Perkuat Bantalan Ekonomi, RI Harus Jaga Konsumsi, Investasi, dan Daya Beli
Kamis, 24 Sep 2026, 03:05 WIBJAKARTA - Bank Indonesia (BI) memandang bahwa prospek perekonomian global belum kuat, disertai dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi. Tensi perang di Timur Tengah yang kembali meningkat semakin mendorong tingginya harga minyak yang sempat menyentuh level 132 dollar AS per barel, sebelum kemudian kembali turun ke level di bawah 100 dollar AS per barel pada 22 September 2026.Â
Gubernur BI, Destry Damayanti dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (23/9) mengatakan akibat dari fluktuasi harga minyak tersebut, sejumlah komoditas dunia lainnya turut mengalami kenaikan harga.
âPertumbuhan ekonomi global 2026 diprakirakan masih lemah sekitar 3 persen dan diikuti tekanan inflasi yang meningkat menjadi sekitar 4 persen,â kata Destry.
Berdasarkan catatan Bank Sentral, kebijakan moneter global menjadi lebih ketat, karena kenaikan suku bunga kebijakan moneter AS atau Fed Funds Rate (FFR) menjadi 3,75 persen hingga 4 persen pada September 2026, dengan kemungkinan peningkatan kembali yang masih tinggi.
Imbal hasil atau yield US Treasury juga meningkat seiring ekspektasi kenaikan Fed Funds Rate dan defisit anggaran pemerintah Amerika Serikat (AS) yang besar.
Lebih lanjut, referensi investor global terhadap investasi portfolio ke negara emerging market tertahan dan berdampak pada tetap kuatnya indeks mata uang dollar AS terhadap negara maju dan negara berkembang.
Bergantung Faktor Geopolitik
Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dian Anita Nuswantara, mengatakan, kondisi ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian perlu menjadi perhatian Indonesia, terutama karena kenaikan harga minyak dan komoditas dapat memengaruhi biaya produksi, inflasi, hingga neraca perdagangan.
âKalau bahan bakar minyak (BBM) naik tinggi, efeknya bukan hanya di pom bensin. Biaya logistik, transportasi, sampai produksi barang juga bisa ikut naik,â kata Dian.
Penurunan harga minyak dari sempat mencapai 132 dollar AS ke bawah 100 dollar AS per barel memberikan sedikit ruang bagi perekonomian, tetapi situasinya masih sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik dan kondisi pasar global.
âJadi jangan cepat merasa aman ketika harga minyak turun. Pasar sekarang sensitif sekali terhadap berita dari Timur Tengah. Memanas sedikit saja, harga komoditas bisa langsung bergerak,â katanya.
Ia menilai Indonesia perlu menjaga stabilitas ekonomi domestik dengan memperkuat konsumsi, investasi, serta daya beli masyarakat. Kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia juga perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi.
âIntinya, kita perlu punya bantalan yang cukup. Kalau ekonomi global cuma tumbuh sekitar 3 persen dan inflasi global naik, Indonesia harus lebih mengandalkan kekuatan ekonominya sendiri,â pungkas Dian.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Dari Deteksi hingga Prediksi: AI Mengubah Cara Indonesia Hadapi Serangan Siber
-
Dorong Ekonomi Hijau, IRT Denpasar Sulap Sampah Dapur Jadi Pupuk Anggrek
-
Peru Resmi Ceraikan Hubungan Diplomatik dengan Iran
-
Mahfud MD Nilai Polri Berkinerja Baik, Jamin Rasa Aman dan Nyaman di Masyarakat
-
Pemerintah Kabupaten Subang Usulkan Pemekaran Desa untuk Efisiensi Pelayanan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.