Yu Zidi Lengkapi Hat-trick Emas, Tiongkok Makin Dominan di Asian Games 2026

Kamis, 24 Sep 2026, 00:02 WIB

NAGOYA, JEPANG — Usianya baru 13 tahun, tetapi Yu Zidi sudah mampu mencuri perhatian di panggung olahraga terbesar Asia. Perenang muda Tiongkok itu melengkapi hat-trick medali emas pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 setelah memenangi nomor 400 meter gaya ganti perorangan putri, Rabu (23/9). Yu tampil dominan sejak awal hingga menyentuh finis dengan catatan 4 menit 28,56 detik, sekaligus memecahkan rekor Asian Games.

Catatan tersebut membuat Yu menjadi salah satu bintang muda paling menonjol dalam persaingan renang di Asian Games kali ini. Sebelumnya, ia sudah merebut emas nomor 200 meter gaya kupu-kupu dan 200 meter gaya ganti perorangan. Kedua kemenangan itu juga diraihnya dengan catatan rekor Asian Games.

Ket. Foto: Yu Zidi. — Sumber: Asian Games 2026

Yu bahkan mengalahkan rekan senegaranya, Ke Wenxi, yang meraih perak, sedangkan perenang Jepang, Mio Narita, membawa pulang perunggu. Keunggulan Yu di nomor 400 meter gaya ganti mencapai 3,95 detik atas Ke.

Dengan performa tersebut, Yu mulai mendapat perhatian sebagai salah satu calon peraih medali pada Olimpiade Los Angeles 2028. Catatan waktunya di Nagoya juga menjadi salah satu yang tercepat di dunia sepanjang tahun ini, hanya berada di belakang perenang Kanada, Summer McIntosh, berdasarkan laporan BBC.

Bagi Tiongkok, keberhasilan Yu sekaligus menjadi bagian dari dominasi mereka di kolam renang Asian Games. Sejak awal kompetisi, para perenang Tiongkok tampil konsisten mengumpulkan medali emas.

Pada hari yang sama, Korea Utara mendapatkan emas pertamanya di Asian Games Aichi-Nagoya melalui penampilan luar biasa lifter Ri Song Gum.

Ri menjadi juara kelas 49 kilogram putri setelah membukukan total angkatan 215 kilogram. Ia mengangkat 94 kilogram pada snatch dan 121 kilogram pada clean and jerk. Ketiga catatan tersebut menjadi rekor dunia.

Medali emas tersebut sekaligus menjadi emas ketiga Ri secara beruntun di Asian Games. Ia sebelumnya menjadi juara pada Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang dan Asian Games 2023 di Hangzhou.

Ri juga mencatat sejarah sebagai lifter perempuan pertama yang mampu mengoleksi tiga medali emas Asian Games. Secara keseluruhan, ia menjadi lifter keempat yang mencapai pencapaian tersebut.

Dengan tinggi sekitar 140 sentimeter, Ri menunjukkan kekuatan luar biasa. Pada angkatan snatch, ia mengangkat 94 kilogram, satu kilogram lebih tinggi dari rekor dunia sebelumnya.

Pada clean and jerk, Ri kemudian mengangkat 116 kilogram sebelum kembali memecahkan rekor dengan angkatan 121 kilogram. Total 215 kilogram juga menjadi rekor dunia baru.

“Alasan saya mendapatkan emas ini adalah demi perasaan negara saya. Masyarakat memiliki harapan yang sangat besar kepada saya,” ujar Ri. “Saya ingin mengangkat nama negara saya di atas kedua bahu kecil ini.”

Suasana upacara penghormatan medali berlangsung emosional ketika lagu kebangsaan Korea Utara dimainkan. Dukungan dari para penggemar Korea Utara yang tinggal di Jepang membuat atmosfer di arena semakin meriah.

Persaingan kelas tersebut juga membawa kabar positif bagi Indonesia. Luluk Diana Tri Wijayana berhasil merebut medali perunggu setelah membukukan total angkatan 191 kilogram. Ia mencatat 88 kilogram pada snatch dan 103 kilogram pada clean and jerk.

Medali emas menjadi milik Ri dengan 215 kilogram, sedangkan lifter India, Mirabai Chanu, meraih perak dengan total 198 kilogram.

Bagi Chanu, medali tersebut juga memiliki arti penting karena menjadi medali Asian Games pertamanya setelah dua penampilan sebelumnya.

Di cabang atletik, Tiongkok juga menambah koleksi emas melalui nomor jalan cepat half-marathon putra dan putri. Shi Shengji memenangkan nomor putra, sedangkan Yang Liujing menjadi yang terbaik pada nomor putri.

“Saya berjalan dengan kekuatan,” kata Yang, merujuk pada arti namanya.

Ketika ditanya mengenai keberhasilan Tiongkok merebut emas di kedua nomor tersebut, Yang menjawab bahwa hasil itu merupakan sesuatu yang biasa bagi negaranya. “Saya rasa memang normal bagi kami untuk menyapu medali emas,” ujarnya.

Dari bulu tangkis, pemain nomor satu dunia An Se-young berhasil memenangi pertandingan yang dimainkannya. Namun, Korea Selatan harus mengakhiri kiprahnya di nomor beregu putri setelah kalah 1-3 dari Jepang pada semifinal.

An yang berstatus juara dunia dan juara Olimpiade juga sempat melontarkan candaan mengenai ayahnya yang menyaksikan pertandingan dari tribun.

“Biasanya orang tua tidak tahan melihat anak mereka bertanding. Tetapi ayah saya sepertinya bisa menonton dengan sangat santai, dan itu agak berlebihan,” kata An.

“Saya berlari sampai hampir menghabiskan seluruh tenaga, sementara dia hanya duduk nyaman sambil terus memberikan dukungan.”

Sementara itu, Tiongkok merebut medali emas nomor beregu putra senam, mengungguli Jepang.

Hasil tersebut membuat tim tuan rumah harus puas dengan medali perak. Salah satu andalan Jepang, Daiki Hashimoto, mengaku kecewa dengan hasil tersebut.

“Peringkat kedua. Perasaan yang paling jujur adalah sangat frustrasi,” ujar Hashimoto.

Di tengah persaingan ketat antarkekuatan olahraga Asia, Tiongkok terus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu negara paling dominan di Asian Games Aichi-Nagoya.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.