Logika Bengkok Aksi di Katedral Nice | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 1 2020
No Comments
PERSPEKTIF

Logika Bengkok Aksi di Katedral Nice

Logika Bengkok Aksi di Katedral Nice

Foto : Antara/Reuters.
Ilustrasi - Petugas keamanan Prancis bersiaga pasca serangan teror di Nice, Prancis selatan.
A   A   A   Pengaturan Font
Apa pun yang dibela pelaku, jelas langkah yang dilakukan orang bernama Brahim tersebut bukan han-ya keliru, menyimpang, atau tidak bisa dipahami, tetapi sebagai cara berpikir yang menggunakan logika bengkok.

Belum genap sebulan, tindakan brutal dan kejam ­yang menimpa seorang guru, Samuel Paty, di dekat Paris, Prancis, kejahatan tersebut terulang. Bahkan, kebiadaban kali ini lebih menyedihkan karena dilakukan terhadap tiga orang yang tengah berdoa di dalam gereja.

Lepas dari latar belakang dan apa pun motifnya, tindakan memenggal adalah tindakan tidak waras, gila, dan irasional. Lebih menyedihkan karena kebrutalan tersebut dilakukan di dalam tempat suci. Juga, apalagi, pembunuhan dilakukan pada orang-orang yang tengah berdoa.

Apa pun yang dibela pelaku, jelas langkah yang dilakukan orang bernama Brahim tersebut bukan hanya keliru, menyimpang, atau tidak bisa dipahami, tetapi sebagai cara berpikir ­yang menggunakan logika bengkok. Logika bengkok karena tindakan orang lain yang dianggap keliru dibalas dengan kejahatan. Bahkan itu ditimpakan kepada orang-orang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan - katakan tindakan ­guru Samuel Paty.

Seluruh kemanusiaan mengecam tindakan terorisme sekejam itu. Mengapa ada orang sekeji tersebut? Itu terjadi karena yaitu tadi, pelaku menggunakan logika bengkok. Tidak ada agama yang mengajarkan pembunuhan. Tindakan Brahim tersebut adalah penyimpangan hidup.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengatakan negaranya diserang ekstremisme. Pelaku menggunakan pisau dalam mengeksekusi memenggal kepala seorang wanita dan membunuh dua orang lainnya di Katedral Nice, Kamis (29/10).

Ini boleh dikata kecolongan kedua kali bagi Prancis dalam sebulan. Untuk itu, pantas bila Macron mengerahkan 4.000–7.000 militer dan membuat Prancis dalam kondisi level keamanan tertinggi. Pemerintah Prancis juga telah menetapkan status darurat ke level tertinggi.

Terkait tersangka sendiri, polisi mengidentifikasinya bernama Brahim Aouissaoui (21), seorang migran Tunisia yang belum lama masuk Prancis dari Italia. Serangan tersebut diduga lanjutan kebengisan terhadap guru Samuel Paty. Dia menjadi sasaran karena diduga memperlihatkan kartun Nabi Muhammad kepada siswanya di dalam kelas.

Prancis cukup sering diteror beberapa tahun belakangan, di antaranya pengeboman dan penembakan di Paris, lima tahun lalu. Saat itu, korban tewas mencapai 130 orang. Bahkan di Nice, tahun 2016, juga terjadi serangan teroris. Ini benar-benar kekejaman kejatahan antikemanusiaan. Betapa tidak, penjahat menerjang kerumunan menggunakan truk saat warga merayakan Hari Bastille. Tidak kurang dari 86 orang tewas dalam serangan truk tersebut.

Dunia mengecam serangan teroris ini. Kecaman datang dari Inggris, Belanda, Italia, Spanyol, dan Arab Saudi. Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, meyakinkan bahwa Australia bersama Prancis. “Tindakan barbarisme tersebut paling kejam dan dilakukan seorang pengecut. Terorisme ini harus dikutuk secara sekuat mungkin,” kata Morrisons.

Masyarakat global bersatu melawan terorisme yang merupakan tindakan pengecut. Brahim adalah pria paing pengecut, memalukan, dan banci. Dia menyerang seorang wanita tua. Menyerang wanita tua yang lemah adalah tindakan amat memalukan. Sebab orang tua seperti itu semestinya justru dilindungi.

Wanita tersebut sama sekali tidak tahu urusan Brahim yang melampiaskan kekesalan atau kemarahan. Betapa besar dosa orang tidak beradab ini karena membunuh wanita sederhana yang tengah berkomunikasi (doa) dengan Tuhan. Mungkin dia merasa bangga bisa membunuh orang-orang tersebut. Padahal itu tindakan konyol yang sangat merendahkan martabatnya.

Kalau dia orang beragama, apa pun agamanya, tidak mungkin bisa melakukan kekejihan seperti itu. Sebab tidak ada agama di mana pun mengajarkan pembunuhan. Apa yang dia pelajari selama hidup sehingga mampu melakukan tindakan barbar seperti itu. Sudah sepantasnya, aparat menghukum ­sekeras mungkin manusia seperti itu.

Marilah kita berkontribusi bagi perbaikan hubungan antarmanusia agar kita bisa menjadi contoh pembawa damai, bukan pembawa teror. Tinggalkan sikap merasa paling benar sendiri karena mental seperti ini hanya akan melahirkan teroris-teroris baru. ν

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment