Awas! Bahaya “Self-diagnose” Pakai AI, Dokter Soroti Sikap Menyangkal
Jumat, 25 Sep 2026, 04:46 WIBJAKARTA - Dokter umum Prodia Children Jakarta dr. Kristin Tjandra menyoroti fenomena masyarakat yang kerap menyangkal (denial) kondisi kesehatannya sendiri serta bahaya melakukan diagnosis mandiri (self-diagnose) melalui internet dan kecerdasan buatan (AI) tanpa konfirmasi medis.
âSekarang banyak sekali informasi di media sosial, bahkan pasien bertanya dulu ke ChatGPT. Baru batuk sedikit yang keluar pertama kali adalah kematian, akhirnya datang ke dokter dalam kondisi sangat takut dan parno,â kata Kristin dalam diskusi kesehatan oleh Pfizer Indonesia di Jakarta, Kamis (24/9).
Kristin menilai kebiasaan mencari diagnosis mandiri secara sembarangan kerap memicu salah persepsi dan kepanikan yang tidak perlu, padahal keluhan yang dialami belum tentu seburuk yang diperkirakan.
Selain tren diagnosis mandiri, ia juga menyoroti kebiasaan umum masyarakat Indonesia yang baru mau memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan saat tubuh sudah mengalami keluhan atau sakit parah.
Menurut dia, sangat jarang ada individu yang berinisiatif melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh (medical check-up) saat tubuhnya sedang merasa paling prima dan bugar.
âBanyak orang merasa dirinya sangat sehat, tapi ketika hasil laboratorium keluar, ternyata indikatornya sudah banyak tanda bintang (tidak normal). Mereka sudah masuk kategori penderita diabetes atau hipertensi tanpa keluhan,â jelasnya.âââââââ
Kristin mengibaratkan pemeriksaan kesehatan seperti membuka celengan. Sebagian orang enggan memeriksakan diri karena takut mengetahui penyakit yang tersimpan di dalam tubuhnya, padahal bukti hitam di atas putih justru memberi kesempatan untuk memperbaiki pola hidup sebelum terlambat.
Guna menjembatani kesenjangan komunikasi antara pasien dan tenaga medis, Kristin menyarankan masyarakat untuk lebih proaktif dan mempersiapkan diri sebelum berkonsultasi ke dokter.
Pasien diimbau mencatat daftar keluhan serta pertanyaan yang ingin diketahui di selembar kertas, termasuk membawa riwayat berkas rekam medis sebelumnya agar konsultasi dapat berjalan efektif dua arah.
âDokter bukan dukun yang bisa langsung menebak semuanya. Komunikasi dua arah itu penting. Tulis apa yang ingin dokter jawab dan jangan ragu bertanya mengenai langkah pencegahan (prevention) agar tidak kembali lagi dengan penyakit yang sama,â tutur Kristin. Ant
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Opik
Berita Terkait:
-
WMO dan PBB Peringatkan El Niño Meningkat Menuju Level Sangat Kuat, Timbulkan Risiko Cuaca Ekstrem hingga 2027 dan Dampaknya pada Masyarakat Rentan
-
Mulai 1 September, Harga BBM Dexlite Naik hingga Rp23.700 per Liter
-
Bukan Cuma Jago Pakai AI! Polresta Cilacap Bekali Siswa SMAN 1 Kroya Agar Tak Tertipu Hoaks
-
Airlangga Pelajari Strategi Kanada Bangun Pusat Data AI, RI Siap Kejar Ketertinggalan?
-
El Nino Bergeser ke Timur, Peru Kini Masuk Status Darurat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.