• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Orang Tua Masih Kesulitan ...

Orang Tua Masih Kesulitan Dampingi Remaja Gunakan AI, OpenAI Hadirkan PandAI

Kamis, 01 Okt 2026, 18:10 WIB

JAKARTA - Penggunaan kecerdasan buatan (AI) semakin dekat dengan kehidupan remaja, mulai dari membantu proses belajar hingga menunjang produktivitas. Di tengah perkembangan tersebut, kemampuan orang tua dalam memahami dan mendampingi penggunaan AI menjadi salah satu tantangan yang ikut muncul.

Data global OpenAI mencatat 9 dari 10 pengguna remaja memanfaatkan ChatGPT setiap minggu. Namun, survei global UNICRI pada 2025 menunjukkan 44 persen orang tua mengaku belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk membimbing anak dalam menggunakan AI.

Ket. Foto: Penggunaan kecerdasan buatan (AI) semakin dekat dengan kehidupan remaja, mulai dari membantu proses belajar hingga menunjang produktivitas. Di tengah perkembangan tersebut, kemampuan orang tua dalam memahami dan mendampingi penggunaan AI menjadi salah satu tantangan yang ikut muncul. — Sumber: Istimewa

Kondisi tersebut menjadi salah satu latar belakang OpenAI memperkenalkan PandAI untuk Keluarga atau Panduan Praktis AI untuk Keluarga. Panduan ini dirancang agar orang tua dan remaja dapat mempelajari penggunaan AI bersama sekaligus membangun kebiasaan yang sesuai dengan kebutuhan dan usia remaja.

1. Orang tua diajak belajar AI bersama remaja

PandAI tidak hanya memberikan informasi mengenai teknologi AI, tetapi juga mendorong keluarga untuk membuka percakapan mengenai cara penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua diharapkan dapat memahami bagaimana remaja menggunakan AI sekaligus mendiskusikan batasan yang perlu diterapkan.

Head of Policy, Southeast Asia, OpenAI, Sandy Kunvatanagarn, mengatakan keluarga tidak harus memilih antara akses terhadap teknologi dan keamanan dalam penggunaan AI. Menurutnya, keterlibatan orang tua tetap dibutuhkan untuk menciptakan ruang diskusi yang terbuka bagi remaja.

"AI dapat membuka berbagai peluang bagi generasi muda untuk belajar dan mengeksplorasi hal baru. Di saat yang sama, orang tua tentu ingin tetap merasa yakin bahwa AI digunakan dengan perlindungan dan pendampingan yang tepat," ujar Sandy.

Sandy menilai keterlibatan orang tua dapat membantu remaja memahami penggunaan AI dengan lebih bertanggung jawab. Melalui PandAI, OpenAI berharap keluarga memiliki bekal untuk menjalani proses tersebut secara bersama-sama.

2. PandAI dilengkapi kartu percakapan

Dalam pengembangannya, PandAI dibuat bersama Good Enough Parents, platform edukasi parenting di Indonesia. Kolaborasi tersebut ditujukan agar materi yang disediakan lebih dekat dengan situasi dan kebutuhan keluarga di Indonesia.

Salah satu bagian dalam panduan tersebut adalah Kartu mAIn yang dirancang sebagai media percakapan antara orang tua dan remaja. Kartu ini mengangkat sejumlah topik seperti kemampuan berpikir kritis, perlindungan privasi, serta kondisi ketika remaja perlu mencari bantuan atau dukungan dari orang lain.

Parenting Educator dan Co-Founder Good Enough Parents, Damar Wahyu Wijayanti, mengatakan orang tua tidak harus selalu memiliki seluruh jawaban ketika mendampingi remaja menghadapi perkembangan AI. Menurutnya, kemauan untuk belajar bersama dan mendengarkan pengalaman remaja justru menjadi bagian penting dalam proses pendampingan.

"Mendampingi remaja di tengah perkembangan AI bukan berarti orang tua harus selalu memiliki semua jawabannya. Hal yang lebih penting adalah kemauan untuk belajar bersama, mendengarkan bagaimana remaja menggunakan AI, dan membuka ruang bagi mereka untuk bercerita tentang pengalaman tersebut," kata Damar.

3. Perlindungan penggunaan AI disesuaikan dengan usia

Upaya pendampingan keluarga juga dilengkapi dengan pengembangan ChatGPT untuk Remaja yang sebelumnya diperkenalkan OpenAI. Pengalaman tersebut diterapkan secara otomatis bagi pengguna yang teridentifikasi berusia di bawah 18 tahun dan dirancang dengan perlindungan yang disesuaikan dengan usia.

ChatGPT untuk Remaja menyediakan sejumlah fitur yang ditujukan untuk membantu penggunaan AI secara lebih terarah. Fitur tersebut mencakup Pengingat Istirahat, Jam Tenang, Mode Belajar, serta pengaturan melalui Pengawasan Orang Tua.

Melalui fitur Pengawasan Orang Tua, akun orang tua dapat dihubungkan dengan akun remaja untuk mengatur sejumlah preferensi penggunaan. Orang tua juga dapat menetapkan Jam Tenang dan menerima notifikasi keamanan dalam situasi tertentu yang dinilai berisiko tinggi.

Meski terdapat mekanisme pengawasan, orang tua tidak dapat melihat isi percakapan remaja melalui fitur tersebut. Dengan demikian, sistem pendampingan dirancang agar orang tua tetap dapat mengelola sejumlah pengaturan tanpa mendapatkan akses langsung terhadap percakapan pribadi remaja.

4. Literasi AI dan privasi menjadi perhatian

Selain aspek keamanan, PandAI juga menempatkan kemampuan berpikir kritis dan perlindungan privasi sebagai bagian dari kebiasaan penggunaan AI. Hal ini menjadi penting karena remaja tidak hanya perlu mengetahui cara menggunakan AI, tetapi juga memahami bagaimana menilai informasi dan menentukan kapan membutuhkan bantuan manusia.

Psikolog Klinis dan Keluarga sekaligus Co-Founder Good Enough Parents, Pritta Tyas Mangestuti, mengatakan remaja masih berada dalam proses belajar mengenali batasan dan mengambil keputusan secara mandiri. Menurutnya, perlindungan yang disesuaikan dengan usia dapat melengkapi peran orang tua dalam mendampingi penggunaan AI.

"Teknologi dapat membantu menciptakan ruang yang lebih aman, tetapi keterlibatan orang tua tetap penting agar remaja memiliki tempat untuk bertanya dan mencari dukungan ketika membutuhkannya," ujar Pritta.

Melalui PandAI untuk Keluarga dan fitur perlindungan bagi pengguna remaja, OpenAI menempatkan pendampingan keluarga sebagai salah satu bagian dari penggunaan AI yang lebih bertanggung jawab. Panduan tersebut dapat digunakan keluarga untuk memulai percakapan, mengeksplorasi AI bersama, serta menentukan kebiasaan penggunaan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.