Bakesbangpol Sleman Perkuat Pancasila Hadapi Ancaman Hibrida di Ruang Digital
Rabu, 30 Sep 2026, 17:15 WIBSLEMAN â Perubahan pola ancaman terhadap persatuan bangsa di tengah perkembangan teknologi digital mendorong Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Sleman memperkuat pemaknaan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai Pancasila dinilai perlu menjadi pedoman dalam menghadapi polarisasi sosial, disinformasi, hingga ancaman siber.
Kepala Bidang Penanganan Konflik dan Kewaspadaan Nasional Bakesbangpol Sleman, Bagus Jalu Anggara, mengatakan ancaman terhadap persatuan dan kesatuan kini tidak hanya muncul dalam bentuk konvensional. Perkembangan teknologi membuat ancaman dapat hadir secara bersamaan melalui ruang digital dan kondisi sosial masyarakat.
"Ancaman ini memanfaatkan kecanggihan teknologi digital serta celah fragmentasi sosial untuk menggoyahkan stabilitas nasional," kata Jalu di Sleman, Rabu.
Menurut Jalu, kondisi geopolitik dunia yang terus berkembang juga memengaruhi bentuk ancaman yang harus diantisipasi. Ketahanan nasional, kata dia, tidak cukup hanya dibangun melalui kekuatan fisik, tetapi juga membutuhkan kemampuan menghadapi ancaman di ruang siber dan informasi.
Bakesbangpol Sleman mengidentifikasi empat bentuk ancaman yang perlu mendapat perhatian. Salah satunya adalah polarisasi masyarakat melalui ruang gema digital atau pengelompokan pengguna berdasarkan preferensi dan pandangan tertentu.
Algoritma media sosial dapat memperkuat pengelompokan tersebut dan membuka ruang bagi penyebaran politik identitas maupun narasi yang menggunakan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Ancaman berikutnya berkaitan dengan manipulasi serta intervensi informasi dari luar. Ketegangan geopolitik global dapat dimanfaatkan melalui propaganda siber, disinformasi yang dirancang secara sistematis, hingga upaya memecah kelompok masyarakat.
Disinformasi dan hoaks juga menjadi perhatian karena informasi yang tidak terverifikasi dapat tersebar dalam waktu singkat melalui media sosial. Penyebarannya berpotensi mendorong konflik dari ruang daring ke kehidupan masyarakat secara langsung.
Selain itu, terdapat ancaman berupa kejahatan siber dan disrupsi ekonomi komunal. Persoalan ketimpangan ekonomi juga dapat dikemas melalui narasi bernuansa sentimen kedaerahan yang berpotensi memperlebar perpecahan.
Empat Strategi Penguatan Pancasila
Menghadapi berbagai potensi tersebut, Bakesbangpol Sleman menyiapkan sejumlah pendekatan untuk memperkuat nilai Pancasila, khususnya dalam aktivitas masyarakat di ruang digital.
"Guna menjawab tantangan tersebut, Bakesbangpol Kabupaten Sleman merumuskan empat langkah strategis penguatan nilai-nilai Pancasila di ruang digital," kata Jalu.
Salah satu langkahnya adalah membangun kontra-narasi melalui kampanye "Pancasila In Action". Nilai-nilai Pancasila akan disampaikan dengan pendekatan yang populer, kreatif, dan inklusif dengan mengangkat semangat gotong royong serta kearifan lokal Sleman. Salah satu bentuk kegiatannya adalah Pasar Bela Negara yang digelar secara rutin.
Strategi berikutnya dilakukan melalui edukasi literasi digital dengan menekankan etika berinternet berdasarkan nilai Sila Kedua Pancasila. Masyarakat didorong menerapkan prinsip "Saring Sebelum Sharing" dan melakukan tabayyun atau pemeriksaan fakta sebelum menyebarkan informasi.
Bakesbangpol juga memperkuat deteksi dan pencegahan dini terhadap potensi gangguan di ruang siber. Upaya tersebut dilakukan dengan mengoptimalkan peran Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), serta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) hingga tingkat kalurahan.
Dalam pelaksanaannya, forum-forum tersebut bersinergi dengan TNI, Kepolisian, dan Dinas Komunikasi dan Informatika untuk melakukan verifikasi terhadap informasi yang beredar di masyarakat.
Sementara itu, generasi Z dan milenial didorong mengambil peran sebagai Duta Ideologi Digital. Pelajar, mahasiswa, dan komunitas pemuda akan dilibatkan dalam membangun ekosistem digital yang sehat.
Langkah tersebut juga diarahkan untuk mendukung Sleman sebagai "Kabupaten Pendidikan", melalui lingkungan internet yang diharapkan lebih toleran, sehat, dan mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat.
Jalu mengatakan peringatan Hari Kesaktian Pancasila dapat menjadi momentum untuk memperkuat kembali komitmen menjaga persatuan di tengah perubahan pola interaksi masyarakat, termasuk di dunia maya.
"Dengan menjadikan Pancasila sebagai kompas etis di ruang digital, kita membentengi Kabupaten Sleman dan Indonesia dari ancaman disintegrasi bangsa," katanya.
Bakesbangpol Sleman selanjutnya mengajak masyarakat, insan pers, pegiat media sosial, dan generasi muda turut menjaga keharmonisan sosial. Kolaborasi berbagai unsur dinilai penting untuk memperkuat persaudaraan serta menciptakan Sleman yang aman, damai, dan toleran.
- Pancasila
- Bakesbangpol
- media sosial
Redaktur: Eko S
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Mobilitas Lumpuh! Pemkab Donggala Kejar Target Perbaikan Jembatan Vital Lumbudolo Sebelum Rusak Total
-
Risiko Gagal Bayar Mengintai! CELIOS: Pemda Jangan Gegabah Terbitkan Obligasi Daerah
-
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat Perbaiki 34 Ruas Jalan hingga September 2026
-
852 Unit Sepeda Motor Operasional Imum Gampong di Aceh Utara
-
Wamenaker Ungkap Kunci Sukses Hadapi Dunia Kerja Masa Depan, Kompetensi Jadi Prioritas.
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.