Perkuat Program 'Sleman Pintar' untuk Turunkan Angka Kemiskinan
Sabtu, 14 Sep 2024, 00:14 WIBSleman - Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, memperkuat program Sleman Pintar hingga mempermudah investasi baru masuk untuk menurunkan angka kemiskinan di wilayah itu yang masih di angka 7,46 persen pada 2024.
Kepala Bappeda Sleman Dwi Anta Sudibya di Sleman, Jumat, mengatakan angka kemiskinan rendah, penurunannya akan semakin sulit, posisi kemiskinan 2023 sebesar 7,52 persen atau terendah kedua setelah Kota Yogyakarta.
Kalau angka kemiskinan masih di atas dua digit atau di atas 10 persen, penurunannya relatif agak mudah.
"Kalau angka kemiskinan di satu digit memang tidak gampang. Tantangannya, yakni masalah ekonomi. Pertanyaannya, orang miskin diajak berbisnis apa bisa. Yang program yang diandalkan adalah program Sleman Pintar, dan investasi baru," kata Dwi Anta.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Sleman, angka kemiskinan di Sleman turun 0,06 persen poin dari 2023 sebesar 7,52 persen, pada 2024 turun tipis menjadi 7,46 persen.
Ia mengatakan, program Sleman Pintar itu menyekolahkan anak dari keluarga miskin. Kemudian, Pemkab Sleman mengawal investasi perusahaan baru yang harapannya menyerap tenaga kerja lokal.
Dwi Anta mencontohkan di Kapanewon Prambanan banyak investasi yang masuk, mulai dari perhotelan, wisata berkembang pesat dan pabrik berkembang. Namun yang menjadi persoalan, angka kemiskinan tidak turun.
"Hal ini yang menjadi pekerjaan rumah bagi kami, kenapa investasi dan perkembangan wisata tidak dapat berkontribusi pada penurunan kemiskinan di wilayah setempat," katanya.
Dia mengatakan, adanya data BPS Sleman tersebut, Bappeda Sleman membuat kajian perkembangan wilayah, sehingga dapat memetakan penyebab akan kemiskinan tidak turun.
"Kami mengkaji bahwa perkembangan wilayah dan usaha di wilayah itu tidak menyebabkan angka kemiskinan turun," katanya.
Sebelumnya, Ketua Tim Statistik Ketahanan Sosial BPS Kabupaten Sleman Paulus Henri Laksono mengatakan garis kemiskinan Maret 2024 lebih tinggi dibandingkan Maret 2023. Garis kemiskinan 2024 mencapai Rp513.926per kapita per bulan, sedangkan pada Maret 2023 mencapai Rp491.652per kapita per bulan.
Pada Maret 2024, jumlah penduduk miskin atau penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan di Kabupaten Sleman mencapai 97,94 ribu orang atau 7,46 persen.
"Artinya, jumlah warga miskin naik sebesar 440 orang dibandingkan dengan kondisi Maret 2023 yang sebesar 97,5 ribu orang atau 7,52 persen," katanya.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Survei: Gen Z dan Milenial Indonesia Makin Sadar Kesehatan Holistik
-
Harga Emas Antam Naik Rp10.000 Menjadi Rp2,580 Juta Per Gram pada Rabu Ini
-
Riset ITB Ungkap 26.839 Orang Tewas di Jalan pada 2024, ABS Dinilai Bisa Tekan Kematian
-
Jadwal Internasional Bikin Pemain Kelelahan, Pelatih Timnas Belanda Xavi Hernandez Akhirnya Buka Suara
-
Tahan Malaysia dengan 10 Pemain, John Herdman Minta GBK Bergemuruh Lawan Bangladesh
-
Sidang Putusan MK Soal Syarat Pendidikan Gibran Digelar Malam Ini
-
Hotel Indigo Yogyakarta Siap Hadir pada 2029, Angkat Karakter Budaya Lokal
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.