Navigasi Semakin Akurat Berkat 'Hyper-Accurate Positioning'
Senin, 20 Sep 2021, 00:00 WIBAkurasi teknologi pemosisian lokasi bergantung pada Sistem Satelit Navigasi Global (Global Navigation Satellite System/GNSS) yaitu konstelasi satelit yang menyediakan sinyal dari luar angkasa yang dikirim ke posisi dan waktu ke penerima. Perangkat penerima ini kemudian menggunakan data ini untuk menentukan lokasinya.
GNSS mencakup semua satelit navigasi yang membantu perangkat yang terhubung untuk menemukan lokasinya sendiri. Amerika Serikat (AS) memiliki Global Positioning System (GPS), Russia dengan Glonass, Tiongkok adalah Beidou, dan Eropa adalah Galileo. Sistem navigasi juga dimanfaatkan untuk keperluan komersial.
GPS merupakan navigasi satelit yang dikembangkan oleh Kementerian Pertahanan AS pada 1970. Menggunakan 24 satelit yang berada di sekeliling Bumi, fasilitas ini telah digunakan secara komersial untuk peralatan navigasi dan aplikasi pada ponsel pintar.
Beberapa aplikasi yang menggunakan GPS misalnya Google Maps, Waze, Here WeGo dan lainnya. Dengan mengaktifkan melalui pengaturan selain bisa menjalankan aplikasi tadi juga terdapat pada aplikasi ponsel pintar seperti aplikasi antar jemput penumpang dan barang atau ride-hailing, aplikasi jual beli, dan lainnya.
Sayangnya GPS dan teman-temannya masih mengandung sejumlah masalah. Pengguna masih sering mengalami masalah karena akurasinya yang lemah dan terjadi error. Beberapa penyebabnya antara lain jaringan internet yang lambat, ponsel mengalami kerusakan, terjadinya root pada sistem, efek ROM bug, atau lainnya.
Selain sering error pada kondisi normal akurasi GPS memang hanya dalam jarak 5 hingga 10 meter. GPS sendiri mencoba untuk menyempurnakan kemampuannya dengan GPS III, dengan sistem yang lebih akurat atau yang biasa disebut hyper-accurate positioning.
Deteksi Permukaan Tanah
Bukan hanya GPS penyedia sistem navigasi global, BeiDou (the Big Dipper) Tiongkok juga telah merilis sistem tersebut pada Juni 2020 teknologi serupa. Didukung oleh sistem satelit navigasi global, dan stasiun berbasis daratnya, sensor posisinya dapat mendeteksi perubahan kecil di permukaan tanah.
Kemampuan hingga tingkat milimeter ini sangat cocok untuk mendeteksi wilayah rawan bencana tanah longsor. Dari ketinggian 21.000 kilometer satelit mampu mendeteksi pergerakan tanah sebelum longsor terjadi.
Saat terjadi bencana longsor di sebuah desa di selatan Provinsi Hunan pada Juli tahun lalu, otoritas berwenang telah menerima peringatan anomali data yang menunjukkan percepatan penurunan permukaan 12 hari sebelum tanah longsor terjadi. Desa ini bagian dari 100 situs di Hunan yang dilengkapi dengan sistem pemantauan bencana dan peringatan dini.
"Layanan ini tidak akan mungkin terjadi jika akurasi penentuan posisi berbasis satelit masih pada tingkat meter atau desimeter," ungkap seorang pakar dari Aerospace Information Research Institute di Chinese Academy of Sciences di Beijing, Yuan Hong, seperti dikutip dari technology review.com.
Hasil navigasi BeiDou yang akurat juga digunakan untuk untuk pertanian presisi, pengiriman drone, logistik, ride-hailing, dan perjalanan udara. Navigasinya mampu mengetahui lajur mana mana orang berkendara. Hal ini memungkinkan mobil otonom (self-driving) atau robot kurir untuk menavigasi jalan dan trotoar dengan aman.
Pada Juni 2020, Tiongkok selesai menyebarkan konstelasi satelit BeiDou sebagai alternatif GPS milik AS. Fasilitas ini telah diperluas lebih dari dua dekade dari jaringan regional ke jaringan global, dan kini telah memiliki 44 satelit yang beroperasi di tiga orbit berbeda.
Jumlah satelit yang semakin banyak meningkatkan kualitas layanan penentuan posisi kepada siapapun di dunia dengan akurasi rata-rata 1,5 hingga dua meter. Karena layanan ini memiliki fokus historis di Tiongkok dan Asia, pengguna regional BeiDou dapat memperoleh informasi lokasi yang lebih baik, dengan presisi mendekati satu meter.
Sementara itu GPS yang telah beroperasi sejak lama, sedang berupaya memperbaiki kekurangannya dengan versi baru yaitu GPS III. Versi lama untuk menemukan lokasi perlu waktu beberapa detik dengan cara melakukan triangulasi sinyal dari setidaknya dengan tiga satelit di konstelasi, dengan akurasi jarak 10 meter.
Pada November 2020, empat dari 10 satelit untuk GPS III telah diluncurkan, dan sisanya diharapkan akan mengorbit pada 2023. Meskipun konsumen tidak akan langsung menyadarinya, akurasi sistem navigasi dan aplikasi pelacakan ponsel cerdas mereka akan meningkat seiring peningkatan proses itu. hay/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.