Unair Terus Bergerak untuk Berkontribusi bagi Bangsa | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 5 2020
No Comments
Rektor Universitas Airlangga Mohammad Nasih

Unair Terus Bergerak untuk Berkontribusi bagi Bangsa

Unair Terus Bergerak untuk Berkontribusi bagi Bangsa

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Sebagai lembaga pendidikan Universitas Airlangga (Unair) terlibat dengan banyak aktivitas, di antaranya pembuatan vaksin Covid-19. Unair juga terus berinovasi untuk meningkatkan ranking dunia, Asia, dan dalam negeri.

Sejak muncul di Wuhan, Tiongkok, tahun lalu, hingga kini meluas ke selu­ruh dunia, infeksi Covid-19 telah mencapai lebih dari 51 juta kasus. Virus tersebut mengakibat­kan lebih dari 1,2 juta kematian. Adapun di Indonesia, wabah akibat virus SARS- CoV-2 telah menyebab­kan hampir 450 ribu kasus positif, sedangkan korban meninggal lebih dari 14.761 kematian.

Dengan sigap, pemerintah me­lancarkan sejumlah tanggapan, ter­masuk membentuk Tim Nasional Percepatan Pengembangan Vaksin Covid-19. Saat ini, ada enam insti­tusi dalam negeri yang mengem­bangkan vaksin Covid-19, “Merah Putih”. Mereka adalah Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Lem­baga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Institut Tek­nologi Bandung, dan Universitas Airlangga.

Baru-baru ini, dalam acara Dies Natalis ke-66, Universitas Airlangga (Unair) meluncurkan vaksin Merah Putih yang dikembangkan bersama Kemenristekdikti, PT Biotis Phar­maceuticals Indonesia, dan RSUD dr Soetomo Surabaya. Pada kesem­patan itu, Unair juga meluncurkan sejumlah inovasi terkait penangan­an Covid-19, seperti vaksin oral, formula reagen untuk tes PCR, dan kombinasi obat senyawa Unair 3.

Untuk mengetahui lebih dalam berbagai program Unair tersebut, wartawan Koran Jakarta, Selocahyo, mewawancarai Rektor Uniar, Mohammad Nasih. Berikut petikannya.

Bisa dijelaskan keikutsertaan Unair dalam pengembangan vak­sin Merah Putih?

Masyarakat tentu menunggu vaksin guna meredakan pandemi Covid-19. Unair sebagai lembaga pendidikan yang memiliki pusat penelitian berkomitmen ikut me­ngembangkan vaksin dalam negeri bersama lembaga lainnya. Namun, seperti diketahui, proses pengem­bangan vaksin tidak mudah dan singkat. Beragam vaksin membu­tuhkan waktu tahunan, bahkan belasan dari proses eksplorasi virus hingga tersertifikasi untuk diguna­kan secara massal.

Bagaimana mengatasi kendala waktu itu?

Dengan pesatnya perkembang­an teknologi IR 4.0 bahkan 5.0, khususnya di bidang biomolecule engineering, medical engineering, dan bio-informatics, maka kemung­kinan pengembangan vaksin saat ini menjadi lebih cepat dibanding era 3.0 atau sebelumnya. Apa­bila berjalan lancar, hasilnya akan tampak sekitar Maret–April tahun depan. Mudah-mudahan berjalan lancar karena kita harus evaluasi efek samping dan lain-lain. Semua harus aman.

Dengan peluncuran ini, apa­kah vaksin telah siap?

Jadi, launching ini bukan untuk digunakan, tapi tentang kelanjutan pengembangannya. Sebab, selama ini belum ada ba-bi-bu apa-apa kan? Sehingga kita ingin dalam ulang tahun ke-66 Unair ini, ada yang bisa kita sampaikan. Karena kalau menunggu selesai bisa lama sekali. Jadi, launching ini tentang adanya kemajuan, dari beberapa macam ikhtiar yang kita lakukan berkaitan dengan obat, vaksin, dan lain-lain. Ini termasuk reagen yang kita kembangkan.

Siapa saja yang terlibat dalam pengembangan vaksin?

Ada dua tim pengembangan di Unair dengan dua platform ber­beda. Tim pertama, diketuai Prof Dr Fedik Abdul Ratam, dengan platform viral vektor. Tim kedua, diketuai Prof Dr Budi Santoso de­ngan platform peptide. Namun, kedua tim peneliti tetap saling membantu. Tim pengembangan melibatkan berbagai praktisi, pe­neliti, akademisi, dan stakeholder. Jadi, sangat komprehensif. Selain itu, ada berbagai pusat riset di Unair yang terlibat dalam pengem­bangan vaksin, antara lain Insti­tute Tropical Disease, Pusat Riset Molekul Hayati, dan AIRC (Avian Influenza Research Centre).

Sejauh ini, bagaimana perkem­bangannya?

Uji in vitro Unair telah selesai. Tetapi, ada proses-proses yang lebih membutuhkan teknologi lebih maju lagi, berkaitan dengan masalah pembiakan dan lain-lain. Sehingga diperlukan kerja sama dengan PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia. Di sana akan dilakukan animal trial untuk beberapa bulan. Animal trial mulai dari tikus sam­pai kera. Kami tidak punya fasilitas sampai ke sana karena laborato­rium BSL 3 sedang direnovasi, terutama untuk kera. Untuk tahap mekanisme pembiakan, dalam 1–2 pekan depan kami undang kawan-kawan Biotis yang punya fasilitas pengembangan virus.

Kelanjutan setelah uji coba pada hewan?

Setelah pada kera sukses, bila hasilnya efektif, tidak ada dampak signifikan, akan kami lanjutkan trial pada manusia. Ini perlu waktu juga. Tahap satu, dua, maupun tiga. Pro­sesnya agak panjang. Yang penting sebagai akademisi, Unair terus bergerak untuk berkontribusi bagi bangsa dan negara. Itu yang penting.

Proyeksi vaksin Unair dengan program vaksin pemerintah lainnya?

Sekali lagi kami sam­paikan, tugas kami ada di level penyediaannya. Nanti proses selanjut­nya akan tergantung pada pemerintah. Soal nanti dipakai atau ti­dak, soal industri dan bisnisnya, tentu kami serahkan pada pihak-pihak yang lebih relevan dan punya kewenangan. Kami ti­dak ingin membuyar­kan program vaksin yang sudah ditetapkan presiden. Kami siap melaku­kan penyesuaian agar bermanfat untuk bangsa dan negara. Tentu pada tahun-tahun berikutnya tidak akan cukup dengan itu saja (vaksin pemerintah). Misalnya yang dibeli sudah habis dipakai. Ini bisa dimanfaatkan, bukan untuk menggantikan.

Bagaimana dengan vaksin oral?

Vaksin oral pengembangan kerja sama kami dengan berbagai institusi riset di luar negeri seperti Kanada dan Inggris. Ini dimotori dr Satria. Beberapa produknya sudah dalam tahap akhir di Indonesia, terutama pada vaksin influenza. Kami lakukan proses di LPT (Lem­baga Penyakit Tropis). Pengem­bangannya pakai strain virus Indonesia. Ini dikembangkan di sini. Ahlinya juga sudah datang. Se­dang disiapkan, tapi tentu juga ada proses persiapan di Inggris.

Perkembangan vaksin oral sampai di mana?

Formula dan bentuknya sudah ada. Uji in vitro dan lainya sudah dilalui. Sekarang sedang kami siapkan protokol uji klinis. Untuk uji klinis, diperlukan proses yang sangat panjang dan tidak mudah. Harus mendapat izin BPOM. Kalau izin sudah turun, segera diuji. Jadi, sudah hampir sampai tahap akhir. Setelah ini akan segera uji klinis. Kalau vaksin oral influenza sudah selesai. Mudah-mudahan tidak ada aral melintang, sehingga vaksin bisa lebih cepat tersedia.

Bila dibandingkan, prediksi lebih cepat selesai vaksin merah pu­tih atau vaksin oral?

Seperti­nya akan lebih mudah untuk yang oral. Ini kalau dilihat sisi proses­nya. Tapi kami tidak tahu hasilnya seperti apa. Sebab harus kami evaluasi efek samping dan lain-lain. Semua harus amanlah. Melihat per­kembangannya, vaksin oral lebih mudah. Sebab vaksin harus suntik. Perlu banyak tenaga dan persiapan. Kalau vaksin oral, bahasa sederhananya, pakai pisang (ditelan) saja bisa.

Soal obat Senyawa Unair 3, ba­gaimana perkembangannya ?

Obat senyawa Unair 3 dikem­bangkan bersama Badan Intelijen Negara (BIN). Saat ini tengah menjalani evaluasi dari BPOM. Jadi, kami menunggu petunjuk dan penugasan kawan-kawan BIN. Tampaknya mereka masih me­nunggu hasil evaluasi lebih detil dari BPOM. Sebab posisi Unair lebih pada melaksanakan pene­litian dan uji klinis. Kami belum mendapat tambahan informasi dan perintah. Tentu ada banyak hal yang harus dipertimbangkan.

Apa alasan menggandeng Kimia Farma untuk pengembang­an Senyawa Unair 3?

Yang juga kami tindak lanjuti dengan Kimia Farma juga penyedi­aaan bahan. Pertama, untuk obat senyawa Unair 3. Pengadaan proses lanjutannya dengan Kimia Farma. Karena ada soal kerahasiaan for­mula, menyangkut paten dan hak, sudah kami lakukan kesepakatan kerahasiaan. Bahan ini diperlukan untuk proses uji klinik. Kalau tidak ada ba­hannya, kami tidak bisa melanjutkan ke tahap uji ini. Sehingga Kimia Farma akan menyediakan karena se­suai dengan pekerjaan (tupoksi)-nya.

Bisa dijelas­kan soal pengem­bangan reagen?

Inovasi rea­gen ini untuk PCR. Se­lama ini, kalau kami bicara tentang tes PCR, ada tiga tahapan. Pertama, pengambilan swab-nya. Kedua, persiapan pencampurannya. Ke­tiga, masuk ke mesin PCR-nya. Nah dengan reagen ini, proses persiap­an di tahap dua tadi, bisa dipotong (persingkat), sehingga hanya perlu dua tahap: pengambilan swab dan langsung masuk ke mesin PCR.

Keunggulan inovasi reagen?

Dampaknya, proses tes PCR akan lebih cepat. Yang terpenting pasti lebih murah, karena dalam satuan waktu lebih produktif. Dari pemanfaatan reagennya akan lebih murah lagi.

Pihak mana saja yang diajak kerja sama untuk pengembangan reagen?

Untuk reagen PCR ini, kami juga bekerja sama dengan kawan-kawan TNI. Untuk bisa dimanfaatkan TNI. Kalau nanti semua prosesnya lancar, bisa digunakan di tempat-tempat lain. Dengan Kimia Farma kami juga lakukan kerja sama un­tuk pengembangan reagen.

Bisa dijelaskan soal pengem­bangan kombinasi regimen obat?

Kombinasi obat ini sudah dipa­tenkan. Inovasi ini hasil kolaborasi antara Unair, BNPB, dan BIN. Lima kombinasi regimen obat ini berasal dari obat-obat yang sudah beredar di pasaran dan berpotensi men­jadi obat bagi pasien Covid-19. Kombinasinya, antara lain terdiri dari Hydroxychloroquine dengan azithromicyne. Lalu ada Hydroxy­chloroquine dengan Lopinavir/ritonavir dan azithromicyne. Lopi­navir/ritonavir dengan doxycyline, dan Lopinavir/ritonavir dengan chlaritromycine, doxycycline.

Ini adalah kombinasi-kombinasi yang secara in vitro sudah dibuk­tikan efektif bersama-sama dan direkomendasikan oleh Persatu­an Dokter Paru Indonesia. Kami berharap obat-obat tersebut bisa dimanfaatkan untuk pencegahan, agar pasien dalam kondisi ringan, tidak menjadi sedang, apalagi berat. Demikian pun mereka yang sakit sedang, tidak menjadi berat. Kami berharap para dokter lulusan Unair bisa me­manfaatkan obat ini sebaik-baiknya.

Bagaimana dengan metode pe­nanganan Covid-19 menggunakan stem cell?

Peneliti kami menemukan potensi dua formula dalam penelitian stem cell, yakni HSCs (Haema­topotic Stem Cells) dan NK (Natural Kill­er) cells sebagai obat Covid-19. Keduanya dalam pengembang­an, memiliki potensi yang efektif sebagai pengobatan berge­jala sedang dan berat. Yang penting, proses penelitiannya tidak perlu waktu terlalu lama. Sekitar Januari nanti, produk ini bisa kita lihat karena lebih sederhana. Kerja saman­ya tidak dengan BPOM, tapi Kemenkes, sehingha bisa lebih lancar.

Peran RS Unair dalam penanganan Covid-19?

Dalam rangka pena­nganan Covid-19 Unair menjadi Universitas Siaga Covid. Di antaranva RS Unair dijadikan sebagai rumah sakit rujukan dalam penanganan Covid-19. Jum­lah spesimen untuk test swab Lembaga Penyakit Tropis Unair per 6 November 2020 sebanyak 31.374. Yang positif hingga 5 November sebanvak 13.867 spesimen. Sementara itu, untuk RS Unair total spesi­men sebanyak 6.697. Yang positif sebanyak 911 per oktober 2020. Ber­dasarkan data Kementerian Kese­hatan tahun ini, RS Unair merupa­kan rumah sakit yang menangani kasus positif Covid-19 tertinggi kedua di Indonesia dengan pasien sejumlah 360 dalam kurun waktu 4 bulan dari Maret hingga Juni 2020.

Bagaimana perkembangan po­sisi Unair dalam peringkat global saat ini?

Unair sedang fokus pada inter­national exposuré yang diharapkan dapat menunjang capaian Top 400 Dunia. Alhamdulillah, kami berada pada posisi cukup baik dan meng­gembirakan. Kurang 21 poin lagi, kami masuk peringkat Top 400 QS World University Ranking. Menurut QS, kami ada di jajaran 521-530 top dunia.

Bagaimana dengan di Asia dan Indonesia?

Beberapa hari ke depan, kami juga akan mengalami peningkatan. Tahun lalu, kami masih pada angka 171. Yang cukup menggembirakan, Unair saat ini sudah dalam posisi 20 top Asia Tenggara. Di Indonesia, kami nomor 4. Perankingan Dikti juga nomor 4, setelah UGM, UI, dan ITB. Demikian juga dengan beberapa dari subjek seperti prodi manajemen dan bisnis, kami di po­sisi top 451 dunia.

Apa upaya untuk meningkat­kan peringkat?

Salah satu langkah strategis yang dapat dilakukan untuk mencapai hal tersebut, dengan meningkatkan jumlah kolaborasi penelitian inter­nasional dengan universitas di luar negeri. Perkembangan dalam kola­borasi internasional selama lima tahun terakhir mengalami pertum­buhan. Dengan pertumbuhan ra­ta-rata sebesar 59 persen. Dibanding tahun 2016, capaian pertumbuhan Unair tahun 2020 meningkat drastic. Tumbuh sebesar 434 persen.

Apalagi yang harus dilakukan?

Langkah strategis untuk me­ningkatkan scholarly productivity (produktivitas ilmiah) Unair de­ngan salah satu pilar SMART, yakni meaningful research and commu­nity services. Ada beberapa pro­gram yang akan dilakukan dalam lima tahun kedepan, di antaranya program riset yang fokus pada prioritas riset nasional (PRN) dan core competence Unair, melaku­kan peningkatan interdisciplinary research melalui program research mandate dan research group. Kemudian, meningkatkan iklim maupun kapasitas riset melalui research group dan research center maupun kolaborasi internasional. Langkah lain, memfokuskan com­munity services pada SDG’s sesuai core competence Unair. Mening­katkan iklim kepedulian sosial dan kerja sama untuk mengoptimal­kan CSR, filantropi, serta institusi global.

Dukungan lain untuk riset?

Unair memberikan dukungan ri­set melalui kebijakan insentif yang diberikan kepada para peneliti. Tidak hanya itu. Beberapa fasili­tas, misalnya, layanan translasi dan proofreading juga diberikan. Kebijakan ini memberi dampak positif meningkatnya kualitas penelitian dosen dan peer group pada beberapa program unggulan universitas yang menunjukkan pe­ningkatan sangat baik. Penelitian sudah diarahkan pada fokus-fokus riset dengan roadmap terintegrasi antara bidang health science, life science, dan social science yang menunjang perwujudan research excellence sesuai dengan bidang sasaran penelitian tahun 2018, se­perti kesehatan, bahan alam, dan ketahanan pangan.

G-1

 

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment