Warisan Pemikiran Jerman Hadir dalam Antologi Puisi Dwibahasa untuk Pembaca Indonesia

Selasa, 09 Jun 2026, 17:48 WIB

JAKARTA — Hubungan budaya antara Indonesia dan Jerman kembali menemukan momentum penting melalui dunia sastra. Di tengah berbagai kerja sama yang selama ini dikenal dalam bidang teknologi, pendidikan, dan ekonomi, kedua negara kini memperkuat ikatan melalui peluncuran buku Antologi Puisi Agung Jerman di Perpustakaan Habibie & Ainun, di Jakarta, pada hari Kamis (8/6).

Buku dwibahasa tersebut merupakan hasil kurasi dan penyuntingan dua sastrawan lintas negara, Agus R. Sarjono dari Indonesia dan Berthold Damshäuser dari Jerman. Acara peluncuran dihadiri Duta Besar Jerman untuk Indonesia Ralf Beste, Direktur Goethe-Institut Jakarta Constanze Michel, sejumlah penyair, akademisi, serta pegiat sastra.

Ket. Foto: Peluncuran buku, 'Antologi Puisi Agung Jerman', di Perpustakaan Habibie & Ainun, Jakarta. Antologi puisi dwibahasa yang memuat karya Goethe, Schiller, Nietzsche, dan Rilke diluncurkan di Jakarta, menghadirkan warisan pemikiran dan budaya Jerman bagi pembaca Indonesia. — Sumber: Istimewa

Pemilihan Perpustakaan Habibie & Ainun sebagai lokasi peluncuran bukan tanpa alasan. Tempat itu merepresentasikan warisan pemikiran Presiden RI ke-3 B.J. Habibie yang dikenal memiliki kedekatan intelektual dengan Jerman dan mengagumi filosofi serta keteraturan budaya negara tersebut.

Menurut Dr. Ing. Ilham Akbar Habibie, kehadiran buku itu diharapkan dapat mempererat pemahaman emosional dan intelektual antara masyarakat Indonesia dan Jerman melalui karya-karya para pemikir besar Jerman.

Ilham menegaskan bahwa hubungan kedua negara tidak hanya dibangun di atas fondasi teknologi dan ekonomi, tetapi juga melalui kebudayaan yang menjadi jembatan pemahaman antarmasyarakat.

“Melalui puisi, kita diajak menyelami kedalaman rasa, sejarah, dan dinamika pemikiran masyarakat Jerman yang diterjemahkan dengan sangat indah ke dalam bahasa Indonesia,” tutur Ilham.

Hidupnya Hubungan Kultural Lewat Puisi

Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, turut memberikan apresiasi terhadap penerbitan antologi tersebut. Menurutnya, buku itu menjadi jembatan kultural yang mampu mempererat hubungan diplomatik kedua negara melalui sastra.

Ralf memuji keberanian dan dedikasi Agus R. Sarjono serta Berthold Damshäuser dalam menerjemahkan karya-karya puisi klasik Jerman yang sarat makna. Menurutnya, kedua editor berhasil menghadirkan keindahan rasa dan kedalaman filosofi puisi-puisi tersebut ke dalam bahasa Indonesia tanpa kehilangan esensinya.

Peluncuran buku ini sekaligus menunjukkan bagaimana sastra dapat menjadi sarana diplomasi budaya yang efektif. Ketika hubungan antarnegara sering kali dibangun melalui kerja sama formal, puisi justru menawarkan ruang yang lebih personal untuk memahami sejarah, nilai, dan cara pandang masyarakat lain.

Kolaborasi Puluhan Tahun Dua Sastrawan

Antologi Puisi Agung Jerman menghimpun karya para penyair besar yang telah membentuk wajah sastra dan pemikiran Jerman, mulai dari Johann Wolfgang von Goethe, Friedrich Schiller, Friedrich Nietzsche, hingga Rainer Maria Rilke.

Proyek penerjemahan dan penyuntingan tersebut menjadi puncak dari kolaborasi panjang Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser, akademisi sekaligus Indonesianis dari Universitas Bonn. Keduanya telah konsisten menjembatani hubungan sastra Indonesia dan Jerman sejak awal 2000-an.

Dalam peluncuran itu, Berthold Damshäuser menjelaskan bahwa antologi tersebut lahir dari kecintaannya terhadap sastra Jerman dan keinginan untuk memperkenalkannya kepada pembaca Indonesia.

Ia menilai karya-karya Goethe, Schiller, dan Nietzsche tidak sekadar memiliki nilai estetika, tetapi juga menjadi rekaman sejarah pemikiran dan falsafah hidup yang membentuk peradaban modern Jerman hingga saat ini.

Menerjemahkan Kata, Memindahkan Jiwa

Bagi Agus R. Sarjono, tantangan terbesar dalam proyek ini bukan hanya menerjemahkan bahasa, melainkan juga menjaga ruh puisi agar tetap hidup dalam bahasa Indonesia.

Selama bertahun-tahun proses penerjemahan berlangsung secara kolaboratif, keduanya berupaya menghadirkan kembali ritme, nuansa emosional, dan kedalaman filosofis puisi-puisi asli Jerman kepada pembaca Indonesia.

Ia menekankan bahwa tujuan utama mereka bukan sekadar mengalihbahasakan kata demi kata, melainkan mentransfer “jiwa” puisi agar tetap beresonansi dengan indah, mengalir, dan mudah dipahami tanpa kehilangan makna yang terkandung di dalamnya.

Salah satu karya yang dibacakan dalam acara tersebut adalah puisi Friedrich Nietzsche berjudul Tujuh Meterai.

Oh, bagaimana aku tak syahwatkan keabadian
Dan cincin kawin segala cincin,
Cincin Sang Keberulangan!
Tak pernah kutemukan perempuan
Yang ingin kujadikan ibu anak-anakku,
Kecuali perempuan yang kucintai ini:
Karena kucintai kau, oh Keabadian!
Karena kucintai kau, oh Keabadian!

Bait tersebut dikenal luas dalam diskusi sastra karena memuat gagasan filsafat Nietzsche tentang keabadian dan konsep eternal recurrence atau keberulangan abadi.

Dalam puisi itu, Nietzsche mempersonifikasikan keabadian sebagai sosok perempuan ideal yang dicintainya. Simbol “cincin kawin segala cincin” atau “cincin Sang Keberulangan” menggambarkan kehidupan yang berputar tanpa akhir seperti lingkaran cincin.

Bagi Nietzsche, menerima bahwa seluruh peristiwa dalam hidup—baik kebahagiaan maupun penderitaan—akan terus berulang merupakan bentuk tertinggi penerimaan terhadap kehidupan atau yang dikenal sebagai Amor Fati.

Selain peluncuran buku, suasana acara semakin hidup dengan penampilan musikalisasi puisi yang dibawakan Agus R. Sarjono bersama Cherly Chairani, serta pembacaan puisi dalam bahasa Jerman. Perpaduan sastra, musik, dan dialog budaya itu menjadi simbol bahwa hubungan Indonesia dan Jerman tidak hanya terjalin melalui kerja sama resmi, tetapi juga melalui bahasa universal yang mampu menembus batas negara: puisi.

  • Puisi
  • Diplomasi Budaya
  • hubungan bilateral
  • Ilham Akbar Habibie
  • Indonesia-Jerman
  • Sastra Jerman
  • Antologi Puisi Agung Jerman
  • Agus R Sarjono
  • Berthold Damshäuser
  • Ralf Beste
  • Goethe
  • Friedrich Nietzsche
  • Friedrich Schiller
  • Rainer Maria Rilke
  • Perpustakaan Habibie Ainun
  • Sastra Internasional
  • Goethe Institut Jakarta

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.