- Home
-
- Luar Negeri
-
- WHO: Perbaikan Sistem Kese...
WHO: Perbaikan Sistem Kesehatan Gaza Butuh Dana 10 Miliar Dollar AS
Minggu, 26 Apr 2026, 20:02 WIBJENEWA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat (24/5) mengumumkan bahwa pembangunan kembali dan rehabilitasi sistem kesehatan Gaza membutuhkan investasi 10 miliar dolar AS (sekitar Rp172 triliun) selama lima tahun.
Dalam konferensi pers di Jenewa yang disiarkan dari Yerusalem, Perwakilan WHO untuk wilayah Palestina yang diduduki, Reinhilde Van de Weerdt, mengatakan kerusakan di sektor kesehatan saja ditaksir mencapai 1,4 miliar dolar AS (sekitar Rp24 triliun).
Lebih dari 1.800 fasilitas kesehatan hancur sebagian atau hancur total, mulai dari rumah sakit besar hingga pusat perawatan kesehatan primer yang lebih kecil, klinik, apotek, dan laboratorium.
"Bangunan yang hancur dan tumpukan sampah menjadi tempat berkembang biak yang ideal bagi tikus dan hama. Sebanyak 80 persen dari 1.600 lokasi pengungsian kerap melihat kemunculan tikus dan hama; 80 persen lebih dari lokasi pengungsian ini melaporkan infeksi kulit, seperti rabies, kutu, dan kutu kasur," katanya.
Ia mencatat bahwa terlepas dari tantangan ini, upaya untuk meningkatkan sistem kesehatan di Gaza terus berjalan. WHO telah menambah 128 tempat tidur di Rumah Sakit Al-Shifa.
Namun, ia menekankan perlunya melindungi petugas kesehatan dan memastikan akses bebas hambatan bagi pasokan medis ke Jalur Gaza.
"Namun, agar penyelamatan nyawa memiliki dampak, kesehatan dan petugas kesehatan harus dilindungi dan obat-obatan serta pasokan penting harus masuk ke Gaza, termasuk penghapusan proses birokrasi dan pembatasan akses terhadap medis dan pasokan penting yang diakui secara global."
Menjawab pertanyaan terkait evakuasi medis, Van de Weerdt mengatakan ini adalah proses yang rumit dari sudut pandang keamanan dan logistik, tetapi yang terpenting dari sudut pandang hak pasien: pasien dan keluarganya berhak untuk dirawat di tempat tinggal mereka, dan itu artinya pasokan medis harus masuk ke Gaza.
"Pasien dapat meninggalkan Gaza untuk pergi ke rumah sakit di Yerusalem Timur atau di Tepi Barat: untuk melakukan itu, mereka akan pergi melalui perbatasan Rafah, menuju Mesir dan dari sana ke negara lain, dan baru-baru ini juga kembali ke Yordania. Evakuasi medis terakhir dilakukan pada 23 April, melalui Rafah, untuk 47 pasien dan 86 pendamping." Ant/WAFA
Berita Terkait:
-
Bantu Korban Bencana NTT, Kemenimipas Galang Donasi Rp1,8 Miliar
-
Di Forum ASEAN, Menaker Bawa Agenda Penguatan Keterampilan dan Pelindungan Pekerja
-
Robert Pattinson Jadi Pemburu Predator Anak, Film Barunya Bikin Geger Festival Venesia
-
Bocoran GTA 6 Makin Gila dari Cyberleek, Tapi 6 Fitur Penting Ini Malah Masih Misterius
-
Mendag Dorong Mahasiswa untuk Rintis Usaha Jadi Eksportir Muda
-
Demutualisasi BEI Dimulai, OJK Pasang Rem Kepemilikan Saham Maksimal 5 Persen
-
Bebas UKT Hingga Gratis Biaya Wisuda, Undana Selamatkan Masa Depan Mahasiswa Korban Gempa Flores
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.