Tim Konseling UB Bekali Mahasiswa Keterampilan Konselor Sebaya

Minggu, 12 Apr 2026, 16:54 WIB

MALANG - Tim Layanan Konseling Universitas Brawijaya (UB) membekali mahasiswa dengan keterampilan konselor kesehatan mental guna meningkatkan kepedulian terhadap kondisi psikologis di lingkungan kampus maupun diri sendiri. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Subdirektorat Layanan Konseling, Pencegahan Kekerasan Seksual, dan Perundungan Universitas Brawijaya, pada Sabtu (11/4), di Lantai 8 Gedung Rektorat UB.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa diajari bagaimana mendeteksi tanda-tanda awal krisis kesehatan mental, baik pada diri mereka sendiri maupun teman-teman di sekitar mereka,

Ket. Foto: Pelatihan Restrain. — Sumber: Istimewa

“Konselor yang baik adalah yang mampu membantu klien untuk mengambil keputusan sendiri, dan konseling bukan sekadar memberi solusi tetapi memahami perasaan klien, ” kata salah satu psikolog Ahmad Yafi. 

Dia menambahkan, empati adalah kunci utama dalam konseling, dan dengan memiliki empati, kita bisa lebih hadir dan memvalidasi perasaan orang lain.

“Budaya empati yang bisa di tumbuhkan di kampus membuat orang mau bercerita, orang mau speak up, orang mau asertif. Berkomunikasi secara asertif untuk mengatakan apa yang dia rasakan. Akhirnya budaya interaksi satu sama lain muncul. Tidak memendam. Itu yang akan membentuk budaya baru di kampus saya,” ujar Ahmad.

Dia juga menambahkan selain berbicara, pelatihan ini juga diisi materi bagaimana membangun budaya peduli antar sesama.

“Budaya peduli sama teman satu sama lain. Akhirnya kan orang mengobservasi, mendengarkan orang peduli satu sama lain, ‘Oh temanku seperti apa ya hari ini?’ dan sebagainya,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, Ahmad juga menekankan pentingnya ketekunan dalam mendengarkan.

“Jangan pernah bosan untuk mendengarkan. Karena semakin membuat kita menjadi candu untuk melakukan konseling,” ujarnya.

Ahmad menambahkan, bahwa banyak konselor yang akhirnya merasa ‘candu’ dengan profesi ini, karena kebahagiaan mereka datang ketika klien bisa berdiri sendiri.

Materi yang dipaparkan Ahmad tentang micro skills dalam konseling memberikan pemahaman tentang teknik-teknik dasar dalam konseling, seperti teknik eksplorasi, klarifikasi, dan parafrase, yang penting sebagai peer counselor dalam membantu teman atau diri sendiri saat menghadapi permasalahan emosional.

Pemateri lain Muhammad Sunarto membahas tentang manajemen krisis kesehatan jiwa dan praktik restrain yang aman dan beretika.

Sunarto menjelaskan bahwa mahasiswa harus mampu mengenali berbagai jenis krisis mental, seperti depresi, kecemasan berat, atau bahkan ide bunuh diri. Dalam kondisi ini, mahasiswa diharapkan mampu memberikan respon awal yang tepat dan mengarahkan individu yang sedang menghadapi krisis untuk mencari bantuan profesional.

“Restrain merupakan tindakan pembatasan atau pengendalian perilaku klien yang berpotensi membahayakan diri sendiri, orang lain, atau lingkungan. Restrain menjadi pilihan terakhir setelah semua upaya de-eskalasi gagal,” kata Ns. Sunarto.

Kegiatan ini merupakan langkah penting dalam membangun sistem pendampingan yang terintegrasi dan proaktif, di mana mahasiswa tidak hanya menjadi penerima layanan, tetapi juga dapat memberikan dukungan kepada teman-teman mereka yang membutuhkan.

Budaya kampus yang lebih terbuka menjadi pendukung utama dalam hal kesehatan mental.

“Semoga kedepan mahasiswa dapat saling berbicara dan berkomunikasi secara asertif, terutama saat ada teman yang membutuhkan bantuan,” kata Ahmad Yaffi.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.