Bukan Sekadar Sampah, Botol Plastik hingga Kardus di Makassar Punya Nilai Ekonomi.

Selasa, 06 Okt 2026, 12:07 WIB

Sampah bagi sebagian orang mungkin hanyalah sesuatu yang harus segera dibuang, namun, di sejumlah sudut Kota Makassar, botol plastik, kardus, kertas, hingga kemasan bekas justru dipandang sebagai sesuatu yang masih memiliki nilai.

Di tangan warga dan pengelola bank sampah, benda-benda yang selama ini dianggap tidak berguna itu dapat berubah menjadi rupiah, beras, bahkan emas.

Ket. Foto: Suasana lokasi Bank Sampah Untia, Makassar yang melibatkan warga setempat untuk membantu memilah sampah agar dapat didaur-ulang dan digunakan kembali. — Sumber: Antara Foto

Perubahan cara pandang tersebut tidak datang dalam semalam. Di Ballaparang, Kecamatan Rappocini, misalnya, upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap sampah telah dimulai sejak 2009. Dua tahun kemudian, bank sampah unit (BSU) pertama lahir pada 2011.

Saharuddin Ridwan, seorang penggerak bank sampah yang berlatar belakang jurnalis, menjadi salah satu sosok yang ikut mendorong perubahan itu di tengah masyarakat yang sebagian besar berstatus ekonomi prasejahtera.

Warga yang sebelumnya kurang peduli terhadap sampah perlahan mulai mengumpulkan sampah anorganik untuk ditukar dengan uang atau beras. Setiap transaksi dicatat dalam buku bank sampah, sehingga sampah yang sebelumnya berakhir sebagai limbah mulai memiliki nilai ekonomi.

20261006120645_PROF-SHINTA.jpg

Pakar mikroplastik Universitas Hasanuddin, Prof Dr Shinta Werorilangi.

Dari sembilan unit bank sampah yang beroperasi pada 2011, jumlahnya berkembang menjadi 43 unit setahun kemudian. Program “sampah tukar beras” ikut menarik minat warga.

Perkembangan itu terus berlanjut. Data UPT Bank Sampah Pusat Kota Makassar mencatat bank sampah aktif mencapai 91 unit pada 2021-2022, meningkat menjadi 316 unit pada 2023 dan 348 unit pada 2024. Data Dinas Lingkungan Hidup Makassar kemudian mencatat jumlah BSU mencapai 433 unit pada 2025 dan meningkat menjadi 670 unit pada pertengahan 2026 yang tersebar di 15 kecamatan.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah mulai bergerak dari sekadar kegiatan lingkungan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.

Di Kecamatan Tallo, misalnya, sampah yang dibawa dari 15 kelurahan tidak langsung dibuang. Plastik, kertas, kardus, dan material lain terlebih dahulu dipilah berdasarkan jenisnya.

Sistem tersebut membentuk rantai pengelolaan yang menghubungkan masyarakat sebagai penghasil sampah dengan pihak yang memanfaatkan kembali material tersebut. Sampah dikumpulkan melalui BSU di tingkat kelurahan, kemudian bergerak ke bank sampah sektoral di kecamatan dan bank sampah pusat sebelum diteruskan kepada vendor atau mitra pengelola.

Di BSS Tallo, misalnya, sebanyak 322 anggota kini tidak hanya memiliki buku tabungan sampah. Mereka juga dapat memantau tabungan dan harga sampah secara digital.

Harga pun bergantung pada kualitas pemilahan. Botol plastik yang telah dibersihkan dari label dan dipisahkan tutupnya dapat dihargai Rp17 ribu per kilogram. Sementara botol plastik campur hanya sekitar Rp5 ribu per kilogram. Artinya, semakin baik warga memilah, semakin tinggi pula nilai ekonomi yang dapat diperoleh.

Dimulai dari rumah

Kebijakan Pemerintah Kota Makassar untuk memilah sampah dari rumah menjadi bagian penting dalam perubahan tersebut.

Kepala UPT Bank Sampah Pusat DLH Makassar Veronika mengatakan sampah rumah tangga idealnya dipilah sejak dari sumbernya, bukan ketika sudah berada di tempat pembuangan.

Sebab, ketika sampah telah bercampur, proses pemanfaatannya menjadi lebih sulit. Sebaliknya, sampah yang sudah dipilah sejak rumah lebih mudah dikelola dan memiliki peluang lebih besar untuk memiliki nilai ekonomi.

Konsep itu tidak hanya berlaku untuk sampah anorganik. Sampah organik, seperti sisa makanan, juga mulai diarahkan untuk diolah menjadi kompos maupun dimanfaatkan dalam budi daya maggot.

TPS3R Panambungan di Kecamatan Mariso menjadi salah satu contoh. Setelah kebijakan pemilahan dari rumah diberlakukan pada 1 Agustus 2026, volume sampah yang diterima meningkat dua kali lipat, dari rata-rata satu ton menjadi 2,6 ton per hari. Sampah tersebut kemudian diolah menjadi maggot, kompos, dan eco-enzyme.

Di Kecamatan Biringkanaya, pola serupa, bahkan berdampak langsung terhadap kebutuhan armada pengangkut ke TPA. Setelah sampah terlebih dahulu dipilah di TPS3R, sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan anorganik dan residu ditangani sesuai jenisnya. Kebutuhan armada menuju TPA turun dari rata-rata empat armada menjadi satu armada.

Bagi sebagian warga, bank sampah bukan sekadar tempat menyetorkan botol plastik atau kardus. Ia dapat menjadi sumber daya untuk menopang kebutuhan keluarga. Nur Chasanah, 62 tahun, adalah salah satu contohnya.

Setelah suaminya terdampak PHK pada masa pandemi COVID-19 pada 2020, ia membantu ekonomi keluarga dengan mengumpulkan botol plastik, gelas plastik, dan kardus.

Selama tujuh tahun menjadi nasabah bank sampah di Perumahan Permata Sudiang Raya, sampah yang ia kumpulkan telah berubah menjadi tabungan emas sebanyak 10 gram. Hasil tabungan sampah itu juga digunakan untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT) anaknya.

Ia memilih tidak langsung mengambil uang dari hasil setoran sampah. Tabungan dikumpulkan selama enam bulan hingga cukup untuk membayar UKT. Sebagian lainnya ditabung dan setiap mencapai Rp100 ribu dikonversi menjadi tabungan emas melalui kerja sama bank sampah dengan PT Pegadaian.

Cerita serupa datang dari Atma Yualita, pengelola Bank Sampah Kemuning RW17 di kawasan BTN Minasa Upa. Dalam salah satu transaksi, bank sampah yang dikelolanya menjual 959 kilogram sampah senilai Rp2,37 juta.

Penghasilannya dari kegiatan tersebut berkisar Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan, bahkan pernah mencapai Rp16,4 juta dalam setahun. Sebagian hasilnya digunakan untuk membeli emas, memperbaiki rumah serta menabung untuk umrah dan haji.

Ancaman mikroplastik

Di balik nilai ekonomi yang dapat dihasilkan, persoalan sampah juga menyimpan ancaman lingkungan yang lebih besar.

Pakar mikroplastik dari Universitas Hasanuddin Prof Dr Shinta Werorilangi mengingatkan sekitar 90 persen sampah yang berasal dari aktivitas di daratan berpotensi mencemari laut dan menjadi sumber mikroplastik.

Sampah rumah tangga yang tidak tertangani dapat bocor melalui kanal, drainase dan sungai sebelum akhirnya bermuara ke laut. Plastik yang berada lama di lingkungan dapat mengalami pelapukan dan terfragmentasi menjadi partikel berukuran sangat kecil.

Mikroplastik tersebut dapat tertelan biota laut, seperti ikan, udang, dan kepiting, lalu berpotensi masuk ke rantai makanan manusia.

Karena itu, menurut Shinta, persoalan mikroplastik harus ditangani sejak dari sumber. Pemilahan sampah kering dan basah, organik dan anorganik, menjadi langkah penting untuk memudahkan pengolahan dan daur ulang sekaligus mempertahankan nilai ekonomi material yang masih dapat dimanfaatkan.

Kini, tantangan terbesar bank sampah bukan hanya membangun tempat pengumpulan, tetapi menjaga konsistensi masyarakat untuk terus memilah.

Ada bank sampah yang berkembang dan konsisten, namun ada pula yang aktivitasnya melemah. Ketergantungan terhadap bank sampah sektoral atau pusat, keterbatasan modal, kepastian pasar dan minimnya sumber daya manusia menjadi sejumlah tantangan yang masih harus diatasi.

Saharuddin menilai pengelolaan sampah di Makassar membutuhkan sistem terpadu dari hulu hingga hilir. Rumah tangga, permukiman, pasar, perkantoran, fasilitas publik, bank sampah, TPS3R, vendor, industri, dan pemerintah harus berada dalam satu rantai pengelolaan.

Karena itu, keberlanjutan pengelolaan sampah sedikitnya membutuhkan lima aspek: regulasi, kelembagaan, pembiayaan, pemberdayaan masyarakat, dan teknologi.

Pada akhirnya, keberhasilan pengelolaan sampah tidak semestinya hanya diukur dari berapa banyak sampah yang berhasil diangkut menuju TPA. Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak sampah yang berhasil dikurangi, dipilah, digunakan kembali, dan diolah sebelum menjadi residu.

Di Makassar, perubahan itu kini dimulai dari hal sederhana: sebuah botol plastik yang tidak lagi langsung dibuang, kardus yang dipisahkan, atau sisa makanan yang diolah menjadi kompos.

Dari rumah, perubahan dimulai. Dari bank sampah, sampah menemukan nilai dan dari sana, warga kota perlahan belajar bahwa sesuatu yang dibuang seseorang belum tentu benar-benar menjadi sampah. Di tangan yang tepat, sampah masih bisa menjadi sumber daya—bahkan menjadi rupiah, pendidikan, emas, dan harapan.

  • sampah bernilai ekonomi di Makassar

Redaktur: Yebdi Trismar

Penulis: Yebdi Trismar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.