Asean Butuh Investasi Hingga USD29,4 Triliun
Jumat, 25 Agu 2023, 09:13 WIBJAKARTA - The International Renewable Energy Agency (IRENA) memproyeksikan kebutuhan dana untuk melaksanakan transisi energi di negara-negara Asia Tenggara atau Asean hingga 2050 mencapai 29,4 triliun dollar AS. Hal itu berdasakan skenario 1,5 derajat Celsius dengan skema 100 persen energi terbarukan.
"Menurut Laporan IRENA Renewable Energy Outlook for Asean, untuk melaksanakan transisi energi, Asean membutuhkan pendanaan sebesar 29,4 triliun dollar AS hingga tahun 2050 dalam skenario 1,5 derajat Celsius dengan 100 persen energi terbarukan," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif saat membuka acara Sustainable Energy Financing and Mobilization of Energy Investments to Ensure Energy Security and Achieve NDCs In Asean di Bali, Rabu (23/8).
Dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (24/8), Menteri ESDM mengatakan negara-negara anggota Asean telah menyadari pentingnya pengembangan energi berkelanjutan, keamanan energi, dan penanganan perubahan iklim.
Guna mencapai tujuan ini, beberapa strategi sedang dilakukan, termasuk mengembangkan konsep yang jelas untuk pendanaan transisi energi yang berkelanjutan, menetapkan peta jalan energi terbarukan jangka panjang, serta menerapkan teknologi ramah lingkungan.
Arifin mengatakan kebutuhan dana sebesar itu ditujukan untuk pengembangan pembangkit energi terbarukan, transmisi (nasional dan internasional), distribusi, dan penyimpanan, pasokan biofuel, elektrifikasi (mobil EV dan pengisi daya EV), serta dalam mempertimbangkan perspektif biaya yang lebih luas yang mencakup biaya bahan bakar, pengoperasian dan pemeliharaan.
"Untuk membiayai langkah-langkah ini, pembiayaan energi berkelanjutan sangat dibutuhkan. Hal ini dapat dicapai melalui berbagai cara, antara lain, pembiayaan campuran yang bentuknya bisa bermacam-macam, seperti hibah, pinjaman lunak dengan persyaratan yang menguntungkan, dan investasi bersama. Kedua, kemitraan pemerintah dan swasta (KPS) dan pendanaan internasional dengan mengakses dana iklim internasional, seperti Green Climate Fund, dapat menyediakan sumber daya tambahan untuk inisiatif energi bersih," jelasnya.
Pemberian Insentif
Arifin juga mengungkapkan selain pendanaan lingkungan yang kondusif bagi investor juga hal yang penting untuk memobilisasi investasi energi ramah lingkungan dan hal ini dapat diciptakan melalui pemberian insentif, kerangka kebijakan yang jelas dan mendukung, termasuk rencana dan peraturan energi jangka panjang dapat membangun kepercayaan investor, serta terakhir, prosedur transparan.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Yudo Dwinanda Priaadi juga mengatakan pelaksanaan transisi memerlukan pendanaan dan investasi, yang kedua hal itu menjadi tantangan besar yang harus diatasi.
- investasi
- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
- Arifin Tasrif
- transisi energi
- Kementerian ESDM
- IRENA (International Renewable Energy Agency)
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Pencarian Korban Galodo Solok, KTP hingga Motor Agus Rial Ditemukan
-
Putin Sebut Barat Sengaja Bikin 'Tirai Besi'
-
Usai B50, Prabowo Perintahkan E50! RI Siap Setop Impor Bensin 40 Juta Kiloliter
-
9 Tahun Busana Adat Bali, Koster Ungkap Dampaknya ke Ekonomi Lokal
-
DIM RUU Migas Hampir Rampung, Bahlil: Sudah 80-90 Persen
-
Waduk PLTA Batang Toru 510 MW Mulai Digenangi, Listrik Sumut Siap Siaga Jelang Nataru
-
Manchester City Menjelma Raksasa, tetapi Kebangkitannya Dibayangi Kasus Keuangan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.