Momentum untuk Lakukan Substitusi Barang Impor | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 5 2020
No Comments
Surplus NPI | Neraca Transaksi Berjalan Maupun Transaksi Modal dan Finansial Juga Surplus

Momentum untuk Lakukan Substitusi Barang Impor

Momentum untuk Lakukan Substitusi Barang Impor

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

>> Cadangan devisa tercatat 135,2 miliar dollar AS atau setara dengan pembiayaan 9,1 bulan impor dan pembayaran utang pemerintah.

>> Secara umum, surplus NPI akan mendorong kurs rupiah menguat, tetapi harus dijaga agar tidak menyebabkan ekspor kurang kompetitif.

JAKARTA – Neraca Pembayaran In­donesia (NPI) pada triwulan III-2020 kembali mencatat surplus 2,1 miliar dol­lar AS sehingga menopang ketahanan eksternal Indonesia. Surplus tersebut melanjutkan capaian surplus 9,2 miliar dollar AS pada triwulan sebelumnya.

Surplus NPI yang berlanjut itu didu­kung oleh surplus transaksi berjalan maupun transaksi modal dan finansial. Sejalan dengan itu, posisi cadangan devisa pada akhir September 2020 me­ningkat menjadi 135,2 miliar dollar AS atau setara dengan pembiayaan 9,1 bu­lan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional.

Direktur Eksekutif Departemen Ko­munikasi Bank Indonesia (BI), Onny Widjanarko, di Jakarta, Jumat (20/11), mengatakan surplus transaksi berjalan pada triwulan III-2020 ditopang oleh pe­ningkatan surplus neraca barang.

“Pada triwulan III-2020, transaksi berjalan mencatat surplus sebesar 1,0 miliar dollar AS atau 0,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), setelah pada triwulan sebelumnya mencatat de­fisit sebesar 2,9 miliar dollar AS atau 1,2 persen dari PDB,” kata Onny.

Menurut Onny, surplus transaksi berjalan ditopang oleh surplus neraca barang seiring dengan perbaikan kiner­ja ekspor di tengah masih tertahannya kegiatan impor sejalan dengan permin­taan domestik yang belum kuat.

Sementara itu, defisit neraca jasa meningkat dipengaruhi oleh peningkat­an defisit jasa perjalanan karena kun­jungan wisatawan mancanegara yang masih rendah, serta peningkatan defisit jasa lainnya, seperti jasa telekomuni­kasi, komputer, dan informasi seiring peningkatan impor jasa untuk kebutuh­an penunjang aktivitas masyarakat yang lebih banyak dilakukan secara daring selama pandemi Covid-19.

“Sedangkan defisit neraca penda­patan primer meningkat, terutama di­dorong oleh pembayaran imbal hasil atas investasi langsung yang mening­kat,” kata Onny.

Untuk transaksi modal dan finansial pada triwulan III-2020 mencatat sur­plus, di tengah penyesuaian aliran mo­dal karena meningkatnya ketidakpasti­an pasar keuangan global.

Menanggapi tren positif tersebut, Pengamat Ekonomi dari Universitas In­ternasional Semen Indonesia (UISI), Surabaya, Leo Herlambang, mengata­kan tren positif tersebut harus diper­tahankan dengan baik karena memberi sinyal akan penguatan kurs rupiah.

Selain itu, juga menjadi momentum untuk terus mengendalikan impor ba­rang dan jasa serta memperkuat pasokan produksi dalam negeri agar mampu mensubstitusi barang-barang impor yang selama ini membanjiri pasar.

Surplus, tambah Leo, juga dipacu oleh sentimen positif investor atas ha­sil Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS). Setelah Joe Biden dinyatakan ung­gul, para pelaku pasar memperkirakan aliran dana asing akan masuk kembali ke negara emerging market.

“Pengaruhnya terhadap kurs, se­cara umum nilai tukar akan menguat, namun pemerintah perlu mewaspdai keadaan ini agar jangan sampai meng­ganggu ekspor. Perlu diingat, tren ini disebabkan pembalikan arah informasi karena selama ini persepsi pasar dengan kekuasaan ada di Trump adalah kebijak­an dollar kuat,” kata Leo.

Pengaruhi Ekspor

Kondisi saat ini, kata Leo, sebenarnya secara umum memang menguntungkan kurs rupiah yang cenderung menguat karena suplai valas dalam negeri sur­plus. Namun demikian, harus diingat, kalau penguatan terlalu tajam akan ber­pengaruh daya saing (competitiveness) ekspor nasional.

“Patokan pemerintah kurs rupiah berada pada level 14.600 per dollar AS, ternyata meleset 14.000. Ini akan me­nyulitkan eksportir memprediksi pene­rimaan. Sebenarnya uang masuk tidak apa-apa, tapi jangan terlalu kuat agar eksportir kita tidak rugi,” kata Leo.

Sementara kalau mereka ingin hedg­ing atau melakukan transaksi lindung nilai konsekuensinya tetap ada biaya tambahan.

“Sebab itu, pemerintah harus mencari cara agar ekspor bisa tetap bertahan de­ngan insentif pengurangan pajak ekspor dan lainnya. Apalagi para pelaku ekspor adalah pahlawan yang sebenarnya da­lam krisis pandemi seperti ini, harus di­beri dukungan,” pungkasnya. SB/E-9

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment