Akuatik Jabar Latih 100 Pelatih Dorong Manajemen Olahraga Modern

Selasa, 22 Sep 2026, 00:30 WIB

Kabupaten Bekasi - Pengurus Provinsi Akuatik Jawa Barat menggelar pelatihan jenjang  madya bagi 100 pelatih dari seluruh Indonesia di Cikarang, Kabupaten Bekasi 21-22 September 2026 sekaligus implementasikan manajemen olahraga modern.

Ketua Umum Akuatik Jawa Barat Verdia Yosep menekankan pentingnya peningkatan kualitas pelatih sebagai penunjang untuk menciptakan ekosistem olahraga secara profesional dan berkelanjutan dengan dimensi lebih luas.

Ket. Foto: Peserta pelatihan lisensi madya pelatih akuatik se-Indonesia di salah satu hotel wilayah Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (21/9). — Sumber: Antara

"Selain mengejar prestasi, olahraga juga dapat menjadi bagian dari pengembangan industri olahraga, mempererat persatuan serta membentuk kesehatan fisik, mental dan kedisiplinan," kata Yosef saat membuka kegiatan di Cikarang, Senin (21/9).

Ia menjelaskan manajemen olahraga modern menyediakan infrastruktur, teknologi hingga sistem sementara pelatih berkualitas bertindak sebagai eksekutor utama di lapangan yang menerjemahkan sistem tersebut menjadi sebuah prestasi.

Dirinya mendorong agar para pelatih tidak hanya berpikir dalam lingkup kompetisi lokal tetapi mulai membangun pola pembinaan yang mampu mempersiapkan atlet menghadapi persaingan semakin tinggi.

"Pandangan tersebut sekaligus menuntut adanya perubahan paradigma dalam pembinaan. Atlet tidak cukup hanya dilatih keras. Mereka membutuhkan program terukur, evaluasi berkala hingga pendekatan ilmiah," ujarnya.

Kegiatan pelatihan pelatih ini diisi dengan penyampaian lima materi utama dari para pakar profesional mencakup biomekanika cabang olahraga akuatik, stroke mechanics atau keterampilan gerak hingga peraturan renang maupun perlombaan. Seluruhnya diberikan di hari pertama.

Di hari kedua, peserta menerima materi 'Long Term Athlete Development' (LTAD) mencakup mental, skill dan motivasi serta sistem monitoring latihan untuk memastikan perenang berkembang sesuai usia biologis maupun kematangan fisik, bukan sekadar mengejar prestasi instan.

Materi terakhir yang diberikan pada pelatihan ini berkaitan perencanaan dan periodesasi latihan. Dilanjutkan analisis performa, manajemen kepelatihan dasar, dry land atau pelatihan kondisi fisik serta ditutup dengan evaluasi melalui uji kompetensi peserta sebelum mendapatkan sertifikat madya.

Ketua Umum Akuatik Indonesia Kabupaten Bekasi Wanto menegaskan pelatihan ini tidak boleh berhenti pada persoalan mendapatkan lisensi namun harus mampu menerapkan seluruh materi yang diberikan saat kembali ke masing-masing klub maupun tempat latihan.

Menurut dia seorang pelatih tidak cukup hanya menguasai teknik renang namun juga dituntut memahami penyusunan program latihan, pembinaan atlet, evaluasi serta perkembangan metode kepelatihan.

"Jangan sampai punya lisensi tetapi pola latihan tidak berubah. Karena sertifikasi seyogyanya menjadi momentum peningkatan kualitas, bukan sekadar legitimasi administratif seorang pelatih," katanya.

Tingginya antusias peserta pada kegiatan pelatihan ini menuntut pekerjaan rumah berikutnya yang jauh lebih besar, membawa ilmu serta wawasan yang diterima untuk diterapkan sebagai menu latihan sehari-hari atlet jika tidak ingin momentum tersebut sebatas agenda formal menerima lisensi.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum KONI Kabupaten Bekasi Marto Firmansyah mengapresiasi pelatihan kepada 100 pelatih akuatik sebagai langkah strategis meningkatkan kapasitas kepelatihan yang menjadi bagian penting membangun fondasi olahraga prestasi.

"Hanya dari pelatih hebatlah akan lahir atlet-atlet yang hebat pula. Olahraga akuatik, termasuk renang juga merupakan salah satu cabang unggulan yang diharapkan memberikan kontribusi medali bagi Kabupaten Bekasi maupun Jawa Barat," ujarnya.

Menurutnya, peningkatan kompetensi pelatih harus mendapat dukungan berkelanjutan. Namun, dukungan itu juga membutuhkan ukuran keberhasilan yang jelas. Bukan hanya berapa banyak pelatih yang mengikuti, melainkan seberapa besar dampak terhadap atlet setelah pelatihan selesai.

"Apakah prestasi meningkat atau justru tetap berjalan di tempat? Pertanyaan itu pada akhirnya hanya bisa dijawab melalui evaluasi yang objektif dan data prestasi atlet," kata dia.

  • akuatik indonesia

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.