Nasionalisme Vaksin | Koran Jakarta
Koran Jakarta | November 27 2020
No Comments
PERSPEKTIF

Nasionalisme Vaksin

Nasionalisme Vaksin

Foto : ANTARA/ HO-Tim Komunikasi Komite Penanganan Covid-19.
Ketua Pelaksana Komite Penanggulangan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Erick Thohir usai mengadakan koordinasi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (3/9/2020).
A   A   A   Pengaturan Font
Jika kita memiliki vaksin yang efektif, kita juga harus menggunakannya secara efektif. Cara terbaik adalah memvaksinasi beberapa orang di semua negara, bukan semua orang di beberapa negara.

Pandemi Covid-19 hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Pertambahan kasus baru tiap hari sangat fluktuatif meski secara garis besar menunjukkan tren yang selalu meningkat. Sampai 27 Oktober malam, angka positif Covid-19 di seluruh dunia ­mendekati 44 juta jiwa, 1,163 juta jiwa di antaranya meninggal dunia. Untuk nasional, jumlah kasus ada 396 ribu dan yang meninggal dunia 13.512 jiwa.

Lantas pertanyaannya, bagaimana cara dunia menghentikan penyebaran virus SARS Cov-2 yang terus menyerang penduduk bumi yang tak kenal henti ini? Banyak yang berpendapat, satu-satunya cara hanya dengan vaksin.

Namun sampai hari ini, belum ada vaksin yang benar-benar siap digunakan untuk meredam penyebaran Covid-19. Berbagai lembaga dan beberapa negara berlomba menciptakan vaksin yang sangat diharapkan penduduk dunia ini, tetapi prosesnya masih panjang untuk diandalkan ­sebagai penangkal Covid-19.

Lihat saja, dua perusahaan asal AS, Johnson & Johnson dan Eli Lilly and Company, untuk sementara menghentikan uji coba vaksin dengan alasan berbeda. Johnson & Johnson menghentikan uji coba karena salah satu pesertanya mengalami sakit. Sedangkan Eli Lilly and Company ­karena masalah keamanan. Apalagi kabar terbaru di Brasil, seorang sukarelawan dalam uji klinis vaksin Covid-19 yang dikembangkan Astra Zaneca dan Universitas Oxford telah ­meninggal dunia.

Indonesia bergerak cepat dalam pengadaan vaksin. Selain mengembangkan vaksin sendiri, pemerintah telah melakukan finalisasi pembelian vaksin dari tiga perusahaan penghasil vaksin, yaitu Cansino, G42/Sinopharm, dan Sinovac walaupun ketiga vaksin tersebut belum melewati uji klinis fase 3.

Presdien Jokowi menegaskan bahwa kita perlu bergerak cepat mengingat semua negara berlomba-lomba untuk memperoleh vaksin secepat-cepatnya. Semua lagi kejar-kejaran agar warga mereka bisa cepat pulih dan ekonominya bisa bangkit.

Meski demikian, Jokowi memperingatkan agar kita tidak tergesa-gesa ingin vaksinasi sehingga kaidah-kaidah saintifik, data-data sains, standar kesehatan dinomorduakan. Jokowi menegaskan agar vaksin disuntikkan ke masyarakat setelah melalui uji klinis yang benar sehingga bisa efektif menangkal virus Covid-19, serta aman dan tidak menimbulkan efek samping.

Sementara itu, pemerintah Jepang juga sangat berhati-hati dalam pengembangan vaksin. Saat ini, vaksin Covid-19 sedang dalam fase uji coba praklinis. Jepang agak terambat dalam peta persaingan penemuan vaksin global karena mereka menerapkan aturan yang sangat ketat. Mereka khawatir bila terburu-buru, antibodi yang dihasilkan malah membuat virus korona lebih kuat.

Peringatan lebih tegas dikemukakan Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, yang menyerukan pentingnya solidaritas global saat vaksin virus korona telah ditemukan. Satu-satunya cara untuk pulih dari pandemi yaitu menggalang kebersamaan dan menjamin negara-negara miskin mendapatkan akses yang adil terhadap vaksin.

Memang wajar jika negara-negara ingin terlebih dahulu melindungi warganya sendiri. Inilah yang dinamakan Nasionalisme Vaksin, kondisi ketika suatu negara ingin mengamankan stok vaksin demi kepentingan warga negaranya. Padahal, pandemi Covid-19 merupakan wabah yang menginfeksi puluhan juta orang di seluruh dunia.

Ghebreyesus mengatakan Nasionalisme Vaksin akan memperpanjang pandemi, bukan memperpendek. Jika kita memiliki vaksin yang efektif, kita juga harus menggunakannya secara efektif. Jadi, cara terbaik adalah memvaksinasi beberapa orang di semua negara, bukan semua orang di beberapa negara.

Untuk itu, sangat ideal jika semua negara bergabung dalam COVAX (Covid-19 Vaccine Global Access) untuk memastikan akses yang adil dalam distribusi vaksin dan ­juga bekerja sama dalam pengembangan vaksin. Mengingat jumlah vaksin yang terbatas, sangat penting untuk memberikan vaksin kepada mereka yang berisiko tertinggi di ­seluruh ­dunia. ν

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment