Foto: Kopi Tumbuk Kampung Konservasi Cisangku yang diproduksi Secara Tradisional

Di antara sejuknya udara pada siang itu tepat dibawah kaki gunung halimun, semerbak bau kopi menarik penciuman ternyata beberapa perempuan sedang sibuk menumbuk biji kopi dengan alu, ada yang sedang mensangrai biji kopi di atas kuali dari tanah liat dan bara dari kayu yang dibakar. Proses itu sehari-hari dilakukan dalam proses pembuatan kopi yang dilabeli Kopi Tumbuk.

Kopi Tumbuk ini sejak tahun 2022 yang dilakukan oleh para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan Kampung Konservasi (MKK) Cisangku. Kopi Tumbuk dengan biji Arabika merupakan salah satu dari produk MKK Cisangku. Bijinya dari tanaman sendiri dari hasil hutan bukan kayu di area TNGHS.

Dikerjakan tiga orang perempuan, setiap harinya MKK Cisangku memproduksi 50-100 toples per hari kemasan 150 gram dan 200 gram. Kopi-kopi itu dibanderol mulai Rp25 ribu hingga 45 ribu. Sepanjang 2025 mereka sudah mampu memproduksi hingga 1200 toples 

"Alhamdulillah ini dibantu PT Antam dengan izin edar dan label halal. Produksi ini baru satu tahun. Tadinya kopi mentah, lalu dijual dengan produksi kami sendiri. Sudah sampai luar Bogor seperti Sukabumi dan Jakarta dan juga penjualan online maupun penjualan langsung yang diserap oleh penikmatnya," tambahnya.

Kopi Tumbuk hanya satu dari program Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pelestarian Lingkungan (Pepeling) Cisangku yang jadi program unggulan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) dari PT Antam Unit Bisnis Pengolahan (UBP) Emas Pongkor. Masyarakat Cisangku juga melakukan pembibitan tanaman endemik Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), mengelola wisata air terjun curug yang dinamai curug kembar, pupuk bokhashi dan pupuk hayati mikoriza.

Ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok Tani hutan sedang menumbuk kopi menggunakan Anglo seusai kopi di sangrai

Biji kopi pilihan yang sudah di sortir lalu di sangrai hingga mengeluarkan harum diseluruh ruang

Setelah di sangrai kopi lalu ditumbuk hingga halus dah hasilnya kembali di ajak untuk memisahkan halus dan kasarnya

Setelah mendapatkan kopi yang halus habis disaring, kopi lalu dimasukkan kedalam toples kemasan dan ditimbang sesuai kemasan

Untuk menjaga kualitas kopi yang sudah dikemas lalu di segel menggunakan plastik 

Kopi siap dijual secara online dan offline, untuk kopi tumbuk kampung konservasi Disangka ini sudah memiliki pelanggan dari lokal hingga keluar wilayah desa malasari

Doc. Foto: Koran Jakarta/Wahyu AP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.