Vaksinasi Kedepankan Prinsip Kehati-hatian | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 19 2021
No Comments
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin

Vaksinasi Kedepankan Prinsip Kehati-hatian

Vaksinasi Kedepankan Prinsip Kehati-hatian

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Pandemi Covid-19 boleh dibilang justru memasuki babak baru. Angka kasus positif Covid-19 terus mengalami peningkatan. Bahkan, beberapa mutasi dari virus Sars-Covid-2 kini telah menjadi ancaman baru, mengingat daya penularannya yang jauh lebih cepat. Varian baru yang muncul pertama di Inggris itu kini telah merebak kawasan Eropa dan sudah pasti menjadi ancaman besar bagi Indonesia.

Penanganan untuk mence­gah lonjakan kasus positif terus diupayakan oleh pemerintah. Awal tahun 2021 ini, setiap negara termasuk Indonesia, kembali memperketat mobilitas penduduk. Di Indonesia, mulai 11 Januari 2021 pemerintah telah menetapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) untuk menekan laju pe­ningkatan kasus Covid-19.

Di sisi lain, penanganan Co­vid-19 memasuki tahap vaksinasi. Indonesia sendiri sudah men­datangkan vaksin produksi Sinovac (CoronaVac). Rencananya, vaksin­asi digelar pada 13 Januari 2020 dan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo menjadi orang pertama proses vaksinasi Covid-19.

Sektor kesehatan tentu meme­gang peran yang sangat vital dalam penanganan pandemi Covid-19. Pemerintah juga telah menunjuk sosok baru untuk memimpin Ke­menterian Kesehatan (Kemenkes). Untuk mengetahui terkait proses penanganan Covid-19 di Indonesia, wartawan Koran Jakarta, Muhamad Ma’rup mewawancarai Menteri Ke­sehatan (Menkes), Budi Gunadi Sa­dikin dalam beberapa kesempatan. Berikut petikan wawancaranya.

Sebagai Menkes baru, apakah ada pesan khusus dari Presiden RI Joko Widodo kepada Anda?

Tugas dari Presiden yaitu agar bagaimana menangani masalah pandemi Covid-19 sebaik-baik­nya dan secepat-cepatnya. Agar semua murid bisa kembali sekolah dengan segera, agar semua peng­usaha Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) bisa segera kembali meng­gelar tokonya, agar semua keluarga kita bisa kembali bersilaturahim, dan agar seluruh rakyat Indonesia bisa hidup normal kembali.

Masalah ini adalah masalah yang sangat besar dan tidak mung­kin kami lakukan (penanganan) sendiri. Kemenkes tidak mungkin melakukannya secara ekslusif, kita harus melakukannya secara inklu­sif. Dan kami percaya tidak cukup pemerintah membuat program sendiri, tapi harus suatu gerakan yang dilakukan bersama sama mas­yarakat Indonesia.

Bagaimana kondisi terkini ka­sus Covid-19 di Indonesia?

Saat ini ada lonjakan kasus Co­vid-19 yang selalu terjadi pascali­buran. Adanya pembatasan sosial 11 Januari nanti akan membantu menekan kasus korona dan mem­perhatikan tenaga kesehatan yang sudah kelelahan.

Saya ingin ajak masyarakat, ayo kita bersama-sama mengurangi mobilitas agar mengurangi kasus aktif sesudah Nataru (Natal dan Tahun Baru). Kita tekan agar ja­ngan sampai kenaikan kasus tinggi, memberi tekanan ke rumah sakit, tenaga kesehatan, yang seharusnya kita lindungi.

Apa target dalam penanganan pandemi Covid-19 ke depan?

Target jangka pendek, untuk se­gera dilakukan vaksinasi Covid-19 sebagai salah satu upaya memutus mata rantai penularan. Meski begi­tu, rencana vaksinasi harus dilaku­kan dengan mengedepankan prin­sip kehati-hatian serta persiapan matang. Paling tidak ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian bersama, di antaranya ketersediaan vaksin, kesiapan sarana prasarana, SDM yang bertugas, strategi distri­busi, serta proses vaksinasi.

Untuk menyamakan pema­haman, mengidentifikasi masalah seraya penguatan pelaksanaan vaksinasi, pemerintah pusat men­jalin koordinasi dan kerja sama dengan stakeholder terkait termasuk yang berada di daerah. Kemenkes siap untuk membahas lebih lanjut dengan dinas kesehatan baik pro­vinsi maupun kabupaten/kota, aso­siasi puskesmas, asosiasi RS swasta maupun klinik.

Sejauh ini vaksin yang ada baru dari Sinovac. Apakah ke de­pan akan ada vaksin produk lain?

Kami melakukan koordinasi de­ngan beberapa perusahaan penye­dia vaksin, di antaranya Sinovac, Novavac, AstraZeneca, Pfizer, dan COVAX/GAVI. Dari kelima jalur pengadaan vaksin tersebut, telah diperoleh jumlah dosis yang diberi­kan untuk Indonesia. Diperkira­kan jumlahnya mencapai 400 juta dosis. Jumlah ini akan diupayakan untuk ditambah, mengingat untuk mencapai kekebalan kelompok, dibutuhkan kurang lebih sebanyak 468,8 juta dosis vaksin yang diper­untukkan bagi 181,5 juta jiwa.

Kita memastikan bahwa kita bisa mengamankan jumlah tersebut. Diharapkan vaksin-vaksin ini bisa datang secara bertahap ke Indone­sia dan kita bisa segera melakukan penyuntikan bagi seluruh rakyat Indonesia yang 181 juta orang.

Bagaiman upaya pemerintah untuk mendapatkan vaksin gratis dari Aliansi Vaksin Dunia (GAVI)?

Terbaru, pemerintah sudah menandatangani formulir B vak­sin Aliansi Vaksin Dunia (GAVI) COVAX Facility guna melengkapi konfirmasi keikutsertaan dalam pengadaan 108 juta dosis vaksin Covid-19 gratis dari lembaga in­ternasional tersebut. Ini adalah salah satu milestone penting untuk Indonesia bisa memperoleh akses atas maksimal 108 juat dosis vaksin gratis dari GAVI.

Sebanyak 108 juta vaksin ini gra­tis sehingga pemerintah Indonesia tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun. Dengan kehadiran vaksin dari GAVI ini diharap­kan akan melengkapi kebutuhan vaksin untuk 181,5 juta penduduk Indonesia dalam program vaksinasi Covid-19.

Setelah proses penandatangan­an, Gavi akan meninjau ulang keikutsertaan Indonesia untuk bisa mendapatkan kelayakan vaksin gratis dari aliansi vaksin dunia ter­sebut. Selain itu, akan ada pemilih­an salah satu posisi penting di Gavi. Harapannya Ibu Menteri Luar Ne­geri bisa terpilih sehingga 108 juta dosis vaksin ini bisa kita peroleh. Karena saya tahu seluruh negara di seluruh dunia akan berebut men­dapatkan vaksini ini.

Jadi, berapa jumlah potensi vaksin yang akan dimiliki Indo­nesia?

Sebelumnya, Indonesia sudah mendapatkan komitmen 125 juta vaksin dari Sinovac, 50 juta dosis vaksin dari Astrazeneca, 50 juta do­sis dari Novavac sehingga total 225 juta dosis vaksin yang sudah dapat dipastikan.

Selain itu, dalam waktu dekat, Indonesia juga akan menandata­ngani pembelian vaksin dari Pfizer yang berpotensi untuk menem­buhkan kebutuhan vaksin untuk Indonesia dan ditambah dengan potensi 108 juta dosis vaksin dari GAVI. Mudah-mudahan akan cu­kup jumlah vaksin untuk 181 juta rakyat Indonesia.

Tahapan vaksinasinya seperti apa?

Rencananya vaksinasi akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama dengan periode vaksin­asi mulai Januari–April 2021 akan diprioritaskan bagi 1,3 juta tenaga kesehatan dan 17,4 juta petugas pelayan publik.

Vaksin yang akan diberikan kepada nakes di 34 provinsi di Indonesia nantinya telah lolos uji klinis dan mendapatkan Emer­gency Use Authorization (EUA) dari BPOM. Pelaksanaannnya juga akan menerapkan prinsip kehati-hatian dan bertahap.

Ada pandangan bahwa pen­duduk lanjut usia (lansia) harus menerima vaksinasi. Bagaimana tanggapan Anda?

Kebijakan negara-negara lain memang memasukkan penduduk lansia berusia lebih dari 60 tahun dalam vaksinasi. Uji Klinis vaksin Sinovac di Turki dan Brasil juga diberikan ke orang-orang dengan grup usia di atas 60 tahun. Kami sudah berbicara dengan Badan POM untuk mengoordinasikan hal ini, sehingga nanti Badan POM akan melengkapi datanya, sebe­lum mengambil keputusan akhir mengenai. Rentang usia yang bisa diberikan.

Otomatis keragaman itu akan ada. Itu sebabnya juga karena seba­gian besar vaksin kita akan datang mungkin sekitar semester kedua atau akhir kuartal kedua 2021 dan kalau kita lihat tadi tahapannya lansia kita taruh agak belakang­an karena kita ingin memastikan bahwa semua data scientific me­ngenai pemberian vaksin ke grup lansia ini Badan POM sudah feel comfortable.

Apakah ada upaya percepatan vaksin?

Presiden memberikan tantangan apakah bisa dipercepat, sehingga bisa selesai dalam waktu 12 bulan? Kami akan berusaha keras dan kami. Butuh dukungan dari seluruh teman-teman untuk lakukan hal ini. Rencana awal kami untuk vaki­nasi 181 juta rakyat Indonesia agar kekebalan komunitas terpenuhi akan selesai dalam 15 bulan.

Persiapan apa saja yang perlu dilakukan fasilitas kesehatan ter­kait vaksinasi ini?

Seluruh puskesmas, rumah sakit, dan klinik di Indonesia ha­rus segera mendaftar ke aplikasi Pcare milik BPJS Kesehatan untuk melaksanakan vaksinasi Covid-19. Kalau belum mendaftarkan, akan sulit bagi mereka untuk bisa mela­yani vaksinasi ini terutama untuk mencatat dan menangani kalau ada kejadian ikutan pasca imuniasi.

Khusus puskesmas yang keku­rangan pendingin untuk menyim­pan vaksin segera menghubungi dinas kesehatan setempat. Tolong kontak Kementerian Kesehatan, aparatnya yang terdekat, kalau perlu juga bisa dikirimkan ke media sosial saya supaya kami bisa cepat tangani.

Perlu diingat bahwa tahapan berikutnya yang lebih besar yaitu tahapan untuk 17,4 juta tenaga layanan publik dan 21,5 juta rakyat dengan usia lanjut. Kami harap­kan bisa kita mulai di bulan Maret atau April 2021. Untuk itu sangat membutuhkan dua hal yang kami minta tolong seluruh klinik dan puskesmas untuk mendaftarkan ke Pcare-nya BPJS Kesehatan.

Tidak sedikit masyarakat yang masih menolak vaksin maupun vaksinasi. Apakah nanti akan ada sanksi bagi yang menolak vaksinasi?

Sampai sekarang diskusi ke arah situ belum pernah terjadi di pe­merintah pusat. Pemerintah masih akan melihat dinamika yang ada di lapangan. Kalau saya pribadi percaya bahwa meyakinkan dengan cara persuasif itu akan jauh lebih baik untuk penerimaan masyara­kat disuntik oleh vaksin. Kami juga sudah mengirimkan Short Message Service (SMS) blast secara serentak kepada seluruh penerima vaksin Covid-19 yang telah terdaftar pada tahap pertama. Ini merupakan bagian dari pelaksanaan vaksinasi Covid-19.

Jangan ada pihak yang me­mentingkan diri sendiri, tapi kuat bersama-sama divaksin agar kita bisa menjaga keluarga, teman, tetangga, rakyat kita. Perlu ada 70 persen dari masyarakat yang sudah vaksinasi Covid-19 untuk mencapai kekebaln komunitas atau herd im­munity. Kekebalan komunitas ini demi meningkatkan perlindungan pada setiap kelompok usai vaksin­asi Covid-19.

Apa pesan Anda kepada tenaga kesehatan?

Terima kasih teman-teman telah berjuang merawat pasien, saya sen­diri merasakan ternyata memakai APD itu lama dan panas, bukanya juga susah, mesti mandi juga agar aman, saya terus terang bangga dengan perjuangan teman-teman. Tenaga kesehatan adalah garda ter­depan yang saya ingin pastikan kita maksimalkan perlindungan yang bisa kita berikan kepada mereka.

Menurut saya, sudah terlalu banyak kita kehilangan tenaga kesehatan dan adalah kewajiban kita untuk melindungi mereka. Atas nama pemerintah, saya turut berbelasungkawa dan saya berdoa semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.

Apakah ada yang masih ingin disampaikan terkait penanganan Covid-19?

Sebab sudah saatnya seluruh ele­men masyarakat bersatu melawan Covid-19. Saling bersinergi, bahu-membahu, saling mengingatkan serta berkomitmen penuh untuk melakukan upaya pencegahan de­ngan selalu memakai masker, men­jaga kebersihan diri serta menjaga jarak saat melakukan kontak sosial langsung dengan orang lain. Tetap memakai masker itu yang paling utama, rajin mencuci tangan pakai sabun dan menjaga jarak.

Riwayat Hidup*

Nama : Budi Gunadi Sadikin

Tempat, tanggal lahir : Bandung, Jawa Barat, 8 Juli 1964

Istri : Ida Rachmawati

Anak : Sabila Maharani, Reza Abdurahman dan Nabila Raihana

Pendidikan:

  • Sarjana Fisika Nuklir di Institut Teknologi Bandung (1988)
  • Magister Ekonomi di Washington University, AS (1990)

Karier:

  • Senior VP Consumer dan Commercial Banking ABN Amro Bank Indonesia & Malaysia (1999-2004)
  • Executive VP Consumer Banking PT Bank Danamon Tbk (2004–2006)
  • Direktur Mikro and Retail Banking PT Bank Mandiri Tbk (2006–2013)
  • Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk (2013–2016)
  • Staf Khusus Menteri BUMN (2016–2017)
  • Komisaris Utama PT Inalum (2017)
  • Direktur Utama PT Inalum (2017-2019)
  • Wakil Komisaris Utama PT Pertamina (2019)
  • Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (2019-2020)
  • Ketua Satuan Tugas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional (2020)
  • Menteri Kesehatan (Desember 2020-sekarang)

Penghargaan:

  • CEO Visioner BUMN Terbaik (2018)

*BERBAGAI SUMBER/LITBANG KORAN JAKARTA/AND

S-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment