• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Tips Siaga Bencana untuk A...

Tips Siaga Bencana untuk Anak

Senin, 28 Sep 2026, 07:23 WIB

Pertanyaan:

Bu Rossa, akhir-akhir ini di media sosial banyak sekali berita tentang peringatan terjadinya megathrust. Saya jadi berpikir tentang keselamatan keluarga karena saya punya dua anak kecil usia SD di rumah. Saya ingin menyiapkan anak-anak supaya tahu apa yang harus dilakukan jika suatu saat terjadi bencana alam. Mohon tips-tipsnya Bu Rossa, bagaimana menyiapkan anak-anak untuk siaga bencana.

Ket. Foto: Ilustrasi bu Rossa — Sumber: Dok Koran Jakarta

Jawaban:

Edukasi bencana untuk anak kuncinya adalah sederhana, tidak menakut-nakuti, dan dibiasakan lewat simulasi.

Berikut panduan praktis yang bisa diajarkan kepada anak:

Hafalan Identitas dan Kontak Darurat

Pastikan anak hafal di luar kepala:

Nama lengkap diri sendiri dan orang tua.

Alamat rumah minimal nama jalan, kompleks, atau patokan terdekat.

Nomor telepon penting (salah satu orang tua). Jika anak masih terlalu kecil, selipkan kartu identitas darurat berlaminating di dalam saku atau tas sekolahnya.

Tindakan Refleks Sesuai Jenis Bencana

Ajarkan gerakan sederhana dengan istilah yang mudah diingat:

Gempa bumi (Drop, Cover, Hold on): Merunduk: Berlutut agar tidak terjatuh. Berlindung: Masuk ke bawah meja kokoh, lindungi kepala dan tengkuk dengan tas atau kedua tangan. Bertahan: Pegang kaki meja sampai guncangan benar-benar berhenti. Peringatan: Jauhi jendela kaca, lemari tinggi, dan jangan gunakan lift.

Kebakaran: Merangkak rendah di lantai untuk menghindari asap tebal. Jika baju terbakar: teknik berhenti, jatuhkan diri, dan berguling (stop, drop, and roll).

Banjir: Dilarang bermain atau berenang di genangan air arus deras. Jauhi tiang listrik, kabel putus, dan saluran air (selokan terbuka).

Kenalkan Titik Kumpul (Meeting Point)

Sepakati satu lokasi aman yang jelas di luar rumah (misal: lapangan RT, pos ronda, atau halaman masjid terdekat) jika sewaktu-waktu terpisah saat evakuasi.

Ingatkan anak untuk mencari bantuan ke petugas berseragam (Polri, TNI, BPBD, damkar) jika tidak menemukan orang tua di titik kumpul.

Libatkan dalam Menyiapkan Tas Siaga Bencana (TSB)

Ajak anak memilih satu atau dua barang penting miliknya untuk dimasukkan ke dalam ransel darurat:

Satu setel pakaian ganti dan jaket hangat.

Camilan tahan lama dan botol air minum.

Mainan kecil atau buku cerita favorit (berfungsi sebagai trauma healing sederhana saat mengungsi).

Salinan kartu keluarga atau identitas anak.

Latihan Rutin Lewat Permainan

Jangan hanya memberi tahu lewat teori; lakukan simulasi gempa atau evakuasi di rumah setiap beberapa bulan sekali.

Jadikan latihan seperti permainan “tantangan cepat” tanpa membuat suasana tegang atau panik.

Untuk anak usia SD (sekitar 6–12 tahun), mereka sudah bisa berpikir logis dan diberi tanggung jawab kecil, tetapi instruksinya tetap harus konkret dan visual.

Berikut penyesuaian materi siaga bencana khusus untuk anak SD:

Aturan Emas saat Evakuasi di Sekolah

Tanamkan 4 Jangan saat alarm atau sirine bahaya berbunyi:

Jangan panik: Tarik napas, dengarkan instruksi guru.

Jangan lari: Berjalan cepat tapi tertib agar tidak tersandung atau memicu desak-desakan.

Jangan bicara: Supaya bisa mendengar instruksi penting atau panggilan nama.

Jangan balik arah: Jangan pernah kembali ke kelas hanya untuk mengambil barang yang tertinggal (seperti mainan atau tas).

Kenali Rambu Keselamatan

Ajari anak membaca rambu dasar yang ada di sekolah atau tempat umum:

Jalur Evakuasi: Gambar orang berlari ke arah panah hijau.

Titik Kumpul (Assembly Point): Tanda panah berkumpul di lapangan terbuka.

Tangga Darurat: Selalu pilih tangga, jangan pernah pakai lift saat gempa atau kebakaran.

Skenario “Bagaimana ­Jika…”

Anak SD suka bermain peran. Latih respons mereka dengan skenario nyata:

“Kalau gempa pas jam istirahat di kantin/lapangan, harus bagaimana?”

Di lapangan: Jongkok dan lindungi kepala, jauhi tiang basket, lampu sorot, atau pohon besar.

Di kantin/koridor: Cari meja kokoh terdekat, atau jongkok merapat ke dinding bagian dalam (bukan dekat kaca jendela).

“Kalau terpisah dari orang tua atau guru?”

Tetap di titik kumpul.

Dekati orang dewasa resmi (satpam sekolah, polisi, petugas BPBD) dan sebutkan nomor telepon orang tua yang sudah dihafal.

Peluit Darurat di Tas Sekolah

Gantungkan peluit kecil di ransel sekolah anak. Ajarkan fungsinya bukan untuk mainan.

Digunakan hanya saat terjebak reruntuhan atau tersesat untuk menghemat energi suara daripada berteriak sampai lemas. hay

  • SURAT BU ROSSA
  • Edukasi bencana

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.