Dibintangi Dian Sastro, Film 'Esok Tanpa Ibu' Jadi Proyek Kolaborasi Sineas Tiga Negara
Selasa, 20 Jan 2026, 11:20 WIBJAKARTA - Film âEsok Tanpa Ibuâ produksi BASE Entertainment dan Beacon Film yang dikembangkan sejak 2020 dan menggabungkan drama keluarga dengan pendekatan fiksi ilmiah, menjadi proyek kolaborasi lintas negara yang melibatkan sineas dari Indonesia, Singapura, dan Malaysia.
Produser Shanty Harmayn mengatakan kolaborasi tersebut tidak hanya terjadi antarrumah produksi di Indonesia, tetapi juga melibatkan mitra dari Singapura melalui Refinery Media, serta sutradara asal Malaysia, Ho Wi-ding. Kerja sama ini mencakup pengembangan naskah hingga proses produksi.
âFilm ini sejak awal kami rancang sebagai kerja bersama. Dari pengembangan naskah sampai produksi, banyak pihak dan negara yang terlibat,â ujar Shanty dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.
Pengembangan cerita âEsok Tanpa Ibuâ dimulai melalui program Wahana Kreator pada 2020. Proses tersebut dilakukan untuk menggarap tema keluarga dan teknologi yang dinilai kompleks dan membutuhkan pendalaman.
Kolaborasi lintas negara itu turut menghadirkan tantangan perbedaan bahasa di lokasi syuting. Namun, sutradara Ho Wi-ding menilai hal tersebut tidak menjadi hambatan utama dalam proses penyutradaraan.
Menurut Ho Wi-ding, film bekerja melalui emosi yang bersifat universal, sehingga tidak bergantung sepenuhnya pada bahasa dialog. Ia memilih memusatkan perhatian pada ekspresi dan emosi aktor.
âBagi saya, ketika emosi itu benar, bahasa tidak lagi menjadi masalah. Film adalah medium universal,â kata Ho Wi-ding.
Ia menekankan pentingnya proses casting yang tepat sebagai fondasi utama film. Dengan pemeran yang sesuai, ia merasa dapat mempercayakan eksplorasi emosi kepada para aktor, meski terdapat perbedaan bahasa di antara tim.
âJika Anda menemukan pemeran yang tepat, Anda tinggal mempercayai mereka. Biarkan mereka merasakan adegannya dan menjalankan dialognya sendiri,â ujarnya.
Aktor Ringgo Agus Rahman yang berperan sebagai Bapak mengatakan pendekatan tersebut membuat proses syuting lebih jujur secara emosional.
Ia menyebut sutradara kerap meminta pengambilan ulang adegan meski dialog sudah benar, apabila emosi yang ditampilkan belum sesuai.
âKalau emosinya belum dapat, ya diulang,â kata Ringgo.
Sementara itu, Dian Sastrowardoyo yang berperan sebagai Laras sekaligus bertindak sebagai produser menjelaskan secara teknis kru dan pemain menggunakan naskah berbahasa Indonesia, sementara sutradara memegang versi bahasa Inggris.
âTerjemahannya harus benar-benar plek-ketiplek,â ujar Dian.
Film âEsok Tanpa Ibuâ sendiri dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai Kamis, 22 Januari 2026.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara, Lili Lestari
Berita Terkait:
-
Indonesia Berhasil Meraih 12 Medali dari Asian Hapkido Championships 2026
-
Mahasiswa ITS Rancang Sanitary On The Go untuk Akses Sanitasi di Ruang Publik
-
Pascagempa NTT, Kodam Udayana Kini Fokus Pulihkan Listrik hingga Akses Jalan di Wilayah Terdampak
-
Industri Gim Indonesia Bakal Makin Ngebut, Kemkomdigi Andalkan Strategi 3C
-
KAI Commuter: Stasiun Karet Ditutup Mulai 1 September
-
Kemhan Pastikan Serah Terima Kapal Induk Garibaldi saat Berlabuh di Jakarta
-
Krisis Ceuta Picu Konflik, Spanyol Berlakukan Kontrol Perbatasan terhadap Italia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.