Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Warisan Pemikiran Jerman Hadir dalam Antologi Puisi Dwibahasa untuk Pembaca Indonesia

📅 Selasa, 09 Jun 2026, 17:48 WIB | Oleh:

Ia menilai karya-karya Goethe, Schiller, dan Nietzsche tidak sekadar memiliki nilai estetika, tetapi juga menjadi rekaman sejarah pemikiran dan falsafah hidup yang membentuk peradaban modern Jerman hingga saat ini.

Menerjemahkan Kata, Memindahkan Jiwa

Bagi Agus R. Sarjono, tantangan terbesar dalam proyek ini bukan hanya menerjemahkan bahasa, melainkan juga menjaga ruh puisi agar tetap hidup dalam bahasa Indonesia.

Selama bertahun-tahun proses penerjemahan berlangsung secara kolaboratif, keduanya berupaya menghadirkan kembali ritme, nuansa emosional, dan kedalaman filosofis puisi-puisi asli Jerman kepada pembaca Indonesia.

Ia menekankan bahwa tujuan utama mereka bukan sekadar mengalihbahasakan kata demi kata, melainkan mentransfer “jiwa” puisi agar tetap beresonansi dengan indah, mengalir, dan mudah dipahami tanpa kehilangan makna yang terkandung di dalamnya.

Salah satu karya yang dibacakan dalam acara tersebut adalah puisi Friedrich Nietzsche berjudul Tujuh Meterai.

Oh, bagaimana aku tak syahwatkan keabadian
Dan cincin kawin segala cincin,
Cincin Sang Keberulangan!
Tak pernah kutemukan perempuan
Yang ingin kujadikan ibu anak-anakku,
Kecuali perempuan yang kucintai ini:
Karena kucintai kau, oh Keabadian!
Karena kucintai kau, oh Keabadian!

Sebaiknya Anda baca juga:

Bait tersebut dikenal luas dalam diskusi sastra karena memuat gagasan filsafat Nietzsche tentang keabadian dan konsep eternal recurrence atau keberulangan abadi.

Dalam puisi itu, Nietzsche mempersonifikasikan keabadian sebagai sosok perempuan ideal yang dicintainya. Simbol “cincin kawin segala cincin” atau “cincin Sang Keberulangan” menggambarkan kehidupan yang berputar tanpa akhir seperti lingkaran cincin.

Bagi Nietzsche, menerima bahwa seluruh peristiwa dalam hidup—baik kebahagiaan maupun penderitaan—akan terus berulang merupakan bentuk tertinggi penerimaan terhadap kehidupan atau yang dikenal sebagai Amor Fati.

Selain peluncuran buku, suasana acara semakin hidup dengan penampilan musikalisasi puisi yang dibawakan Agus R. Sarjono bersama Cherly Chairani, serta pembacaan puisi dalam bahasa Jerman. Perpaduan sastra, musik, dan dialog budaya itu menjadi simbol bahwa hubungan Indonesia dan Jerman tidak hanya terjalin melalui kerja sama resmi, tetapi juga melalui bahasa universal yang mampu menembus batas negara: puisi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Cuaca Panas Ekstrem Bayangi...
Luar Negeri
Aturan Baru Afghanistan: PN...

Revolusi Flamingo Guncang Albania

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Revolusi Flamingo Guncang A...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Jadwal Lengkap Konser Musik di Jakarta Fair Kemayoran PRJ 2026

Jadwal Lengkap Konser Musik di Jakarta Fair Kemayoran PRJ 2026

09 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 3
# 3
Ratifikasi IEU-CEPA Dorong Daya Saing
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.