Wujudkan Hilirisasi Migas, Pemerintah Tekan Impor Senilai USD1,4 Miliar
Minggu, 09 Nov 2025, 22:46 WIBJAKARTA- Kehadiran pabrik petrokimia New Ethylene Project milik PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) di Cilegon, sebagai bagian dari proyek hilirisasi minyak dan gas bumi (migas) pemerintah, diproyeksikan mampu mengganti impor produk petrokimia hingga 1,4 miliar dolar AS per tahun.
Proyek yang menelan investasi sekitar 3,9 miliar dolar AS ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mempercepat hilirisasi dan mendorong nilai tambah di dalam negeri.
Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, pabrik baru ini mampu menghasilkan nilai hilirisasi hingga 2 miliar dolar AS per tahun, dengan rincian 1,4 miliar dolar akan menggantikan impor dan 600 juta dolar berpotensi menambah nilai ekspor.
"Dari total kapasitas produksinya, 70 persen akan dipasarkan di dalam negeri, dan 30% di luar negeri. Jadi selama ini kita impor, dengan pabrik ini kita tidak lagi mengimpor secara besar-besaran seperti tahun sebelumnya," ujar Bahlil saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto meresmikan pabrik tersebut pada Kamis (6/11).
Fasilitas New Ethylene Project mampu mengolah naphtha sebesar 3.200 kiloton per tahun (kTA), dengan dukungan LPG hingga 50% sebagai bahan tambahan. Dari proses tersebut dihasilkan produk hulu seperti ethylene (1.000 kTA), propylene (520 kTA), mixed C4 (320 kTA), pyrolysis gasoline (675 kTA), pyrolysis fuel oil (26 kTA), dan hydrogen (45 kTA).
Sementara itu, produk hilir yang dihasilkan meliputi high density polyethylene (HDPE) sebanyak 250 kTA, linear low density polyethylene (LLDPE) sebanyak 200 kTA, polypropylene (PP) sebanyak 350 kTA, butadiene sebanyak 140 kTA, raffinate sebanyak 180 kTA, serta benzene, toluene, dan xylene (BTX) dengan total kapasitas 400 kTA.
Produk-produk petrokimia tersebut akan menjadi bahan baku bagi berbagai industri, seperti pembuatan botol plastik, kabel, bumper kendaraan, alat kesehatan, ban, karet sintetis, pembasmi serangga, hingga cat.
"Hari ini membuktikan bahwa hilirisasi Indonesia tidak hanya kita bangun hilirisasi mineral dan batubara, tapi juga sudah mulai beranjak ke hilirisasi minyak dan gas bumi," tegas Bahlil.
Ia menegaskan fasilitas pengolahan turunan migas berskala besar ini diharapkan memperkuat ketersediaan bahan baku berbasis petrokimia dalam negeri, mengurangi tekanan pada neraca perdagangan, serta memperkuat ekosistem industri nasional.
- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
- Hilirisasi
- Menteri Bahlil
- minyak dan gas (migas)
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Usai B50, Prabowo Perintahkan E50! RI Siap Setop Impor Bensin 40 Juta Kiloliter
-
Dapat Bantuan Bank Papua, Pemkab Lanny Jaya Minta Petani Kopi Manfaatkan secara Optimal
-
S&P Kasih Rating BBB- ke INALUM, Smelter 2 & SGAR 2 Siap Dibangun Kapasitas 3x Lipat!
-
Garuda Shield 2026 di Baturaja Hadirkan Penerjun dari Lima Negara
-
Bank Mandiri Bagi Dividen Interim Rp6,16 Triliun, Ini Jadwal Lengkapnya
-
Syok dan Terpukul, Pemprov Banten Kerahkan Tim Psikolog Khusus Dampingi Keluarga Korban Krakatau
-
Ketum PBNU sampaikan LPJ kepengurusan di Muktamar ke-35
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.