhuafa Jawa Tengah bersama DMC Dompet Dhuafa berharap program serupa dapat menjangkau semakin banyak sekolah di wilayah lain. Edukasi sejak dini dinilai penting untuk membangun budaya sadar bencana sekaligus memperkuat kesiapan warga sekolah menghadapi berbagai potensi bencana.

Melalui Sekolah Tanggap Bencana, siswa tidak hanya diarahkan untuk mengenali jenis ancaman bencana, tetapi juga memahami langkah yang dapat dilakukan untuk melindungi diri. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi siswa ketika menghadapi situasi darurat, baik di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal.

Rangkaian edukasi dan simulasi ini sekaligus mendorong sekolah untuk memiliki kesadaran yang lebih kuat terhadap pentingnya mitigasi bencana. Kesiapsiagaan yang dibangun secara bersama antara siswa, sekolah, dan lingkungan sekitar diharapkan dapat membantu meminimalkan risiko serta korban ketika bencana terjadi.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.