BRIN Latih Ibu-Ibu Pesisir Gunungkidul Sulap Sargasum Jadi Ekoenzim Bernilai Tambah

Selasa, 29 Sep 2026, 17:53 WIB

JAKARTA - Peneliti Pusat Riset Elektronika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Athanasia Amanda Septevani memberdayakan masyarakat pesisir Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), untuk mengolah limbah air cucian rumput laut jenis sargasum menjadi cairan ekoenzim yang bernilai guna tinggi.

"Kenapa dipilih sargasum? Karena memang dia adalah salah satu sumber rumput laut yang tidak optimal pengelolaannya di Indonesia," kata Amanda di sela-sela kegiatan Gender Equality Learning Program (GELP) Symposium di Jakarta, Selasa (29/9).

Ket. Foto: Petani menjemur rumput laut atau alga cokelat (Sargassum Sp) di kawasan Sungai Nipah, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Petani mengumpukan sargassum yang tersebar di perairan pantai tersebut untuk dikirim ke pengepul dan diolah menjadi pakan ternak karena memiliki kandungan nutrisi seperti protein, vitamin dan karbohidrat. — Sumber: ANTARA/Iggoy el Fitra

Amanda menjelaskan selama ini para kelompok tani dan warga pesisir biasanya hanya memanen sargasum untuk langsung dijual dalam bentuk mentah (raw material) atau hanya dijadikan pupuk biasa.

Melalui program pendanaan kolaboratif antara BRIN dan KONEKSI, tim peneliti akhirnya menggali potensi tersembunyi dari komoditas laut tersebut.

Amanda menemukan  air limbah perasan atau cucian sargasum yang biasanya hanya dibuang begitu saja, ternyata dapat difermentasi dengan penambahan konsorsium bakteri EM4.

Hasil uji laboratorium membuktikan cairan turunan rumput laut cokelat ini teruji ampuh memiliki sifat antibakteri kuat, yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri E. Coli dan S. aureus.

Guna memastikan teknologi ini bisa diadopsi oleh masyarakat akar rumput, BRIN langsung mengerahkan tim untuk melatih para warga pesisir.

20260929175106_IMG_20260929_162916.jpg.jpeg

Peneliti Pusat Riset Elektronika, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Athanasia Amanda Septevani memaparkan penelitiannya yang tertuang pada selembar poster di sela-sela kegiatan Gender Equality Learning Program (GELP) Symposium di Jakarta, Selasa (29/9). Antara/Sean Filo Muhamad

"Kami juga melakukan, sudah melakukan workshop gitu ya, karena kebetulan mitra kami itu adalah dari Gunungkidul, kami melakukan workshop di sana dan mengajarkan mereka membuat E. enzim," ujarnya.

Dalam kegiatan lokakarya yang digelar pada Juli 2026 di Desa Duwet, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, itu lebih dari 50 partisipan lintas entitas yang didominasi oleh ibu-ibu pesisir ikut terlibat aktif.

Selain diajarkan memproduksi cairan ekoenzim secara mandiri, warga juga dilatih memformulasikan ekoenzim tersebut menjadi produk turunan harian seperti sabun cuci antibakteri rumahan.

Melalui inovasi sederhana ini, Amanda berharap kemandirian ekonomi masyarakat pesisir dapat tercipta, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem laut yang lebih sehat dan bebas pencemaran pada masa depan. Ant

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.