- Home
-
- Luar Negeri
-
- AS Setujui Potensi Penjual...
AS Setujui Potensi Penjualan Militer Senilai Rp1,5 Triliun ke Ukraina
Kamis, 21 Nov 2024, 00:02 WIBWashington - Departemen Luar Negeri AS, Selasa (19/11), memberikan izin untuk potensi penjualan peralatan dan layanan militer senilai 100 juta dolar (sekitar Rp1,5 triliun) ke Ukraina.
Rencana penjualan itu, kata Badan Kerja Sama Keamanan Dephan AS, akan mendukung tujuan kebijakan luar negeri dan keamanan nasional Amerika Serikat.
Tujuan tersebut berusaha dicapai dengan meningkatkan keamanan negara mitra yang merupakan kekuatan untuk stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di Eropa, kata badan tersebut melalui pernyataan.
Menurut badan itu, paket penjualan akan mencakup perbaikan kendaraan, bantuan teknis, pelatihan, publikasi serta logistik dan dukungan.
Pengumuman itu muncul di tengah laporan bahwa pemerintahan Presiden AS Joe Biden telah mengizinkan Ukraina menggunakan rudal jarak jauh AS untuk menargetkan serangan hingga ke dalam wilayah Rusia.
Pejabat pemerintahan tidak mengonfirmasi atau membantah laporan tersebut.
Perkembangan ini terjadi setelah kemunculan laporan bahwa Korea Utara mengirim pasukan untuk mendukung Rusia berperang.
Seorang pejabat tinggi AS mengatakan pemberian izin tersebut juga bertujuan untuk mencegah keterlibatan Korea Utara lebih lanjut dalam perang Rusia di Ukraina, yang diluncurkan pada Februari 2022.
Pada Selasa (19/11), Kementerian Pertahanan Rusia mengeklaim telah mencegat enam rudal ATACMS yang dipasok AS di wilayah Bryansk. Jika dikonfirmasi, insiden itu akan menandai penggunaan rudal jarak jauh pertama Ukraina sejak awal perang.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy tidak akan mengonfirmasi atau membantah keterlibatan Kiev dalam serangan rudal tersebut.
Pada hari yang sama, Presiden Rusia Vladimir Putin memperbarui doktrin nuklir, yang memungkinkan penggunaan senjata nuklir sebagai respons terhadap serangan rudal konvensional yang didukung oleh kekuatan nuklir.
Sejumlah laporan mengindikasikan bahwa pemerintahan Biden sedang berupaya untuk mendistribusikan sisa bantuan keamanan senilai enam miliar dolar (sekitar Rp95,4 triliun) ke Ukraina.
Pendistribusian itu disebut diupayakan untuk terlaksana sebelum presiden terpilih Donald Trump menjabat pada Januari, guna mengantisipasi bahwa aliran senjata akan dihentikan ketika Trump menjabat.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Dari Sesepuh untuk Generasi Penerus, Mantan Panglima TNI Titip Pesan bagi Prajurit TNI.
-
Pemerintah: Pendidikan Gratis SD hingga SMP Negeri maupun Swasta Diterapkan Bertahap pada 2027
-
Daftar Artis Penampil Festival Musik Pestapora 2026, Digelar 3 Hari dari 25-27 September
-
LRT Jabodebek Targetkan 30 Juta Penumpang pada 2026
-
Pasar Djadoel Ahad Legi Ngawi Jadi Penggerak Ekonomi Kreatif Kerakyatan Berbasis Budaya
-
Cuaca DKI Jakarta pada Kamis Ini: Sebagian Besar Wilayah Diprediksi Cerah Berawan
-
Baku Tembak Sengit Militer Yaman-Houthi, 117 Nyawa Melayang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.