Alasan Basarnas Belum Libatkan Kapal Induk KRI Sriwijaya-100 dalam Misi SAR

Kamis, 01 Okt 2026, 17:25 WIB

JAKARTA - Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menyatakan belum membahas secara terperinci skema teknis pengoperasian kapal induk KRI Sriwijaya-100 untuk misi pencarian dan pertolongan (SAR) bencana alam. 

Deputi Operasi Basarnas Edy Prakoso di Jakarta, Kamis (1/10), menyampaikan bahwa rencana pemanfaatan kapal induk tersebut sebagai pangkalan logistik dan operasi kemanusiaan, khususnya SAR, masih membutuhkan kajian serta pertimbangan operasional yang matang sebelum diterjunkan ke lapangan.

Ket. Foto: Upacara pemberian nama dan pengibaran bendera merah putih di atas KRI Sriwjaya-100 yang bersandar di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9/2026). — Sumber: ANTARA/Walda Marison

"Belum ke arah sana," kata Edy, menanggapi pertanyaan mengenai koordinasi teknis penyiapan perlengkapan operasi pencarian bersama pihak militer.

Edy menekankan bahwa pengoperasian kapal berukuran sangat besar memiliki kompleksitas dan kendala teknis tersendiri.

Hal tersebut, kata dia, juga sekaligus merespons potensi optimalisasi KRI Sriwijaya-100 sebagai platform pendukung operasi laut-udara di wilayah terpencil, sebagaimana yang pernah ditangani Basarnas dalam upaya penanganan pencarian dan pertolongan fase tanggap darurat bencana banjir bandang-tanah longsor di Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara.

Menurut Edy, armada utama SAR dan sarana prasarana yang dimiliki Basarnas serta TNI dan Polri saat ini masih memadai untuk menjangkau titik-titik bencana di pulau-pulau Indonesia.

"Masalah di Sumatera kemarin, misalnya, masih bisa dilaksanakan dengan alat utama (alut) yang ada sekarang ini. Mendatangkan kapal sebesar itu tidak mudah, banyak pertimbangan, baik kedalaman di wilayah saat mendekati lokasi, kemampuan dermaga, dan lain-lain," jelasnya.

Edy menambahkan bahwa kedalaman perairan pantai (draft) serta kapasitas sandar dermaga lokal menjadi faktor krusial, mengingat tidak semua pelabuhan di daerah memiliki infrastruktur yang sanggup menampung kapal berbobot besar.

Meski demikian, Basarnas terus memperkuat koordinasi interkonektivitas udara dan laut antarinstansi guna memastikan efektivitas penanganan musibah pelayaran maupun bencana alam di kawasan terisolasi.

Diketahui, Kapal induk eks-ITS Giuseppe Garibaldi buatan Italia secara resmi berganti nama menjadi KRI Sriwijaya-100 melalui upacara penurunan bendera di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9).

KRI Sriwijaya-100 memiliki dimensi panjang 180 meter, lebar 33 meter, bobot penuh 13.850 ton, serta sanggup menempuh daya jelajah hingga 7.000 mil laut dengan kecepatan maksimum 30 knot.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali sebelumnya mengungkapkan bahwa KRI Sriwijaya-100 diprioritaskan untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP) yang diproyeksikan menjadi pangkalan terapung (floating base) utama dalam mempercepat penanganan tanggap darurat bencana di wilayah kepulauan Indonesia.

Hal tersebut dinilai sangat dimungkinkan mengingat kapal induk ini juga mampu menampung awak hingga 550 orang, jauh lebih banyak dari daya tampung KRI Brawijaya-320 yang hanya sekitar 203 orang personel awak kapal.

  • basarnas
  • kri sriwijaya 100
  • edy prakoso
  • kapal induk tni al
  • pangkalan terapung

Redaktur: alfred

Penulis: Alfred, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.