Kontroversi Wasit Laga Derbi Madrid Memanas, Presiden La Liga dan Real Madrid Saling Serang

Kamis, 24 Sep 2026, 00:08 WIB

MADRID, SPANYOL — Perseteruan antara Real Madrid dan Presiden La Liga Javier Tebas kembali memanas. Kali ini, kontroversi berawal dari persoalan keputusan wasit dalam derbi Madrid yang berakhir dengan kekalahan Los Blancos 1-2 dari Atletico Madrid.

Tebas pada hari Rabu (23/9) mengecam anggapan bahwa Real Madrid menjadi korban sebuah “konspirasi” wasit setelah kekalahan tersebut. Pernyataan itu disampaikan Tebas melalui media sosial sebagai respons terhadap sebuah artikel yang mendukung Real Madrid dan mempertanyakan keputusan-keputusan wasit dalam pertandingan.

Ket. Foto: Presiden La Liga, Javier Tebas — Sumber: La Liga

Kontroversi bermula setelah pelatih Real Madrid, Jose Mourinho, melontarkan kritik keras terhadap kepemimpinan wasit Miguel Angel Ortiz Arias seusai pertandingan di Metropolitano.

Dalam konferensi pers, Mourinho bahkan membawa dua lembar cetakan tangkapan layar yang menurutnya menunjukkan pelanggaran pemain Atletico yang layak diganjar kartu merah.

Mourinho menyoroti dua insiden, yakni tindakan Cristian Romero terhadap Jude Bellingham serta tekel Lee Kang-in terhadap Federico Valverde. Mourinho menilai kedua pemain Atletico tersebut seharusnya dikeluarkan dari lapangan.

Real Madrid sendiri akhirnya bermain dengan 10 pemain setelah Dean Huijsen mendapat kartu merah pada babak kedua.

Tebas menolak keras narasi bahwa perangkat pertandingan sengaja diarahkan untuk merugikan Real Madrid. “Menuding bahwa wasit diarahkan untuk melawan Real Madrid sama saja seperti hidup di galaksi lain,” kata Tebas.

Menurut dia, narasi tersebut justru digunakan sebagai alasan untuk menutupi persoalan lain yang terlihat dari performa Real Madrid pada awal musim.

“Lebih mudah menunjuk adanya konspirasi daripada menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan,” ujar Tebas.

Tebas juga menyinggung posisi Real Madrid sebagai salah satu klub terbesar di La Liga. Ia mengakui pentingnya keberadaan klub ibu kota Spanyol tersebut, tetapi menolak anggapan bahwa kompetisi tidak memiliki nilai tanpa Real Madrid.

“Real Madrid sangat penting bagi La Liga. Tetapi mengatakan bahwa ‘La Liga tidak ada artinya’ tanpa mereka menunjukkan sikap meremehkan klub-klub lain, para penggemarnya, dan sejarah mereka. Kompetisi ini bukan milik siapa pun,” kata Tebas.

Tebas selama bertahun-tahun memang memiliki hubungan yang penuh ketegangan dengan Real Madrid dan presidennya, Florentino Perez. Perselisihan keduanya antara lain berkaitan dengan persoalan tata kelola sepak bola Spanyol dan hak audiovisual.

Real Madrid tidak tinggal diam. Beberapa jam setelah pernyataan Tebas muncul, klub mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam sikap Presiden La Liga tersebut.

Real Madrid menyebut komentar Tebas sebagai sesuatu yang “tidak dapat ditoleransi”. Klub juga menilai Tebas telah menggunakan posisi institusionalnya untuk terus mendiskreditkan dan menyerang Real Madrid.

“Klub kami menganggap tidak dapat ditoleransi bahwa presiden La Liga menggunakan posisi institusionalnya untuk terus mendiskreditkan dan menyerang Real Madrid melalui berbagai pernyataan publiknya,” demikian pernyataan klub.

Real Madrid kemudian menilai sepak bola profesional Spanyol membutuhkan pemimpin yang mampu menjalankan kompetisi dengan prinsip netralitas.

“Dengan perilaku yang tidak pantas ini, yang telah berlangsung dari waktu ke waktu, kami percaya sepak bola profesional di Spanyol sangat membutuhkan seorang pemimpin yang mampu mengelolanya dan mengembangkan seluruh potensinya dengan kewajiban mendasar berupa netralitas,” lanjut pernyataan tersebut.

Di tengah perang pernyataan antara Tebas dan Real Madrid, muncul perkembangan penting dari sisi teknis perwasitan. Komite Teknis Wasit Spanyol mengakui adanya “kesalahan yang jelas dan nyata” dalam salah satu insiden yang dipersoalkan Mourinho. Mereka juga menyatakan bahwa VAR seharusnya melakukan intervensi pada insiden tersebut.

Pengakuan itu memberikan konteks baru terhadap kontroversi yang muncul setelah derbi Madrid. Namun, hal tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan adanya konspirasi atau pengarahan wasit untuk merugikan Real Madrid.

Salah satu insiden yang menjadi sorotan adalah tekel Lee Kang-in terhadap Federico Valverde. Valverde mampu menyelesaikan pertandingan, tetapi kemudian klub menyatakan bahwa sang gelandang mengalami trauma berat pada pergelangan kaki kirinya dan harus menjalani pemeriksaan lanjutan.

Kritik terhadap wasit menjadi salah satu cerita utama setelah Mourinho kembali menangani Real Madrid. Pelatih asal Portugal itu kembali ke Santiago Bernabeu pada awal musim ini setelah meninggalkan klub selama bertahun-tahun. Ia mendapat tugas mengakhiri periode dua musim tanpa trofi utama.

Namun, awal musim belum berjalan mulus. Kekalahan dari Atletico membuat Real Madrid tertinggal enam poin dari Barcelona yang berada di puncak klasemen. Posisi tersebut menambah tekanan terhadap Mourinho dan timnya pada awal musim.

Di tengah situasi tersebut, perdebatan mengenai keputusan wasit justru berkembang menjadi konflik terbuka antara Real Madrid dan petinggi La Liga.

Mourinho mempersoalkan sejumlah keputusan di lapangan. Tebas menilai narasi konspirasi bukan jawaban atas persoalan yang dihadapi Real Madrid. Sementara itu, klub meminta agar kepemimpinan La Liga dijalankan dengan prinsip netralitas.

Dengan demikian, kontroversi derbi Madrid belum berakhir ketika peluit panjang dibunyikan. Kekalahan 1-2 dari Atletico justru berkembang menjadi perselisihan terbuka yang melibatkan Mourinho, Real Madrid, perangkat wasit, dan Presiden La Liga Javier Tebas.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.