RI Tertinggal Dalam Menggaet Peluang Ekspor | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 27 2021
No Comments
Kinerja Perdagangan

RI Tertinggal Dalam Menggaet Peluang Ekspor

RI Tertinggal Dalam Menggaet Peluang Ekspor

Foto : Sumber: BPS - KJ/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan Indonesia masih tertinggal dibanding dengan negara-ne­gara lain dalam menangkap peluang ekspor. Tertinggalnya Indonesia itu terlihat pada data sebagai salah satu produ­sen terbesar beberapa komoditas, namun dalam peringkat ekspor berada di bawah negara-negara pesaing.

“Saya ambil contoh dalam ekspor kopi, tahun 2019, In­donesia merupakan produsen kopi terbesar keempat dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Namun Indonesia tercatat sebagai eksportir kopi yang ke-8 di dunia, kalah dengan Brasil, Swiss, Jerman, Kolombia, bahkan Vietnam,” kata Presiden dalam keterangan secara daring dari Istana Kepresidenan Bogor, Jumat (4/12).

Dalam acara pelepasan ekspor ke pasar global tahun 2020 itu dilakukan secara pararel di 14 lokasi, seperti Lamongan, Jakarta, dan kota-kota lainnya. Kinerja ekspor kopi, kata Ke­pala Negara, masih kalah dibanding Vietnam dengan nilai ekspor kopinya mencapai 2,22 miliar dollar AS tahun lalu, sedangkan Indonesia hanya 883,12 juta dollar AS.

Bukan hanya kopi, sebagai produsen garmen terbesar ke-8 dunia, Indonesia hanya tercatat sebagai eksportir gar­men ke-22 di dunia. Demikian juga dengan status sebagai produsen terbesar kayu ringan di dunia, termasuk jenis kayu sengon dan jabon, tetapi menjadi eksportir “home décor” ke-19 dunia. “Kita bahkan peringkat 21 untuk eks­por produk furnitur, kalah dengan Vietnam,” kata Jokowi.

RI, kata Presiden, juga dikenal sebagai produsen per­ikanan terbesar ke-2 dunia, namun potret ekspornya juga masih di peringkat ke-13 dunia.

“Ini fakta-fakta yang harus saya sampaikan. Saya meli­hat ketertinggalan tidak harus membuat kita pesimis, tidak ada jalan bagi kita selain melakukan langkah-langkah per­baikan, langkah-langkah pembenahan, diperlukan refor­masi besar-besaran untuk menghadirkan ekosistem ber­usaha bagi eksportir kita,” jelas Presiden.

Tidak Cepat Puas

Kepala Negara mengingatkan agar Kementerian Perda­gangan maupun para pelaku usaha tidak cepat puas terha­dap kinerja ekspor Indonesia pada periode 2020.

“Saya senang membaca laporan bahwa ekspor Indone­sia periode Januari–Oktober 2020 memang surplus 17,07 miliar dollar AS, dari kopi, dari garmen, ‘home decor’, fur­nitur, perikanan, dan makanan-minuman, tapi kita tidak boleh cepat puas terhadap capaian saat ini,” kata Jokowi.

Potensi pasar ekspor, tambah Presiden, masih banyak yang belum tergarap. Apalagi, produk dalam negeri sangat menjanjikan karena memiliki keragaman produk, komo­ditas, dan dari hasil kreativitas yang tinggi. “Kuncinya pro­aktif dan jangan pasif,” ujar Kepala Negara.

Hambatan yang menyebabkan ekspor belum optimal ter­sebut harus dicermati dan dicarikan solusinya. “Regulasi yang rumit, prosedur birokrasi yang menghambat, sudah saya sam­paikan berkali-kali agar segera dipangkas,” kata Presiden.

Sementara itu, Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto, mengatakan acara pelepasan produk ekspor tersebut di­ikuti oleh total 133 perusahaan, terdiri dari 79 perusaha­an kategori non-Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan 54 perusahaan kategori UKM. Total nilai ekspor Indonesia pada Desember 2020 mencapai 1,64 miliar dollar AS atau setara dengan 23,75 triliun rupiah. n ers/E-9

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment