Russia Tidak Tinggal Jika NATO Berani Ancam Eksklave Kaliningrad

Minggu, 04 Okt 2026, 16:52 WIB

JENEWA - Russia akan merespons “setiap tindakan” yang mengancam kedaulatannya atau menyasar penduduk sipil di Kaliningrad, kata seorang diplomat senior Rusia, Sabtu (3/10) di tengah meningkatnya ketegangan antara Moskow dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terkait eksklave Russia tersebut.

“Setiap ancaman terhadap kedaulatan atau setiap serangan yang menyasar penduduk sipil Federasi Russia, termasuk di Kaliningrad, harus mendapat respons tanpa batas dalam hal melindungi kedaulatan dan penduduk kami,” kata Duta Besar Utama Kementerian Luar Negeri Russia Rodion Miroshnik kepada wartawan di Jenewa.

Ket. Foto: — Sumber: AFP

“Setiap tindakan yang mengancam kedaulatan kami akan mendapat respons tegas,” katanya dalam pertemuan di Kedutaan Besar Russia.

Eksklave adalah bagian dari suatu wilayah negara yang secara geografis terpisah sepenuhnya dari daratan utama negara tersebut dan dikelilingi oleh wilayah satu atau beberapa negara asing.

Ketika ditanya apakah blokade terhadap Kaliningrad termasuk salah satu “garis merah” tersebut, Miroshnik kembali menegaskan bahwa “setiap tindakan” terhadap penduduk sipil Russia akan dianggap sebagai ancaman terhadap kedaulatannya.

“Kaliningrad tidak berbeda dari wilayah lain di Federasi Russia,” katanya, seraya menambahkan bahwa wilayah tersebut “mendapat perlindungan yang sama seperti bagian lain dari negara Russia.”

Pernyataan itu disampaikan setelah Russia memperingatkan NATO bahwa pihaknya dapat menggunakan senjata nuklir jika aliansi tersebut berupaya memutus akses ke Kaliningrad, eksklave Russia di Laut Baltik yang berada di antara negara anggota NATO, Polandia dan Lithuania.

Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, Rabu (30/9), memastikan bahwa aliansi tersebut telah menerima komunikasi dari Russia, tetapi menolak mengungkapkan isi komunikasi tersebut secara rinci.

Ia mendesak Moskow untuk “menghentikan ancaman nuklir” dan menegaskan bahwa NATO merupakan aliansi yang bersifat pertahanan.

Presiden Russia Vladimir Putin juga memerintahkan langkah-langkah untuk memastikan keamanan Kaliningrad, menurut Penasihat Kremlin Nikolai Patrushev, yang memperingatkan akan adanya “respons yang tepat dan segera” terhadap setiap tindakan agresif.

Secara terpisah, ketika ditanya mengenai preferensi Russia dalam proses pemilihan Sekretaris Jenderal PBB berikutnya, Miroshnik mengatakan dirinya tidak dapat menilai kandidat mana yang akan “lebih dapat diterima” atau “kurang dapat diterima” bagi Moskow.

Namun, ia mengatakan Russia “menginginkan sekretaris jenderal berikutnya tidak bertindak dengan cara yang sama seperti Bapak (Antonio) Guterres.”

Masa jabatan kedua Guterres berakhir pada 31 Desember, dan penggantinya dijadwalkan mulai menjabat pada Januari 2027. Ant

  • Eksklave
  • Kaliningrad

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Deri Henriawan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.