Medali Emas Asian Games 2026, Bukti Konsistensi Desak Made Rita Kusuma Dewi

Kamis, 01 Okt 2026, 05:30 WIB

JAKARTA - Dua tahun silam di Paris, Desak Made Rita Kusuma Dewi masuk arena Olimpiade 2024 dengan bekal hebat, yakni status juara dunia speed putri yang diraihnya pada 2023.

Pada final Kejuaraan Dunia 2023 di Bern, Swiss, Desak Rita mengalahkan salah satu pesaing abadinya sampai kini, Emma Hunt.

Ket. Foto: Atlet Desak Made Rita Kusuma Dewi — Sumber: antara foto

Setahun kemudian, mereka berdua, ditambah Deng Lijuan dan Aleksandra Miroslaw yang memegang rekor dunia speed putri sejak Agustus 2021, turut unjuk kebolehan di Paris.

Mereka berempat sama-sama lolos ke perempat final, tapi Desak Rita dan Emma Hunt terhenti pada babak itu, sedangkan Miroslaw dan Deng melenggang sampai final.

Desak Rita kalah bersaing dari Deng yang lalu mengalahkan rekan senegaranya, Rajiah Sallsabillah, dalam semifinal.

Jebolan Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Ganesha di Bali yang lanjut ke program magister di universitas yang sama itu, harus menerima kenyataan pahit tak bisa membawa pulang medali dari Paris 2024.

Demikian pula dengan Rajiah, yang dikalahkan Aleksandra Kalucka pada babak perebutan medali perunggu. Emas menjadi milik Miroslaw, sedangkan Deng kebagian perak.

Padahal pada Olimpiade 2026 di Paris itu, Desak Rita bergantian memecahkan rekor Olimpiade dengan Miroslaw, Hunt, dan Zhou Yafei, yang juga dari China.

Zhou menjadi yang pertama memecahkan rekor Olimpiade itu dengan 6,54 detik, kemudian Desak Rita pada 6,52 detik, lalu Hunt dalam 6,36 detik, dan akhirnya Miroslaw pada 6,06 detik.

Angka yang dibukukan Miroslaw itu adalah juga rekor dunia, sampai kemudian dipecahkan oleh Hunt pada 4 Juli 2026 dalam World Climbing Series tahun ini.

World Climbing Series 2026 adalah juga simbol kebangkitan dan bukti kuat untuk sikap pantang terpuruk Desak Rita, setelah gagal mempersembahkan medali Olimpiade kepada Indonesia dua tahun sebelumnya.

Sampai enam seri pertama World Climbing Series tahun ini, Desak Rita berada di tiga besar bersama Emma Hunt, dan atlet Ukraina, Polina Khalkevych.

Jika Hunt berada di puncak klasemen dengan 3.636 poin, maka Desak Rita berada di peringkat ketiga dengan 3.070 poin, hanya lima poin di bawah Khalkevych yang menduduki peringkat kedua.

Tahun penegasan

2026 bisa dibilang sebagai penegasan untuk tekad kuat dan sikap menolak terpuruk yang diperlihatkan Desak Rita. Dia tetap gigih untuk terus menjadi atlet elite panjat tebing dunia.

Setelah gagal di Olimpiade Paris, Desak Rita menggondol medali emas dari World Games 2025 di Chengdu, China pada Agustus tahun itu, dan finis urutan ketiga dalam World Climbing Series 2025.

Lalu, pada April 2026 Desak Rita menggebrak Kejuaraan Asia di Meishan, China, ketika menjuarai speed putri setelah menaklukkan Zhou Yafei di final, untuk sekaligus memecahkan rekor Asia pada 6,07 detik.

Lima bulan kemudian, pada 30 September, dalam Asian Games 2026, Desak Rita memecahkan lagi rekor Asia, setelah menjadi yang tercepat dalam final speed putri Asian Games 2026 dengan 6,062 detik.

Dia lebih cepat 0,002 detik dari pada Deng Lijuan, yang harus puas dengan medali perak. Deng masih menjadi salah satu pesaing tersengit Desak, baik di Asia maupun dunia.

Desak Rita sukses mengobati kekecewaannya pada Olimpiade 2024, dan sekaligus mempertahankan medali emas Asian Games 2022 di Hangzhou, China.

Desak juga membantu Indonesia memenuhi target empat medali emas dari Asian Games 2026.

Dia menyusul rekan-rekannya yang sudah lebih dulu menyumbangkan tiga medali emas, yakni bulu tangkis beregu putra, angkat besi kelas 75kg putra lewat Rahmat Erwin Abdullah, dan ganda putra Leo Carnando/Daniel Marthin.

Perjalanan karier olah raganya yang menolak terpuruk hanya karena gagal di satu kompetisi adalah bahan ajar teramat bagus untuk mereka yang ingin selalu berada di podium medali.

Tetapi jangan bilang Desak Rita cepat puas dengan pencapaiannya, karena dia malah ingin mencapai level yang semakin tinggi.

Tak lama setelah dikalungi medali emas Asian Games 2026, Desak Rita menyatakan bahwa catatan waktu yang dia ciptakan itu bukan titik akhir.

Dia justru ingin menjadikan pencapaian di Jepang itu sebagai investasi penting dan motivasi untuk terus berada di level atas, khususnya Olimpiade Los Angeles 2028 yang sudah menjadi target jangka panjangnya.

Semangati Veddriq dan Aditya

Desak Rita tak pernah membunuh mimpinya. Sebaliknya, dia terus merawatnya dengan konsisten dan dengan ambisi yang semakin besar dari waktu ke waktu.

Ambisi kuatnya itu tak hanya berguna bagi dirinya untuk selalu mencapai yang terbaik, tapi juga bagi negaranya, Indonesia, yang bersiap menghadapi Olimpiade Los Angeles pada 2028.

Desak Rita dan negaranya tentunya menginginkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan Olimpiade Paris dua tahun lalu.

Pencapaian atlet kelahiran 24 Januari 2001 itu sendiri dalam Asian Games semestinya membesarkan harapan Indonesia pada Olimpiade 2028.

Dua tahun silam, adalah panjat tebing, juga dari speed, yang sukses merawat tradisi emas Indonesia dalam Olimpiade, bersama angkat besi.

Dalam Olimpiade Paris itu, Indonesia mendapatkan dua medali emas dari Rizki Juniansyah pada angkat besi, dan Veddriq Leonardo pada panjat tebing.

Kini Veddriq yang belum pernah mendapatkan medali emas Asian Games dari nomor perseorangan, berkesempatan mengawinkan medali emas disiplin speed dalam Asian Games 2026 yang di bagian putrinya sudah didapatkan oleh Desak Rita.

Selain Veddriq, Indonesia juga akan mengandalkan talenta muda, Aditya Tri Syahria.

Pada babak kualifikasi Aditya bahkan memecahkan rekor Asian Games dengan 4,62 detik, atau 0,08 detik di bawah rekor Asia yang juga rekor dunia 4,54 detik yang dipegang atlet China, Zhao Yicheng.

China kali ini tak diwakili oleh Zhao, melainkan oleh Long Jianguo dan Chu Shouhong.

Aditya, Zhao dan Chu berada di tiga teratas pencatat waktu tercepat pada babak kualifikasi, sedangkan Veddriq berada di peringkat keenam.

Kedua atlet speed putra Indonesia tersebut akan kembali berlomba pada Kamis ini mulai dari babak perempat final. Harapannya, Veddriq dan Aditya dapat terus melaju hingga babak final dan menyumbangkan medali emas serta perak untuk Indonesia.

Keduanya juga bisa menjadikan keberhasilan emas Desak Rita sebagai platform dan penyemangat untuk berhasil di speed putra.

  • Asian Games 2026
  • Desak Made Rita Kusuma Dewi
  • Konsistensi

Redaktur: Sriyono

Penulis: Sriyono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.