Menperin Sarmuji Bidik Rumput Laut RI Jadi Nomor Satu Dunia Lewat ISDAP 2026-2030

Selasa, 06 Okt 2026, 16:48 WIB

JAKARTA – Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menargetkan produksi rumput laut Indonesia menjadi nomor satu dunia. Target tersebut disampaikan saat Peluncuran Integrated Seaweed Development Action Plan (ISDAP) 2026–2030 di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa (6/10/2026).

"Insyaallah jajaran Kemenperin siap mengambil langkah-langkah untuk mempersiapkan ekosistem industri rumput laut ini sebagai satu potensi baru yang membanggakan kita semua. Mudah-mudahan ini menjadi langkah penting agar produksi rumput laut Indonesia dan seluruh hilirisasinya bisa menjadikan produksi rumput laut Indonesia nomor satu di dunia, seperti yang disampaikan Kepala Bappenas (Rachmat Pambudy)," kata Sarmuji.

Ket. Foto: Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menargetkan produksi rumput laut Indonesia menjadi nomor satu dunia — Sumber: istimewa

Sarmuji menegaskan Kementerian Perindustrian memperkuat pengembangan rumput laut sebagai agenda industrialisasi dan hilirisasi. Komoditas ini dinilai memiliki potensi besar di berbagai wilayah Indonesia untuk menghasilkan produk bernilai tambah dengan rantai nilai terintegrasi dari hulu hingga hilir, sejalan dengan ISDAP yang diinisiasi Bappenas.

"Bagi Kementerian Perindustrian, inisiatif ini merupakan langkah penting untuk memperkuat sinergi pembangunan rumput laut nasional, khususnya dalam industrialisasi, hilirisasi, penciptaan nilai tambah dan pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Pengembangan rumput laut sejalan dengan kinerja manufaktur nasional yang positif. Pada Triwulan II 2026, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen, di atas pertumbuhan ekonomi nasional 5,29 persen. Sektor ini menyumbang Rp1.102,88 triliun terhadap PDB, 38,98 persen terhadap realisasi investasi nasional, dan 82,40 persen terhadap ekspor nasional. Sebanyak 14 dari 15 subsektor nonmigas tumbuh positif.

Bahkan berdasarkan data Manufacturing Value Added (MVA) 2025 World Bank, nilai tambah manufaktur Indonesia mencapai USD275,61 miliar, peringkat ke-12 dunia dan pertama di Asia Tenggara.

Khusus industri makanan dan minuman yang menyumbang 41,86 persen PDB industri nonmigas dan 7,16 persen PDB nasional pada semester I 2026 dengan pertumbuhan 6,77 persen, rumput laut menjadi bahan baku potensial.

"Rumput laut memiliki peluang pemanfaatan yang luas, tidak hanya sebagai komoditas, tetapi juga sebagai bahan baku berbagai produk bernilai tambah. Produk turunannya antara lain pangan, agar dan karagenan, hingga bahan untuk industri farmasi, kosmetik, nutraceutical, biomaterial, dan bioplastik," tutur Menperin.

Kemenperin menilai hilirisasi dan diversifikasi produk menjadi kunci, dengan penguatan kapasitas industri, inovasi, pembukaan pasar baru, dan daya saing, serta memperhatikan keberlanjutan bahan baku, kualitas lingkungan, dan manfaat bagi masyarakat sentra produksi.

Arah tersebut telah dimasukkan dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2026–2045 yang sedang difinalisasi. "Pengembangan industri tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan sentra produksi bahan baku di hulu serta industri pengguna dan pasar di hilir," jelas Sarmuji.

Menurutnya, ekosistem rumput laut membutuhkan sinergi program pemerintah, investasi swasta, pembiayaan, riset, teknologi, dan kerja sama internasional untuk menciptakan multiplier effect ekonomi.

"Melalui perannya dalam pengembangan industri, peningkatan nilai tambah, serta perluasan akses pasar dan ekspor, Kemenperin mendorong agar industrialisasi rumput laut tidak hanya berorientasi pada pengolahan komoditas, tetapi juga membangun rantai nilai dan mengoptimalkan potensi ekonomi biru," pungkasnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.