Musisi Samba Beradaptasi untuk Hidupkan Kembali Keceriaan di Brasil | Koran Jakarta
Koran Jakarta | November 27 2020
No Comments

Musisi Samba Beradaptasi untuk Hidupkan Kembali Keceriaan di Brasil

Musisi Samba Beradaptasi untuk Hidupkan Kembali Keceriaan di Brasil

Foto : AFP/MAURO PIMENTEL
Pertunjukan Musik Samba - Musisi musik Samba dari Brasil, Moacyr Luz (tengah), bersama grup Samba do Trabalhador sedang menghibur penonton di klub Renascenca di Kota Rio de Janeiro, pada Senin (26/10) lalu. Grup musiknya harus beradaptasi demi kelangsungan dan kelestarian genre musik ini, serta untuk menghidupkan kembali kebahagiaan yang hilang di Brasil akibat terjadinya pandemi.
A   A   A   Pengaturan Font

Ada banyak hal menarik yang terjadi di Kota Rio de Janeiro, Brasil, yang salah satunya adalah pertunjukan musik samba yang amat dicintai warga setempat. Setiap pemunculan pertunjukan musik dimana para musisinya duduk melingkar untuk memperdengarkan irama samba secara bersama (roda de samba), acap kali warga muncul mengelilingi mereka berdesak-desakan untuk bersuka ria sembari menenggak bir.

Namun dengan munculnya pandemi virus korona telah memaksa para musisi untuk beradaptasi demi kelestarian tradisi genre musik ini serta untuk menghidupkan kembali kebahagiaan yang hilang di Brasil akibat terjadinya pandemi.

“Kami  tak lagi duduk secara melingkar, namun bermain musik di panggung dihadapan para para pendengar,” ucap Moacyr Luz, 62 tahun, pendiri grup musisi Samba do Trabalhador.

Selama 15 tahun saat pandemi belum terjadi, setiap Senin malam grup Samba do Trabalhador kerap menggelar roda de samba.

Menurut Luz, adaptasi bermain musik samba tanpa kehadiran kerumunan warga bagaikan seorang pesepak bola mencetak gol namun tanpa disertai selebrasi. “Rasanya tak alami. Tapi apa boleh buat karena kita saat ini hidup dalam era transformasi dan semua orang harus beradaptasi,” ucap Luz yang juga merupakan vokalis utama untuk grup Samba do Trabalhador.

Luz dan grup bandnya baru kali ini tampil dihadapan khalayak setelah selama 7 bulan tak manggung karena terjadinya pandemi. Kali ini mereka bisa tampil kembali di sebuah klub malam Renascenca yang amat terkenal di sebelah utara Rio de Janeiro.

Bunyi dentuman gitar mini "cavaquinho", drum "cuica", dan tamborin ternyata masih mengguncang penonton. Tapi para tamu di klub itu bisa dikatakan amat sedikit karena ada aturan pembatasan penjualan tiket masuk agar aturan jaga jarak sosial bisa diterapkan. Padahal saat pandemi belum terjadi, setiap kali grup Samba do Trabalhador tampil selalu dipenuhi oleh lebih dari 1.500 penonton.

Penjualan 300 tiket secara terbatas untuk sekali pertunjukan yang ditawarkan secara daring, ludes dalam hitungan menit. Setiap pengunjung sebelum masuk ke klub diperiksa suhu tubuhnya dan mereka diwajibkan mengenakan masker.

“Dulu pengunjung terbiasa berkerumun di sekeliling para musisi. Kini rasanya kita kehilangan rasa kedekatan dan kehangatan dari roda de samba, perasaan saat kita bermain musik untuk mereka,” kata Dalia Melo, 42 tahun, seorang pengunjung yang datang untuk menyaksikan irama samba dengan suaminya. “Namun yang terpenting, irama samba kini telah kembali bergaung,” imbuh dia.

 

Dampak Pandemi

Bisnis hiburan malam di Rio de Janeiro amat terpukul akibat terjadinya pandemi. Saat wabah infeksi virus itu terjadi, otoritas lokal segera menerapkan penutupan (lockdown) di kota dengan populasi sebanyak 7 juta orang itu pada Maret lalu.

Pertunjukan musik hidup merupakan satu-satunya pertunjukan hiburan yang diperbolehkan ditampilkan, namun pengunjung tak diperbolehkan untuk berdansa dan jumlah pengunjung dibatasi setengahnya saja  

Namun pembatasan itu tak menghentikan penonton untuk menyanyikan lagu-lagu yang ditampilkan oleh Luz. Bagi penggila musik samba, iramanya memiliki efek yang menyembuhkan jiwa dan raga.

"Samba adalah bagian dari budaya Brasil. Ini terkait dengan begitu banyak hal baik seperti persatuan masyarakat yang merupakan kelanjutan dari tradisi lainnya, serta membawa kebahagiaan yang tak," komentar penggemar irama samba bernama Cristina Barreto. “Menyaksikan semua ini di sini adalah masalah kesehatan mental. Budaya ini memberi makan jiwa dan memberi Anda kekuatan untuk terus menghadapi semua ini," imbuh dia.

Bagi Luz, terjadinya pandemi tak membuatnya surut untuk hadir bagi penggemar walau wabah juga telah menyebabkan salah satu anggota grup bandnya meninggal karena virus korona.

Luz juga berharap bahwa pandemi ini segera berakhir dan situasi kembali normal dimana ia bisa menghibur warga dengan ada kedekatan tanpa ada rasa ketakutan. “Saya sudah tak sabar lagi menantikan hal itu terjadi,” pungkas Luz. AFP/I-1

 

 

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment