Kurangi Dampak Buruk Gawai dengan Detoks Digital | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 27 2021
No Comments

Kurangi Dampak Buruk Gawai dengan Detoks Digital

Kurangi Dampak Buruk Gawai dengan Detoks Digital
A   A   A   Pengaturan Font
Perangkat digital telah mendorong masuk dalam dunia teknologi. Ponsel, tablet, laptop, komputer, atau TV pintar memang sangat memudahkan. Namun demikian ada dampak buruk dalam penggunaan berlebihan.

 

 

Untuk menjauhkan dari stres karena begitu kecanduan, seseorang  perlu melakukan detoks digital (digital detox). Digital detox merupakan periode waktu seseorang tidak menggunakan perangkat teknologi tersebut, termasuk juga media sosial dan berbagai aplikasi di dalamnya. Lalu bagaimana caranya detoks digital? Berikut cara yang bisa dipilih.

 

Membuat Aturan dan Rencana

Seorang profesor psikologi di San Diego State University, Jean Twenge, mengatakan, masyarakat perlu menghentikan sejenak dari paparan layar digital. Mereka bisa membuat tujuan, aturan, dan batasan tertentu agar tidak kebablasan.

“Ada banyak hal hebat untuk dilakukan secara online. Tetapi moderasi sering kali merupakan aturan terbaik dalam hidup dan tidak ada bedanya dalam layar,” ujar penulis buku IGen. Buku berisi tentang generasi muda yang tumbun di era ponsel pintar seperti dikutip New York Times.

Twenge mengatakan, terlalu banyak waktu di depan layar dapat merusak kesehatan mental. Juga membuat kurang tidur dan mengganggu tugas-tugas produktif. Apalagi di tengah pandemic, kesempatan untuk melihat gawai semakin tinggi dari tiga 3,5 jam menjadi hampir dua kali lipatnya.

Membuat rencana merupakan salah satu cara yang perlu dilakukan. Paparan gawai tidak sepenuhnya salah apalagi untuk sekolah daring. Yang perlu dilakukan menentukan kapan gawai menjadi beracun dan membuat penggunanya tidak bahagia.

Langkah kedua, membuat rencana realistis untuk meminimalkan konsumsi konten yang buruk. Batasi hanya 20 menit sehari untuk membaca berita. Jika itu terasa bisa dilakukan, persingkat batas waktu dan jadikan itu tujuan harian, lalu mengulanginya.

Menurut Adam Gazzaley, dokter ahli saraf dan salah satu penulis buku Pikiran yang Terganggu: Otak Kuno di Dunia Teknologi Tinggi merekomendasikan pembuatan jadwal di kalender waktu menjelajahi web. Kemudian istirahat untuk membantu menciptakan struktur.

Misalnya, membaca berita pukul 08.00 dan 20 menit pada pukul 13.00. Jika sedang berolah raga, jangan sampai menelepon. Ini akan mengganggu waktu menciptakan kebugaran. “Tidak semua jeda diciptakan sama,” kata Gazzaley. “Jika Anda beristirahat dan masuk ke media sosial atau program berita, akan sulit untuk keluar dari lubang kelinci itu,” tambahnya.

 

Zona Tanpa Ponsel

Twenge menyarankan agar menjauhkan ponsel dari tempat tidur, bahkan saat dilakukan isi daya. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang menyimpan telepon di kamar, tidur tidak bisa nyenyak.

 “Saran No 1 saya, jangan ada telepon di kamar tidur malam hari. Ini untuk orang dewasa dan remaja,” kata Twenge. “Cas baterai di luar kamar tidur,” tandasnya.

Selain di kamar tidur,  Zona Tanpa Ponsel bisa diterapkan di meja makan. Di sini keluarga dapat menikmati kebersamaan, setidaknya selama 30 menit guna meningkatkan keakraban antaranggota.

 

Bebaskan dari Ketegantungan

Teknologi digital dirancang membuat orang tetap terpaku pada layar. Aplikasi Facebook dan Twitter, misalnya, menciptakan notifikasi pembaruan agar pengguna selalu menelusuri pembaruan tanpa henti. Ini akan membuat waktu seoalah habis.

Adam Alter, profesor pemasaran di Stern School of Business Universitas New York dan penulis buku Irresistible: The Rise of Addictive Technology and the Business of Keeping Us Hooked mengatakan, perusahaan teknologi menggunakan teknik psikologi perilaku agar warga kecanduan produk mereka.

YouTube secara otomatis memutar video rekomendasi berikutnya. Belum lagi pengguliran Facebook dan Twitter yang tidak pernah berakhir. “Salah satu hal terbesar yang telah dilakukan perusahaan teknologi adalah menghapus isyarat berhenti,” ungkap Alter.

Pada permulaan yang perlu dilakukan, mematikan notifikasi untuk semua aplikasi, kecuali yang penting untuk pekerjaan, namun tidak bagi anggota keluarga. Jika merasa sangat kecanduan, lakukan tindakan ekstrem dengan mengalihkan ponsel ke mode skala abu-abu (grayscale).

Pengguna media sosial sering memikirkan jumlah like dari status. Padahal ini tidak penting. “Perbedaan antara mendapat 10 dan 20 like, tidak ada artinya,” kata Dr Alter. hay/G-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment