Influenza A Kembali Merebak, Kenali Gejala hingga Tanda Perlu ke Dokter
Rabu, 30 Sep 2026, 16:45 WIBJAKARTA â Influenza A kembali menjadi perhatian seiring meningkatnya proporsi hasil pemeriksaan influenza positif di Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya masyarakat mengenali gejala influenza dan memahami tanda-tanda ketika infeksi membutuhkan penanganan medis.
Berdasarkan pemantauan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) per 26 September 2026, proporsi hasil positif influenza pada surveilans Influenza-Like Illness (ILI) pada minggu ke-37 mencapai 58,59 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan 53,71 persen pada minggu sebelumnya.
Dari 198 spesimen yang diperiksa pada periode tersebut, sebanyak 105 spesimen teridentifikasi positif Influenza A(H1N1)pdm09 dan tujuh spesimen positif Influenza A(H3N2). Pemantauan Kemenkes RI juga menemukan Influenza A(H3N2) subclade K di Indonesia. Hingga minggu ke-37 2026, tercatat 188 kasus yang tersebar di 20 provinsi.
Kasus tersebut ditemukan antara lain di DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan. Berdasarkan kelompok usia, temuan subclade K paling banyak berasal dari kelompok usia 0â4 tahun, 5â9 tahun, dan 10â17 tahun. Data tersebut menjadi salah satu indikator dalam pemantauan perkembangan influenza di Indonesia, termasuk perubahan karakteristik virus yang beredar.
Klaim Perawatan Influenza Meningkat
Peningkatan kasus yang membutuhkan penanganan medis juga tercermin dalam data klaim Allianz Life Indonesia. Dibandingkan periode yang sama pada 2025, jumlah kasus influenza yang membutuhkan rawat inap di rumah sakit pada Januari hingga Agustus 2026 meningkat 47 persen.
Sementara itu, sepanjang Januari hingga minggu kedua September 2026, Allianz Life Indonesia telah membayarkan klaim terkait influenza lebih dari Rp13,8 miliar untuk 1.857 kasus.
Data tersebut menunjukkan bahwa influenza dapat menimbulkan kebutuhan layanan kesehatan dengan tingkat penanganan yang berbeda-beda. Sebagian kasus dapat ditangani melalui pemeriksaan dan pengobatan rawat jalan, sedangkan kondisi tertentu membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia, dr. Tubagus Argie F. S. Sunartadirdja, mengatakan peningkatan proporsi hasil pemeriksaan positif influenza menjadi pengingat agar masyarakat memperhatikan kondisi kesehatan ketika gejala mulai muncul.
âPeningkatan proporsi positif influenza menjadi pengingat bagi masyarakat untuk tetap memperhatikan kondisi kesehatan, terutama ketika muncul gejala seperti demam, batuk, dan tubuh terasa lemas. Mengenali gejala sejak awal dan memahami kapan perlu mendapatkan pertolongan medis merupakan bagian penting untuk membantu mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius,â ujarnya melalui keterangan tertulis pada hari Rabu (30/9).
Gejala Influenza A Dapat Muncul Mendadak
Influenza A merupakan salah satu kelompok virus influenza yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan. Salah satu karakteristik virus influenza A adalah kemampuannya mengalami perubahan genetik, sehingga pemantauan terhadap jenis dan karakteristik virus yang beredar menjadi bagian penting dalam pengawasan penyakit influenza.
Gejala influenza umumnya dapat muncul secara tiba-tiba. Keluhan yang sering ditemukan antara lain demam atau menggigil, batuk, sakit tenggorokan, hidung tersumbat atau pilek, sakit kepala, serta nyeri otot dan tubuh terasa pegal. Penderita juga dapat mengalami tubuh lemas, mudah lelah, dan penurunan nafsu makan.
Pada anak-anak, infeksi influenza dapat disertai keluhan seperti mual, muntah, atau diare. Namun, gejala dapat berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Karena itu, kondisi tubuh secara keseluruhan dan perkembangan gejala menjadi hal yang perlu diperhatikan, terutama pada kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.
Influenza pada sebagian orang dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain pneumonia, bronkitis, dan faringitis. Infeksi juga dapat memperburuk penyakit kronis yang sebelumnya sudah dimiliki pasien.
âKelompok yang memiliki risiko komplikasi lebih tinggi antara lain anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta individu dengan penyakit kronis atau sistem kekebalan tubuh yang terganggu,â paparnya.
Langkah Sederhana Mengurangi Risiko Penularan
Penularan influenza dapat terjadi ketika seseorang yang terinfeksi menyebarkan virus melalui droplet atau partikel pernapasan, terutama ketika batuk atau bersin. Karena itu, kebiasaan menjaga kebersihan dan mengurangi kontak ketika sedang sakit menjadi bagian penting dalam pencegahan.
Masyarakat dapat mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir secara rutin, terutama setelah melakukan aktivitas di luar rumah atau sebelum menyentuh wajah. Menutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin juga perlu dilakukan. Ketika sedang sakit, penggunaan masker dapat membantu mengurangi risiko penularan kepada orang lain. Jika kondisi tubuh tidak fit, membatasi aktivitas di luar rumah juga dapat menjadi langkah pencegahan.
Sirkulasi udara di dalam ruangan perlu diperhatikan. Selain itu, masyarakat dapat menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang mengalami gejala influenza. Dari sisi kondisi tubuh, istirahat yang cukup, memenuhi kebutuhan cairan, serta mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang dapat membantu menjaga kondisi tubuh selama menghadapi infeksi.
âVaksinasi influenza juga dapat menjadi salah satu langkah pencegahan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan, terutama bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi,â jelasnya.
Kenali Tanda yang Membutuhkan Pertolongan Medis
Tidak semua infeksi influenza membutuhkan perawatan di rumah sakit. Namun, masyarakat perlu mengenali tanda-tanda ketika kondisi mulai memburuk. Kesulitan bernapas atau sesak napas merupakan salah satu tanda yang perlu segera mendapatkan perhatian medis. Demikian pula apabila muncul nyeri atau tekanan pada dada.
Kondisi tubuh yang semakin lemah, tanda-tanda dehidrasi, gejala yang semakin berat, atau kondisi yang tak kunjung membaik juga perlu dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan. Bagi seseorang yang memiliki penyakit kronis, memburuknya kondisi penyakit yang sudah ada menjadi alasan kuat untuk mendapatkan pemeriksaan medis.
Konsultasi sejak awal juga penting bagi kelompok yang memiliki risiko komplikasi lebih tinggi. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan dapat membantu menentukan penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.
Menurut dr. Tubagus, perhatian terhadap influenza tidak hanya berkaitan dengan pencegahan penyakit, tetapi juga kesiapan menghadapi kebutuhan perawatan apabila kondisi berkembang menjadi lebih serius.
âMenjaga kesehatan juga perlu diikuti dengan kesiapan menghadapi risiko finansial yang dapat muncul ketika seseorang membutuhkan pemeriksaan, pengobatan, maupun perawatan medis. Data klaim yang kami lihat menunjukkan bahwa kebutuhan penanganan influenza tidak bisa dianggap enteng dan dapat meningkat tergantung kondisi masing-masing nasabah, mulai dari rawat jalan hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit,â katanya.
Ia menambahkan, kesiapan menghadapi biaya kesehatan dapat menjadi salah satu bagian dalam perencanaan perlindungan kesehatan bagi individu dan keluarga. Di tengah meningkatnya pemantauan Influenza A di Indonesia, masyarakat tetap perlu memperhatikan perkembangan gejala, menjaga kebersihan, membatasi kontak ketika sakit, serta mencari pertolongan medis apabila muncul tanda bahaya.
Langkah tersebut penting, terutama bagi kelompok yang lebih rentan mengalami komplikasi, sehingga infeksi dapat ditangani sesuai kondisi sebelum berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.
- Kesehatan Lansia
- Influenza
- Kesehatan
- virus influenza
- kesehatan anak
- Kementerian Kesehatan
- penyakit pernapasan
- Influenza A
- Gejala Influenza
- Pencegahan Influenza
- Komplikasi Influenza
- Vaksin Influenza
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Nahas, 3 Pekerja Proyek Tewas Tertabrak Truk di Tol Wiyoto Wiyono
-
Lima Bayi Orangutan Ditemukan di Hutan India, Diselundupkan dari Indonesia?
-
Krisis Pendidikan Dunia Makin Serius, Rektor UNIDA Gontor Tawarkan Model Pesantren
-
Perkembangan pemutakhiran DTSEN
-
Merasa Sehat Belum Tentu Bebas Risiko: Hipertensi dan AFib Bisa Diam-Diam Mengancam
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.