Safari Politik Pompeo | Koran Jakarta
Koran Jakarta | November 27 2020
No Comments
PERSPEKTIF

Safari Politik Pompeo

Safari Politik Pompeo

Foto : ANTARA/HO Kemlu.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kiri) menyambut kedatangan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo (kanan) untuk melakukan pertemuan bilateral di Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2020.
A   A   A   Pengaturan Font
Perjalanan Menlu AS ke Asia ini merupakan strategi mencari sekutu untuk melawan dominasi ekonomi Tiongkok.

Setelah mengunjungi India, Sri Lanka, dan Maladewa, kini Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo, melanjutkan safari politiknya ke Indonesia, menemui Presiden Joko Widodo, di Istana Bogor, Kamis (29/10). Dari Jakarta, Pompeo akan melanjutkan perjalanannya menuju Vietnam.

Safari politik Pompeo ini dilakukan di tengah meningkatnya persaingan dan ketegangan antara AS dan Tiongkok dalam mencari dukungan negara-negara di Asia, khususnya terkait dengan konflik Laut Tiongkok Selatan, yang diklaim sebagai wilayah milik Tiongkok. Perjalanan Menlu AS ke Asia ini merupakan strategi mencari sekutu untuk melawan dominasi ekonomi Tiongkok.

Sri Lanka dan Maladewa adalah dua negara di Samudra Hindia, di mana Tiongkok telah membiayai dan membangun sejumlah infrastruktur, yang membuat India dan AS waspada.

Safari politik Pompeo ini sekaligus sebagai tandingan atas kegiatan yang sama yang dilakukan Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, ke Kamboja, Malaysia, Laos, dan Thailand, awal Oktober 2020.

Sebelum ke Kamboja, Malaysia, Laos, dan Thailand, Wang Yi bertemu dengan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia, Luhut Binsar Pandjaitan, di Kunming, 9 Oktober, dan dengan Menteri Luar Negeri Filipina, Teodoro Locsin, di Kota Tengchong.

Melalui kunjungan Wang Yi itu, Tiongkok ingin mempertegas komitmennya atas pembangunan sejumlah proyek besar di negara-negara yang didatanginya. Proyek-proyek besar yang dibiayai oleh Tiongkok itu, seperti Kereta Api Jakarta–Bandung (Indonesia), East Coast Rail Link (Malaysia), China–Laos Railway, dan Phnom Penh–Sihanoukville Expressway (Kamboja).

Dalam perjalanannya ke Thailand, Wang Yi bahkan menandatangani kontrak untuk kereta api Bangkok–Nakhon Ratchasima sepanjang 252 kilometer yang didanai Tiongkok, bagian dari sistem kereta api Pan–Asian Kunming–Singapura yang lebih luas.

Tiongkok terus melakukan upaya diplomatik untuk menanamkan pengaruhnya di negara-negara Asia Tenggara, melalui pendekatan investasi. Itulah yang menjadi kekhawatiran Washington saat ini.

Kunjungan Pompeo ke Jakarta dilakukan setelah permintaan AS untuk izin pendaratan dan pengisian bahan bakar pesawat pengintai P-8 Poseidon, yang mengawasi aktivitas militer Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan ditolak oleh Indonesia.

Penolakan Indonesia itu tentu bukan tanpa alasan. RI telah lama menerapkan kebijakan luar negeri yang netral dan tidak pernah mengizinkan wilayahnya digunakan untuk operasi militer asing.

Padahal, pejabat AS telah melakukan pendekatan “tingkat tinggi” kepada Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, dan Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto, pada akhir Juli dan awal Agustus lalu.

Pompeo tentu khawatir terhadap Indonesia yang terlihat terlalu dekat dengan Tiongkok, terutama di masa pandemi Covid-19 saat ini. Melalui kunjungan ini, Pompeo mengharapkan dukungan Indonesia kepada AS dalam konflik Laut Tiongkok Selatan.

Itu jugalah sebabnya, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto datang ke Amerika Serikat 15–19 Oktober atas undangan Menteri Pertahanan AS, Mark Esper, untuk membicarakan kerja sama militer kedua negara.

Kunjungan Pompeo AS ke Asia dilakukan kurang dari dua pekan sebelum Pemilu Presiden AS. Pertanyaannya, apa yang dicari Trump dengan mengirimkan Menteri Luar Negerinya ke beberapa negara Asia? Apa misi Menteri Luar Negeri AS dalam kunjungan yang berlangsung di tengah penyebaran pandemi Covid-19?

Ini adalah bagian dari strategi AS dalam menanamkan paham Tiongkokfobia pada negara yang dikujunginya. Paham Tiongkokfobia cenderung meningkat tajam di era Donald Trump. Trump terus mengintensifkan kebijakan Tiongkokfobia dengan fokus pada konfrontasi terhadap Beijing di berbagai bidang. Trump berupaya memobilisasi opini publik Amerika dan dunia, terutama di negara-negara Asia supaya melawan Tiongkok.

Pertemuan para menteri luar negeri aliansi keamanan Quad di Tokyo, Jepang pekan lalu, tentu makin meningkatkan tekanan terhadap Tiongkok. Kunjungan ke Vietnam di akhir safari politik Pompeo semakin menguatkan indikasi bahwa Vietnam cenderung untuk bergabung dengan aliansi Quad Plus.

Tetapi, terlepas dari hasil Pilpres AS 2020 pada November nanti, persaingan kekuatan besar akan tetap ada. Siapa pun yang menang, Trump atau Biden, strategi Indo-Pasifik yang terbuka akan tetap dipertahankan AS. ν

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment