Ketahanan Pangan dalam Kepungan Krisis Ekonomi
Rabu, 10 Jun 2026, 00:00 WIBKetahanan pangan menghadapi tekanan kompleks akibat inflasi, pelemahan rupiah, dan menyusutnya surplus perdagangan yang meningkatkan biaya produksi pertanian dan menggerus daya beli masyarakat.
JAKARTA â Ketahanan pangan nasional menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring meningkatnya inflasi, pelemahan rupiah, dan menyusutnya surplus neraca perdagangan. Ketahanan pangan nasional kini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan produksi, tetapi juga oleh stabilitas ekonomi makro yang menopang sektor pertanian dan distribusi pangan.
Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku pertanian, pupuk, benih, hingga alat produksi yang masih bergantung pasokan dari luar negeri, sementara inflasi mengurangi daya beli masyarakat terhadap bahan pangan. Di saat yang sama, menyusutnya surplus perdagangan mengindikasikan berkurangnya bantalan eksternal yang dapat menopang stabilitas ekonomi.
Kondisi ini membuat petani menghadapi kenaikan biaya produksi yang tidak selalu diimbangi oleh peningkatan harga jual hasil panen, sehingga berisiko menekan produktivitas dan menghambat upaya menjaga pasokan pangan dalam jangka menengah hingga panjang.
Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa Denpasar, I Nengah Muliarta menilai inflasi pangan saat ini bergeser dari masalah musiman menjadi persoalan struktural akibat tingginya ketergantungan sektor pertanian terhadap bahan baku impor. "Ketergantungan sangat tinggi terhadap komponen impor, mulai dari bahan baku pupuk kimia seperti fosfat dan kalium, bahan baku pakan ternak berupa bungkil kedelai, hingga obat-obatan pertanian," ujarnya, Selasa (9/6).
Dia menambahkan pelemahan rupiah menyebabkan biaya produksi petani meningkat karena harga pupuk, pakan ternak, dan obat-obatan pertanian ikut naik, sementara daya beli masyarakat yang melemah membatasi kenaikan harga jual hasil pertanian. Menurutnya, menyusutnya surplus perdagangan juga menunjukkan ketergantungan yang masih besar terhadap impor komoditas pangan seperti gandum, kedelai, dan gula, di tengah lambatnya proses hilirisasi industri.
Selain itu, kebijakan tarif impor Amerika Serikat berpotensi menekan daya saing ekspor pertanian dan perikanan Indonesia sehingga diperlukan langkah proteksi yang tepat agar pasar domestik tidak dibanjiri produk impor murah yang dapat merugikan petani lokal. âJika pemerintah tidak mengambil langkah proteksi yang memadai, pasar dalam negeri berisiko dibanjiri produk pangan impor murah yang menekan eksistensi petani lokal,â tegasnya.
Seperti diketahui, petani menghadapi tekanan yang semakin besar akibat kenaikan harga sarana produksi pertanian seperti benih, pupuk, dan pestisida, yang diperparah oleh potensi gangguan cuaca El Nino. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya usaha tani sehingga petani dituntut lebih efisien dan cermat dalam mengelola produksi agar tetap memperoleh keuntungan.
- Ketahanan Pangan
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Bengkulu Gelar Razia Kos dan Hotel Antisipasi Prostitusi Saat Ramadhan
-
Menteri PPN/Bappenas : PTPN I (Persero) Domain Ketahanan Pangan dan Energi
-
Konflik Global Mengancam Daya Beli, BPKN Desak Penguatan Perlindungan Konsumen dan Reformasi Regulasi
-
Kekayaan Nilai dan Budaya dalam Tradisi Gelaran Imlek Nusantara
-
Mentan Serukan agar Kampus Perkuat Hilirisasi Pertanian Nasional
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.