Natal yang Sunyi di Betlehem | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 27 2021
No Comments

Natal yang Sunyi di Betlehem

Natal yang Sunyi di Betlehem

Foto : ISTIMEWA
Suasana di kota Betlehem.
A   A   A   Pengaturan Font

Kota suci Betlehem menjadi tempat yang amat penting bagi umat Kristen. Di sini, pada 2000 tahun yang lalu, menjadi tempat lahir Yesus sebagai sang Juru Selamat. Tidak heran, setiap perayaan Natal tempat ini cukup ramai oleh para peziarah dari berbagai negara.

Namun kali ini, suasana Betlehem cukup berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 telah mengurangi kemeriahan perayaan Natal di kota yang berada di otoritas Palestina ini, meski prosesi perayaannya tetap dilakukan dalam skala terbatas.

Laporan Deutsche Welle (DW) menyebutkan hanya pohon Natal besar yang tampak sebagai pertanda datangnya Natal di alun-alun Mange. Pohon Natal ini tepat berada di depan Church of Nativity yang dipercaya sebagai tempat kelahiran Yesus.

Penduduk lokal tetap ­banyak yang berfoto-foto di tempat ini. Beberapa pedagang menawarkan minuman panas sebagai penghangat tubuh pada Desember yang dingin. Yang hilang dari Bayt Lahm bahasa Arab untuk Betlehem adalah tidak hadirnya turis luar negeri.

Bagi warga khususnya yang menggantungkan hidup dari geliat wisata, 2020 merupakan tahun yang sulit. Israel yang mengendalikan semua pintu masuk ke Tepi Barat untuk mencegah penyebaran Covid-19, sementara pemerintah Palestina memiliki otonomi terbatas di kota-kota itu sepekat mengunci wilayah ini dari wisatawan asing.

Nadeen Baboun dan Christine Najarian yang menjalankan wisata kuliner bernama Farayek mengatakan wisatawan mengunjungi Betlehem salah satunya ingin mencicipi tradisi makanannya di sini. Tetapi sejak Maret 2020, semua tur harus dibatalkan ketika Betlehem menjadi kota pertama di Tepi Barat yang diisolasi oleh otoritas Palestina.

“Sejak awal, kami sudah tahu bahwa akan ada penguncian dan turis tidak diizinkan datang lagi. Situasinya menjadi sangat tidak terduga dan tidak pasti,” kata Nadeen Baboun kepada DW.

Pada awal pandemi, Israel telah menutup perbatasannya untuk orang asing, yang berarti perjalanan ke Wilayah Palestina juga dilarang. Orang-orang Arab Israel dan Palestina dari bagian lain Tepi Barat kebanyakan juga tidak dapat mengunjungi Betlehem untuk musim Natal.

Sementara kedua pengusaha muda itu mengharapkan musim yang lebih baik tahun depan, mereka sekarang hanya fokus untuk menghabiskan Natal dengan aman bersama keluarga mereka. “Kami biasanya datang ke Betlehem pada tanggal 24 untuk merayakan dan keluar untuk makan siang setelahnya,” kata Christine Najarian warga Yerusalem Timur asal Armenia ini.

Dalam beberapa pekan terakhir, tingkat infeksi Covid-19 kembali meningkat dengan jumlah kematian yang meningkat di Tepi Barat dan juga Jalur Gaza. Otoritas Palestina, yang mengelola sebagian Tepi Barat yang diduduki Israel, telah memberlakukan penguncian di beberapa tempat dan memperpanjang jam malam di seluruh wilayah.

Akibatnya, misa tengah malam tradisional pada Malam Natal akan ditutup untuk umum dan akan diperuntukkan khusus bagi otoritas gereja saja. Namun misa ini seperti tahun-tahun sebelumnya tetap dapat disaksikan melalui TV.

Sejak awal pandemi, banyak kegiatan ibadah paroki beralih ke melalui streaming video. Demikian juga mereka yang beraliran Kristen Protestan yang memiliki gereja Protestan Christmas Lutheran Church tidak jauh dari Church of Nativity juga melakukan streaming video.

“Biasanya pada hari Minggu, sebelum Covid-19, gereja kami akan dipadati peziarah dan pengunjung dari seluruh dunia,” kata Pendeta Munther Isaac. “Jelas, ini tidak terjadi sekarang. Jadi, kami memberitahu mereka yang merasa tidak aman untuk tidak datang tetap tinggal di rumah.”

Saat Natal misa akan dijalankan dengan kehadiran sejumlah kecil orang. “Mungkin ada sesuatu yang simbolis dalam semua ini. Yesus lahir di masa-masa sulit,” katanya. “Mungkin ini akan membantu kami menemukan arti sebenarnya dari Natal, jauh dari lingkungan pesta yang biasanya dikenal di Betlehem selama Natal,” lanjut Isaac.

Menurut Fadi Kattan, seorang Palestina yang mengelola restoran dekat alun-alun Manger. “Saya pikir tahun ini, Natal adalah tentang komunitas. Jika ada sesuatu yang kita pelajari karena pandemi, itu adalah memikirkan orang lain, memikirkan tetangga Anda, memikirkan orang yang pernah mengalaminya, orang yang tersesat,” ujar dia.

Ia mengakui dampak dari pembatasan sosial seperti klaustrofobia atau phobia pada tempat tertutup. “Jadi, Anda sudah membatasi gerakan Anda sendiri sebagai tindakan pencegahan dan kemudian pemerintah Palestina membatasi gerakan Anda dengan jam malam dan penutupan akhir pekan dan kemudian Israel membatasi Anda, karena Anda memerlukan izin akses,” ujar dia.

Biasanya, orang Kristen Palestina dari Tepi Barat dan Gaza berharap untuk mendapatkan izin Israel, untuk bepergian dan mengunjungi keluarga dan teman di Israel dan Tepi Barat selama musim perayaan.

Tetapi dengan pembatasan Covid-19 yang melarang sebagian besar pergerakan, Kattan ia berharap orang fokus pada lingkungan terdekat mereka. “Masaklah kaki domba, kirim satu kepada seseorang yang menderita sakit parah, kepada keluarga yang membutuhkan. Karena itulah semangat Natal bagiku,” ujar dia. hay/S-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment