Kemenperin: Ekspor Mainan Indonesia Naik 8,2 Persen

Senin, 05 Okt 2026, 17:35 WIB

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, ekspor industri mainan Indonesia mencapai USD664,6 juta (Rp11,91 triliun) pada 2025. Nilai tersebut meningkat 8,2 persen dibandingkan capaian ekspor industri mainan pada 2024.

Dari sisi perdagangan, industri mainan Indonesia menunjukkan prospek yang positif. Dalam lima tahun terakhir, industri mainan nasional juga mencatat surplus net ekspor.

Ket. Foto: — Sumber: Magnific

Pada Januari-Juni 2026, nilai ekspor industri mainan kembali meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilainya naik dari USD297,7 juta (Rp5,34 triliun) pada Januari-Juni 2025 menjadi USD351,8 juta (Rp6,31 triliun) pada Januari-Juni 2026.

“Pasar ekspor Indonesia saat ini antara lain Amerika Serikat, Inggris, Cina, Australia, dan Republik Ceko. Capaian tersebut masih membuka ruang yang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan penetrasi dan kontribusi di pasar global,” ujar Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin, Reni Yanita, dalam keterangannya di Jakarta, Senin (5/10).

Menurut Reni, industri mainan memiliki potensi sebagai sektor padat karya sekaligus menghasilkan produk bernilai tambah. Industri tersebut juga melibatkan pelaku usaha dari skala kecil hingga besar yang tersebar di berbagai daerah.

“Industri mainan memiliki fondasi produksi yang dapat terus diperkuat untuk meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Secara nasional, industri mainan telah menjadi bagian dari ekosistem industri yang melibatkan pelaku usaha dari skala kecil hingga besar,” kata Reni.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 dan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) 2025, terdapat 256 unit usaha industri mainan. Sektor tersebut menyerap 15.663 tenaga kerja dan memiliki 10 sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM).

Jawa Tengah memiliki empat sentra IKM mainan, sedangkan Jawa Timur memiliki satu sentra industri. Jawa Barat memiliki lima sentra IKM mainan sehingga menjadi wilayah dengan jumlah sentra terbanyak.

“Kita perlu memperkuat pasar domestik melalui penerapan standar, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, serta penguatan daya saing. Agar produk mainan buatan Indonesia semakin diminati di pasar nasional dan mampu memperluas penetrasi di pasar internasional,” ucap Reni.

Menurut dia, salah satu peluang yang perlu dioptimalkan adalah segmen pasar produk pendidikan. Peluang lainnya terdapat pada produk pembelajaran interaktif. “Hal ini memberikan peluang bagi industri mainan untuk mengembangkan produk. Seperti mainan edukatif, permainan konstruksi, puzzle, dan board game,” ucap Reni.

Kemenperin juga memperkuat penerapan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) pada industri mainan. Hingga 2026, sebanyak 65 pelaku industri mainan telah memiliki sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

“Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan industri mainan nasional untuk memenuhi kandungan dalam negeri telah mulai terbentuk dan perlu terus diperluas. Agar semakin banyak produk lokal yang dapat masuk ke pasar pengadaan pemerintah,” ujar Reni. ils/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.