Kampung Susu Lawu Magetan Tawarkan Paket Wisata Bernuansa Alam

Minggu, 15 Mar 2026, 14:05 WIB

MAGETAN – Upaya meningkatkan kunjungan wisatawan ke daerah kini terus digencarkan oleh berbagai pihak. Pemerintah daerah bersama pelaku usaha pariwisata mulai memperkuat promosi, memperbaiki fasilitas, hingga menghadirkan berbagai agenda menarik agar destinasi lokal semakin dilirik wisatawan.

Berbagai potensi yang dimiliki daerah, mulai dari keindahan alam, kekayaan budaya, hingga kuliner khas, menjadi daya tarik utama yang terus diperkenalkan kepada publik. Tak hanya itu, sejumlah daerah juga aktif menggelar festival, pertunjukan seni, serta kegiatan komunitas yang mampu menciptakan pengalaman berbeda bagi para pengunjung.

Ket. Foto: Kegiatan paket wisata Jika Aku Jadi Orang Desa yang dikembangkan oleh Desa Wisata Kampung Susu Lawu di lingkungan Singolangu, Sarangan, Plaosan, Magetan, Jatim. — Sumber: ANTARA/ HO-Diskominfo Kab Magetan

Harapannya, semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula dampak positif yang dirasakan masyarakat sekitar. Mulai dari meningkatnya pendapatan pelaku UMKM, terbukanya lapangan kerja baru, hingga bergeraknya berbagai sektor ekonomi lokal yang ikut menopang pertumbuhan daerah.

Desa Wisata Kampung Susu Lawu (Dewi KSL) yang ada di lingkungan Singolangu, Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur mengembangkan paket wisata berkonsep alam guna meningkatkan kunjungan wisatawan ke daerah setempat.

Inisiator Paket Wisata Dewi KSL Sri Wahyuni di Magetan, Minggu (15/3), mengatakan, paket wisata konsep alam yang ditawarkan adalah bertajuk "Jika Aku Jadi Orang Desa"

"Paket wisata Jika Aku Jadi Orang Desa adalah mengajak wisatawan benar-benar menjalani rutinitas warga lokal. Yakni, wisatawan diajak melakukan pemerahan susu tradisional, memberikan pakan rumput segar, hingga memetik sayur di kebun," ujarnya.

Menurutnya, program yang baru dikembangkan dua tahun terakhir tersebut cukup diminati wisatawan.

Paket wisata itu menjadi primadona di tengah gempuran dunia digital yang bising, sehingga membawa wisatawan ke kehidupan alam yang tenang dan sejuk di lereng Gunung Lawu.

Sri Wahyuni menjelaskan, pengembangan paket wisata alam tersebut muncul dari potensi besar akan kondisi alam yang dingin serta dukungan sarana pertanian dan peternakan yang mumpuni di Desa Wisata Kampung Susu Lawu untuk dikembangkan lebih jauh.

"Waktu itu saya berpikir dengan kondisi alam yang dingin dan didukung sarana pertanian dan peternakan, ada harapan agar Kampung Susu bisa dinikmati masyarakat luas," katanya.

Keunikan paket wisata tersebut juga terletak pada keterlibatan langsung masyarakat Singolangu yang telah paham mewujudkan Sapta Pesona di wilayahnya.

"Saat ini, sudah ada 30 rumah warga yang kami pilih dan siapkan untuk menjadi tempat tinggal bagi para peserta program ini. Kami ingin wisatawan tidak hanya sekadar 'mampir', tapi benar-benar menetap dan merasakan kehidupan desa," katanya.

Seiring banyaknya peminat, pengelola Desa Wisata KSL berupaya memperbaiki fasilitas agar sarana edukasi dan kenyamanan dasar berwisata di area Kampung Susu tetap terjaga bagi para tamu yang datang setiap harinya.

"Kami memiliki program jangka pendek untuk terus memperbaiki fasilitas yang ada. Sedangkan untuk jangka panjang, kami berencana membangun home stay yang layak untuk wisatawan. Ini penting agar sarana promosi ini berbanding lurus dengan kualitas kunjungan ke Kampung Susu Lawu," tambahnya.

Selama ini wisatawan yang datang berasal dari berbagai luar kota seperti Surabaya, Solo, dan Jakarta sejak program tersebut digulirkan.

Pihaknya berharap paket wisata Jika Aku Jadi Orang Desa semakin dikenal publik, sehingga semakin banyak wisatawan berkunjung yang muaranya adalah meningkatkan kesejahteraan warga desa wisata setempat.

Seperti diketahui, Singolangu adalah salah satu daerah sentra produksi susu sapi perah. Tidak hanya peternakan, daerah tersebut telah diarahkan untuk menjadi desa wisata dengan ikon Kampung Susu Lawu dengan konsep eko-eduwisata.

Diresmikan pada akhir tahun 2020, Kampung Susu Lawu terus berkembang, dari yang semula hanya 100 ekor sapi perah, kini telah mencapai 1.000 ekor sapi perah.

Selain dikonsumsi sebagai susu cair, sekitar 50 persen hasil perasan susunya diolah menjadi aneka minuman dan panganan dengan berbagai varian rasa sesuai selera pasar.

  • Desa Wisata Kampung Susu Lawu

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.